oleh

Wali Kota: Semua Harus Patuhi PKPM

-Metro-106 views

SORONG-Surat Edaran Wali Kota Sorong nomor 443/552 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berbasis mikro yang berisi 20 ini diantaranya pada poin kesembilan menyebutkan pembatasan kegiatan keagamaan di wilayah Kota Sorong. pelaksanaan ibadah di gereja, pura, vihara, klenteng dan di masjid serta tempat umum lainnya yang difungsikan sebagai tempat ibadah ditutup selama 14 hari.

Namun, MUI Kota Sorong tidak setuju jika tempat ibadah ditutup dalam masa berlaku PPKM. Kegiatan ibadah di musala dan masjid tetap dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan. Hal tersebut dikatakan Ketua MUI Kota Sorong, Abdul Manan Fakaubun. “Tempat ibadah tidak boleh tutup. Masa’ tempat ibadah ditutup, nanti Tuhan murka dan murka Tuhan lebih dahsyat lagi. Saya ke pasar melihat kerumunan orang, mereka saja tidak memakai masker,” katanya kepada Radar Sorong, Kamsi (8/7).

PMB OPBJJ-UT Sorong

Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Sorong, Drs.Ec.Lambert Jitmau,MM mengatakan bahwa semua daerah sama dan dari pusat juga sama. “Saya seorang diri tidak boleh mengambil kebijakan yang bertentangan dari kebijakan dari pusat atau dari atas. Nanti apa kata pemimpin saya atau orang tua saya di atas, hanya itu saja. Yang mereka pikir sama dengan yang saya pikir, di sisi lain Kita melihat itu dan saya punya pertimbangan juga bahwa ini hanya 14 hari,” katanya.

“Orang beribadah, kalau dari muslim saya tidak tahu. Tapi kalau kami di gereja itu dimana saja kami berkumpul berdoa 2 atau 3 orang menyebut nama Tuhan pasti Tuhan hadir. Jangan berpikir rajin masuk ke gereja itu selamat. Mohon maaf kepada yang lain, karena ini hanya 2 minggu saja tetapi waktu sudah dilewati jadi tinggal berapa hari lagi surat edaran itu masa berlakunya habis. Nanti kita tinjau kembali,” sambung wali kota.

Wali kota yang murah senyum itu memohon maaf kepada pimpinan dominasi umat beragama karena jika ia mengambil keputusan yang berbeda sendiri di kota ini, padahal tengok kiri-kanan semua sudah sama aturan sama dari pusat hingga ke daerah.

“Daripada saya agak bengkok, saya tegak lurus sesuaikan teman-teman yang lain (kabupaten di Sorong Raya) saja. Yaitu dengan pertimbangan tadi, 2 minggu tidak lama kok. Saya ini kan 2 minggu tidak beribadah di gereja tapi di tempat-tempat atau rumah keluarga itu kan pasti ibadah. Di gereja juga bisa 5 atau 10 orang kah. Itu urusannya yang di dalam. Jadi kita tidak terlalu ikut intervensi. Tapi surat edaran saya sudah sampaikan. Itu saja. Semua harus patuhi itu. Supaya kita senada untuk memberikan dukungan kepada pak gubernur punya surat edaran itu. Daripada pak gubernur maksud lain dan saya punya lain, nanti bagaimana?. Secara vertikal kami daerah tingkat 2, dan pak gubernur sebagai orang tua untuk kami,” pungkasnya.(zia)   

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed