oleh

Zakat Fitrah dapat Dilakukan Secara Online

SORONG-Sebagai umat Islam, pembayaran zakat fitrah wajib hukumnya di bulan Ramadan, meskipun saat ini tengah terjadi wabah Corona Virus Disease-2019 (Covid-19), pembayaran zakat fitrah dapat dilakukan secara online dengan cara ditransfer.

“Di tengah Covid-19 ini, pembayaran zakat bisa dilakukan secara online,” terang Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Sorong, Agung Sibela, S.Ag kepada Radar Sorong. 

Dijelaskannya, Unit Pengumpulan Zakat (UPZ) yang tersebar pada hampir 140 masjid dan musala menyediakan posko penerimaan pembayaran zakat, selain itu ada pula kontak person yang diberikan untuk pembayaran zakat secara online.

“Ada kontak person yang bisa dihubungi lebih dulu di setiap UPZ, lalu bisa dilakukan perhitungan lebih dulu, setelah itu ditransfer. Perhitungan bisa dilakukan sendiri, seperti zakat maal, karena sudah ada kisi-kisi yang diberikan,” terangnya. 

Adapun penerimaan pembayaran zakat yang masih dibuka pada masing-masing UPZ, menurutnya disesuaikan dengan kondisi yang ada saat ini. Dimana, orang-orang yang berdekatan dengan UPZ dapat membayar zakat secara langsung namun dengan mematuhi protokol yang ada, untuk menghindari penyebaran Covid-19. 

Namun, ia lebih mengimbau agar masyarakat dapat melakukan pembayaran zakat secara online, dimana niatnya dibacakan sendiri oleh masyarakat yang akan membayar zakat dan melaporkan ketika sudah melakukan transfer. 

“Tapi, memang masih banyak masyarakat yang memilih untuk datang ke UPZ, karena banyak yang ingin mendengar langsung doanya, karena kalau transfer tidak didoakan,” ucapnya. 

Selain menerima, UPZ juga diberikan kewenangan untuk mendistribusikan langsung zakat yang telah diterima kepada 8 asnaf penerima zakat tersebut. Saat ini, pendistribusian telah dilakukan lebih awal bahkan diawal puasa yang tujuannya untuk membantu masyarakat yang berdampak Covid-19. 

“Penerima Zakat yakni 8 asnaf, tapi dalam pembahasannya sesuai kondisi lapangan, misalnya muallaf dan janda berhak menerima, namun, seperti muallaf yang justru telah mampu dan ikut memberi, sehingga tidak mau menerima zakat,” terangnya. 

Agung Sibela sendiri menyarankan agar masyarakat mempercayakan UPZ untuk mengumpulkan zakat tersebut dan mendistribusikannya, untuk menghindari terjadinya penumpukan pemberian zakat.

“Karena kalau di Baznas sudah ada data yang dikumpulkan,” ucapnya. 

Dijelaskan pula, pembayaran zakat fitrah dan zakat maal berbeda, untuk zakat fitrah sendiri berkaitan dengan diri sendiri, dimana nilai pembayarannya sudah ditetapkan yakni, 2,5 Kg beras yang apabila dikonveksikan ke uang, nilainya bervariasi, sesuai dengan harga beras yang dikonsumsi. 

“Misalnya beras bulog, harganya dikalikan dengan standar di pasaran, dari Baznas menetapkan 28 ribu kalau diuangkan untuk 2.5 Kg, untuk kualitas lebih baik dari beras bulog juga ada yang 30 sampai 35 ribu,” terangnya. 

Sementara untuk zakat maal yang berurusan dengan usaha dan harta benda yang berkembang. Adapun pemberian zakat maal tersebut lebih difokuskan pada peningkatan pribadi dari yang menerima tersebut, jika menerima zakat tahun ini, maka tahun depan dapat memberi zakat. 

“Makanya disetiap UPZ ada skala prioritas yang menerima, tidak perlu banyak, misalnya ada 3 orang, maka diberikan tahun ini namun tahun berikutnya harus masuk dalam daftar pemberi zakat,” terangnya. 

Dengan begitu diharapkan dapat terbantu melalui zakat maal tersebut, sehingga merubah kehidupan dan dapat membantu masyarakat yang lain yang juga membutuhkan.(nam)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed