oleh

Unimuda jadi Posyanki Pertama di Indonesia

-Metro-37 views

Universitas Pendidikan Muhammadiyah (Unimuda) Sorong menjadi Pos Pelayanan Kekayaan Intelektual (Posyanki) pertama di Indonesia. Hal ini setelah dilakukan pembukaan di kampus Unimuda Sorong, Jumat (23/10) oleh Kepala Divisi Pelayanan Hukum dan HAM Kanwil Papua Barat, Alex Cosmas Pinem, SH, MSi.

Menurut Pinem, kegiatan pelayanan kekayaan intelektual seperti sangat penting dan sangat dibutuhkan. Apalagi, melihat daripada banyaknya potensi kekayaan intelektual yang perlu untuk dipatenkan hak ciptanya.

“Saya lihat kesadaran masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kekayaan intelektual ini sudah semakin tinggi. Langkah ini sesungguhnya dibutuhkan masyarakat untuk mendapatkan hak paten atas sebuah hasil karya, apalagi pemilik hak patennya pun akan mendapatkan nilai ekonomis dari ditu,” jelasnya saat ditemui usai berkeliling pulau rekayasa di lingkungan kampus Unimuda Sorong.

Pelayanan intelektual ini juga dimaksudkan untuk mempermudah masyarakat dalam mendapatkan perlindungan hukum atas hasil karyanya tersebut.

Sementara itu, Rektor Unimuda Sorong, Drs. Rustamaji, M.Si mengungkapkan, usai launching resmi pada tanggal 3 November 2020 mendatang ada beberapa karya dan produk yang akan didaftarkan kepada Kemenkumham untuk mendapatkan hak paten dan perlindungan hukumnya.

“Karya kami di Unimudaini cukup beragam, ada tarian, ada buku, tumbuhan dan sebagainya. Namun yang pertama kali akan saya daftarkan paling dulu adalah pohon matoa,” ujar Rektor kepada Radar Sorong.

Alasannya, pohon matoa merupakan pohon endemik Papua sehingga harus dilestarikan sebagai penghargaan tersendiri untuk tanah Papua. Tentu saja bukan seperti pohon matoa yang sering dijumpai. Pohon matoa yang akan didaftarkan nanti merupakan hasil hasil karya Rektor Unimuda Sorong yang sudah direkayasa melalui okulasi.

“Kenapa saya patenkan, supaya ketika ada hasilnya tidak kemudian diklaim oleh pihak lain. Karena pohon matoa ini merupakan hasil okulasi yang saya rekayasa. Sehingga pohonnya tidak besar, hanya sekitar 2 meter dan 2 tahun sudah bisa berbuah. Ini bentuk penghargaan saya untuk tanah ini,” tandasnya. (ayu)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed