oleh

Upwelling, Ribuan Ikan Muncul ke Permukaan

Warga Tidak Takut, Ikan Dibagi-bagi ke Keluarga 

SORONG – Fenomena kemunculan ribuan ikan Lemuru dan berlompatan di permukaan Kali Rufei Kota Sorong pada Senin (26/4) sore, membuat kehebohan di tengah-tengah masyarakat. Pasalnya, ikan Lemuru tersebut hidupnya di tengah laut (Air Asin). Kemunculan ikan tersebut juga menjadi pertanyaan masyarakat bahkan beberapa masyarakat berspekulasi dan menghubungkannya dengan akan terjadinya bencana dikarenakan ikan telah muncul ke permukaan dalam jumlah banyak.

Ternyata, spekulasi akan terjadinya bencana tidak benar adanya, karena penyebab mati massalnya ikan ini dikarenakan upwelling atau pembalikan massa air, sebuah fenomena di mana air laut yang lebih dingin dan bermassa jenis lebih besar bergerak dari dasar laut ke permukaan akibat pergerakan angin di atasnya.

Prakirawan BMKG Kota Sorong, Anang menjelaskan tidak ada hubungannya antara kemunculan ikan dengan akan terjadinya bencana. Menurut Anang, kemunculan ikan Lemuru tersebut bisa disebabkan naiknya massa air dari lapisan bawah ke permukaan atau disebut dengan Upwelling. 

“Sejauh ini belum ada kajian mengenai kaitan kemunculan ikan ke permukaan dengan potensi bencana. Tetapi, disini ada teori terkait kemunculan ikan di permukaan ini, dapat dipengaruhi oleh fenomena upwelling yang merupakan suatu istilah yang mengatakan proses naiknnya masa air dari bawah air ke permukaan laut,” jelas Anang kepada Radar Sorong, Selasa (27/4).

Dijelaskannya, upwelling adalah fenomena naiknya massa air dari lapisan bawah ke permukaan. Dimana, naiknya massa air dikarenakan adanya angin yang bergerak diatas perairan sehingga angin akan mendorong massa air di permukaan. Semakin terdorongnya air di permukaan maka akan terjadi kekosongan sehingga kekosongan inilah yang kemudian diisi oleh massa air yang berada di lapisan bawah.

Secara umum,  memang perbedaan suhu dan salinitas, dimana ketika suhu dingin bisa terjadi upwelling sehingga potensinya ikan bisa naik ke permukaan. “Setahu saya, kemunculan ikan tidak ada hubungannya dengan akan terjadinya bencana. Oleh sebab itu, saya berharap masyarakat dapat terus memantau update data terbaru dari BMKG Sorong,”terangnya

Terpisah, Kepala Dinas Perikanan Kota Sorong, Very Meky Rudy Kambuaya,SE  mengatakan, berdasarkan informasi fenomena ikan Lemuri di Kali Rufei, kemungkinan dikarenakan ikan mencari kondisi air yang lebih baik, sehingga gerombolan ikan Lemuru tersebut masuk ke perairan air tawar. “Kemungkinan yang saya lihat, ikan tersebur memang mencari kondisi air yang lebih baik sehingga  masuk ke muara sungai. Dan ini, merupakan kejadian pertama kalinya,” paparnya. Diakui Very, ikan-ikan tersebut kini telah mati karena kemungkinan tidak dapat bertahan pada kondisi air tawar.

Sementara itu, lokasi kejadian munculnya ribuan ikan “Lompat” yang akhirnya mati massal, tidak membuat warga takut atau cemas akan anggapan terjadinya sesuatu dibalik fenomena tersebut. Hal ini terbukti dari pantauan Radar Sorong tak satu pun warga yang mengungsi dari rumahnya. Warga malah memanfaatkan kejadian tak biasanya ini dengan menangkap ikan untuk kemudian dikeringkan. Pantauan Koran ini, terlihat banyak ikan di dalam coolbox dan adapun yang dikeringkan atau dijemur.

Mama Selfi, salah satu warga kompleks rumah seribu kaki Rufei Pantai yang ditemui Radar Sorong menuturkan, baru pertama kali melihat kejadian tersebut dan dia mengaku kaget.  “Saya sudah 20 tahun, ini baru pertama kali bagi saya makanya kita kaget. Anak-anak lihat ikan lompat banyak makanya turun langsung. Ikan ini naik karena air pasang dia ikut arus naik, ada yang bilang karena dipotas. Tapi kalau potas maka semua ikan disini mati semua, tapi ini hanya satu jenis ikan saja, tidak ada ikan yang lain. Kita disini sebutnya ikan lompat-lompat. Kita dapat itu, satu rumah bisa 5 coolbox, belum rumah-rumah tetangga, kita juga sudah bagi-bagi ke keluarga yang ada di Lido, dan di keluarga lainnya. Semua rumah disini panen banyak,” kata Mama Selfi kepada Radar Sorong, Selasa (27/4).

Saking banyaknya ikan yang ada membuat warga berbondong-bondong untuk turun ke kali menangkap ikan tersebut dengan jala, ember, saringan dan bahkan ada yang hanya pakai tangan kosong, sehingga beberapa warga kewalahan menangkap ikan kemudian ikan dibiarkan saja.  Munculnya ribuan ikan lompat direkam atau di video dan di posting ke facebook sehingga viral dan mengundang berbagai opini ditengah masyarakat. 

“Video dari kakak, karena dia tidak ada paket data internet jadi saya yang upld di fb saya. Kaget juga sampai bisa viral. Saya waktu itu mau ke gereja jadi kakak kasih saya video itu. Ikan ini naik sampai di belakang dia punya rumah jadi mereka turun tangkap,” kata Lamy, pemilik akun facebook Lamy Octavina Sawaki kepada Radar Sorong, Selasa (27/4).

Hal senada dikatakan pemilik video yang merekam langsung ketika ribuan ikan naik hingga berada di belakang rumahnya yang terletak di Rufei Jalan D.I.Panjaitan Distrik Sorong tepatnya di kawasan rumah seribu kaki.  Dari pantauan Radar Sorong, Selasa (27/4) adapun karena wadah terbatas menyebabkan ikan banyak yang mati dan bangkai ikan tersebar dimana-mana. “Karena tempat tidak ada lagi jadi. Makanya banyak ikan yang mati hari ini. Ikan ini akan hidup di laut makanya ini kali kan air tawar jadi mungkin ikan mata pedis atau beda air makanya banyak sekali yang mati,” ungkpanya.

Warga lainnya, Julianus Frengki Mirino mengaku bahwa hal tersebut bukanlah fenomena alam seperti yang dikatakan warga sebagian. Menurutnya bahwa kejadian tersebut adalah hal yang wajar saja karena sejak tahun 70an pernah terjadi hal demikian. “Hal ini sudah pernah terjadi, sejak saya SD, SMP dan tambah dengan sekarang sudah 3 kali berarti. Ikan ini kan cari tempat untuk berlindung, kemarin di laut cuaca kurang baik atau dia mau bertelur,” jelasnya. “Nah, ikan ini ada di bibir sungai jadi dia masuk. Kalau ada ikan selain ikan lompat ini naik maka itu dikatakan fenomena alam tapi kalau ini hanya satu jenis ikan. Jadi ini adalah hal yang wajar. Kondisi cuaca sekarang panas karena limbah di Kali Rufei ini membuat ikan ini radiasi untuk ikan dan tidak bisa betah. Nah itu yang membuat ikan mati,” sambungnya.

Menanggapi hal tersebut, Dekan Fakultas Perikanan UMS Ahmad Fahrizal, SPi, MSi kepada Radar Sorong mengatakan ada beberapa factor yang mempengaruhi hal tersebut. “Bisa jadi itu sebagai fenomena alam, karena ikan terbawa saat pasang estimasinya terbawa karena arus pasang jadi ikannya melimpah di situ. Biasanya ikan kecil dikejar sama ikan besar. Kemudian biasanya terjadi blooming atau peledakan populasi, bisa karena factor kualitas air. Ada juga yang bilang kemungkinan karena umpan dari kapal yang jatuh, tetapi sebenarnya harus diteliti juga,” pungkasnya. (juh/zia)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed