oleh

Vetiver Solusi Jangka Pendek Atasi Longsor dan Banjir

-Metro-105 views

SORONG – Kepala Dinas Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Kota Sorong, Julian Kelly Kambu,ST,MSi mengatakan, berdasarkan pemantauan pihaknya dengan menggunakan drone, banyak kawasan di hulu sungai dan gunung sudah gundul, bahkan hutan lindung pun ada titik-titik yang sudah gundul. “Mulai dari Malanu, belakang Korem, Worot gunung, HBM gunung dan lainnya, banyak titik-titik yang sudah gundul, harus dilakukan reboisasi,” kata Kelly Kambu kepada Radar Sorong, kemarin.

Dikatakannya, salah satu tanaman yang direkomendasikan Bapak Presiden Joko Widodo untuk meminimalisir longsor dan banjir yakni tanaman rumput vetiver karena lebih cepat tumbuh merambat, akarnya sampai, mengikat partikel tanah sekaligus menyuburkan tanah, rumputnya bisa untuk pakan ternak. Pembibitan skala besar rumput vetiver ada di Solo dan Garut. 

Kelly mengakui pihaknya sangat minim dan terbatas untuk mendatangkan tanaman penghijauan dalam jumlah banyak.  “Untuk jangka pendek, salah satu solusi mengatasi longsor dan banjir ya dengan tanaman rumput vetiver ini. Kami kesulitan mendatangkan bibit vetiver dalam jumlah banyak, sehingga kami berharap mungkin ada partisipasi dan kolaborasi dari BUMN atau BUMD dan perusaahaan swasta lainnya dalam program CSR-nya untuk membantu pengadaan bibit rumput vetiver guna melakukan reboisasi kawasan-kawasan hutan yang sudah gundul,” kata Kambu Kambu sembari menambahkan, solusi longsor dan banjir untuk jangka panjang, rumput vetiver atau akar wangi ini bisa dikombinasikan dengan tanaman penghijauan lainnya seperti sengon, tanaman lamtoro ataupun tanaman buah. 

Dukungan, kolaborasi dan partisipasi terutama dalam program CSR perusahaan-perusahaan yang ada di Kota Sorong ini sangat diharapkan. “Dari perusahaan-perusahaan kalau menyumbang sedikit-sedikit kan pasti bisa, agar kita bisa melakukan aksi reboisasi dalam skala jangka pendek, menengah dan panjang serta berkelanjutan, karena kawasan gundul di gunung-gunung ini sangat mengiriskan. Bagi kami orang lingkungan ini sudah stadium 3, kalau tidak diatasi maka ke depan akan terjadi bencana luar biasa. Kalau kawasan gundul di gunung ini tidak bisa kita atasi dengan baik, maka berapapun miliar dan dolar yang kita investasikan di kota ini, bisa terhapus dalam sekejap,” tandasnya.

Selain penghijauan, juga harus ada masterplan drainase dan harus dibuat beberapa kanal di Kota Sorong ini untuk meminimalisir banjir. “Misalnya dari Km 10 Kampung Bagus, harus ada kanal sampai di jembatan Km 10, resikonya harus ada ganti rugi karena mau tidak mau ada rumah yang dibongkar. Demikian juga dengan dari Malanu sampai tengah kota untuk mengalirkan air dari Malanu ke laut, kemudian mungkin di Sorpus, di Kampung Baru,” ucapnya. 

Menurut Kelly, permasalahan banjir dan longsor yang terjadi di Kota Sorong tidak bisa diselesaikan sendiri oleh pemerintah, harus ada kolaborasi dan partisipasi dari seluruh stakeholder lintas pemerintah, TNI-Polri, BUMN/BUMD, perusahaan swasta dan masyarakat.  “Semua harus berpartisipasi saling menopang guna mengatasi permasalahan banjir dan longsor di Kota Sorong khususnya dalam jangka pendek seperti mungkin pengerukan bisa juga dari perusahaan menyumbang eskavator, karena diakui bahwa pemerintah kota punya eskavator hanya 2 unit, sementara titik-titik yang butuh pengerukan kan banyak,” imbuh Kelly. (ian)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed