oleh

Warga Butuh Pelatihan Tanggap Bencana

-Metro-58 views

SORONG-Kondisi Kota Sorong saat terjadinya hujan ekstrem pada bulan Juli dan Agustus 2020 kemarin menimbulkan bencana banjir dan longsor yang mengakibatkan beberapa korban meninggal dunia akibat banjir maupun tanah longsor. Oleh kaena itu, perlunya pembinaan serta pelatihan dan edukasi kepada masyarakat untuk menjaga lingkungan agar tetap bersih.

Kegiatan yang dikemas dalam Gerakan Brigade Tangguh Bencana (Gabus) dan Gerakan Masyarakat Sadar Bencana (Germas) ini melibatkan masyarakat dari 3 distrik yang terdampak bencana di bulan Juli dan Agustus 2020 lalu, yakni Distrik Manoi, Sorong Kota dan Distrik Malaisimsa. 

Kegiatan ini  merupakan aktualisasi aksi perubahan dari Pelatihan Kepemimpinan Administrator angkatan ke II PPSDM Kemendagri Regional tahun 2020, yang dilaksanakan dengan menerapkan protocol kesehatan seperti menggunakan masker dan menjaga jarak.

Kabid Darurat dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sorong, Jhosua Homer menjelaskan ia menyadari dari sisi OPD teknis khususnya peralatan maupun sumber daya manusia pihaknya sangat terbatas sehingga ia merekrut pihak kelurahan dan masyarakat guna mengagas ide Gabus dan Germas tersebut.

“Kami rekrut mereka untuk dibina dan dilatih dalam kegiatan simulasi dengan memberikan pemahaman kepada mereka sehingga ketika mereka kembali ke lingkungan masing-masing, mereka akan menjadi pelopor untuk mengedukasi kepada masyarakat agar menjaga dan mengelola lingkungan dengan sebaik mungkin,”jelasnya kepada awak media, Senis (16/11).

Sebab, sambung Jhosua selama ini perilaku oknum masyarakat yang menebang pohon, buang sampah sembarangan kemudian mengelola galian C secara tidak bijak sehingga mengakibatkan banjir dan tanah longsor. Oleh sebab itu, guna mengurangi resiko bencana perlu adanya relawan dari masyarakat sendiri untuk membangun pemikiran masyarakat lainnya dalam hal pengurangan resiko banjir.

“Yah, seperti mengjaga lingkungan dan melakukan pembersihan serta edukasi kepada masyarakat,”ujarnya.

Palatihan ini, tambahnya sangat penting bagi pengetahuan masyarakat meskipun saat ini tidak ada bencana, namun sebagai bentuk antispasi apabila tidak diminta-minta ada kondisi darurat bencana maka masyarakat yang mendapatkan pelatihan ini akan melakukan upaya pertolongan awal sambil menunggu dinas terkait. Jhosua menambahkan, ini pelatihan jangka pendek sehingga baru melibatkan masyarakat dari 3 distrik saja.

“Nanti tahun 2021 kami akan buat pelatihan janga panjang yang melibatkan 7 distrik lagi sehingga tim kami akan ada di 10 distrik dan 41 kelurahan. Karena, kami menyiapkan tenaga-tenaga tangguh untuk menghadapi bencana, karena intinya peran serta dalam bencana bukan hanya tugas BPBD saja namun tugas bersama. Sehingga, kapapun terjadi bencana masyarakat tidak perlu panik namun bisa diolah dengan baik.,”pungkasnya. (juh)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed