oleh

Tulus Mengajar, Dibalas Tembakan

Dua Jenazah Korban Penembakan KKB Dipulangkan ke Toraja

JAYAPURA – Dunia Pendidikan Provinsi Papua berduka. Bagaimana tidak, Oktavianus Rayo dan Yonathan Renden, dua tenaga pendidik di pedalaman Papua, merengang nyawa ditembak Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB)  di Distrik Beoga ­Kabupaten Puncak, Jumat (9/4).

Oktavianus Rayo (43) dan Yonat­han Renden (28) merupakan guru yang   mengabdikan diri di Distrik Beoga.  Oktavianus sudah 10 tahun menjadi guru kontrak, Yonathan 2 tahun. Total 11 guru pendatang di Beoga. Kedua ­korban merupakan guru pendatang ­dari Toraja. Kondisi Beoga yang sulit dijangkau menyebabkan tidak banyak orang maupun pendatang yang mau bertahan disitu. 

Junaedi Arung Sulele, Kepala Sekolah SMPN1 Beoga Kabupaten Puncak Papua merupakan saksi mata saat KKB pimpinan Sabinus Waker merengut nyawa kedua guru tersebut. ”Mereka guru terbaik. Tidak banyak orang yang mau bertahan hidup di pedalaman, hidup bersama keluarga bertahan disana di hutan,” ujarnya.

”Bapa Oktavianus dan Yonathan mendidik anak Papua dengan setulus hati, mendidik anak-anak pedalaman Papua.Sekali lagi, kami orang toraja percaya dengan aparat dan kami taat hukum. Kami mohon aparat menjaga masyarakat tanpa terkecuali, apalagi guru yang mendidik anak Papua. Kami sangat sesalkan kejadian ini,” ucapnya

Junaidi masih mengingat jelas saat kejadian naas tersebut. ”Puji Tuhan saya masih lolos. Saat penembakan saya tidak lihat orang, ketika bunyi tembakan saya lari ke arah kanan, Yonatan Renden ke kiri, korban sudah kena 2 kali tembakan di dada tapi masih sempat lari kemudian rubuh.”  ”Kalau korban pertama saya tidak di TKP. Lokasi korban pertama itu di SMPN 1 Beoga, korban itu guru SD Klemabeth, tetapi karena istrinya mengajar di SMP mereka tinggal di perumahan guru SMPN 1 Beoga. Saat penembakan korban pertama, Oktovianus  Rayo  dia dikepung KKB,” ungkapnya. 

Menurutnya, tidak banyak pendatang di wilayah Beoga, hanya guru saja. Informasi yang menyatakan Junaidi diculik tidak sepenuhnya benar. Saat terjadi penembakan, Junaidi  bersembunyi di rumah warga. Ketika aparat TNI-POLRI yang mengevakuasi jenazah lewat didekat persembunyiannya, ia keluar dan ikut mengamankan diri di Koramil

Sekda Papua, Dance Yulian Flassy menyangkan adanya aksi tersebut. Pihaknya akan terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah setempat dan TNI-POLRI untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi warga dan guru yang ada di kabupaten tersebut. “Kami prihatin, kami akan terus koordinasi dengan pemerintah pusat dan dan bupati Puncak. Saya cuma ingin semua kepala daerah harus berada  di tempat dan konsolidasi daerahnya,” kata Dance Flassy, Sabtu (10/4).

Kepala Dinas Pendidikan, Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPPAD) Provinsi Papua, Christian Sohilait menyebutkan kedua korban guru yang menjadi korban penembakan KKB di Beoga merupakan guru yang telah lama mengabdikan dirinya di pedalaman Kabupaten Puncak.   “Pasca kejadian di Beoga, kami sudah berkoordinasi dengan aparat keamanan untuk mengungsikan sementara para guru ke tempat yang lebih aman,” katanya.

Komnas HAM Papua menilai  guru yang bekerja di pedalaman adalah pekerja kemanusiaan sehingga jangan ada tudingan atau spekulasi bahwa mereka juga melakukan pekerjaan mata-mata atau intelijen sehingga dengan alasan itu bisa dibunuh. “Sangat keji jika ada tudingan guru yang ditembak di Beoga memiliki pistol sehingga bisa dianggap sebagai mata-mata atau intel. Tudingan ini harus ada bukti tidak hanya spekulasi yang bisa mengancam keamanan seluruh pekerja kemanusiaan yang ada di sana,’’ ucap Kepala Perwakilan Komas HAM Papua, Friets Ramandey saat dihubungi, Sabtu (10/4).

Guru tidak membawa pistol tetapi membawa pensil alat tulis, perlengkapan peralatan lainnya untuk mengajar generasi penerus yang ada di sana. “Kalau ada dugaan atau kecurigaan kan bisa diklarifikasi, ada kepala sekolah, ada kepala suku, tokoh-tokoh masyarakat dan adat dalam kampung. Karena jika tudingan tanpa pembuktian bisa mengancam keamanan siapa saja yang datang bekerja di sana,” tegasnya.

Menyikapi kejadian penembakan KKB di Beoga Kabupaten Puncak, Kapolda Papua, Irjen Pol. Mathius D. Fakhiri mengirim satu peleton Brimob untuk membackup Polsek Boega. “Saya akan mengirim satu peleton Brimob untuk memperkuat Polsek Beoga. Kita akan mendorong Satgas Nemangkawi untuk melakukan penegakan hukum di sana, karena tim ini dibentuk Kapolri untuk penindakan,” ujar Kapolda Papua kepada wartawan di Jayapura, Sabtu (10/4).

Jendral Bintang dua ini pun menyampaikan akan bertolak ke Kabupaten Mimika untuk melakukan evaluasi guna penindakan terhadap kelompok Kriminal bersenjata yang kini diketahui keberadaanya di Distrik Beoga Kabupaten Intan Jaya. “Kelompok ini sejak 2020 berada di Intan Jaya dengan tujuan ke Freeport. Karena terhimpit mereka ke Puncak karena ada undangan Lekagak, yang pada akhirnya mereka bergabung dan melakukan aksi di Beoga,” ungkap Kapolda. 

Sementara itu, jenazah almarhum Oktovianus Rayo dan Yonatan Randen yang merupakan tenaga pendidik atau guru yang meninggal akibat ditembak oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kampung Julukoma, Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Minggu (11/4) kemarin telah dipulangkan ke kampung halamannya di Tana Toraja, Provinsi Selatan. Kedua jenazah tersebut diantar ke Bandara Mozes Kilangin oleh ratusan kerabat dan keluarga untuk diterbangkan ke Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar untuk kemudian dibawa ke kampung halamannya. (al/tns)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed