oleh

TPN-OPM Cari Panggung di Papua Barat

Kapendam Tegaskan KNPB Dibalik Pembunuhan 4 Prajurit TNI di Maybrat

MANOKWARI – Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XVIII/Kasuari Letnan Kolonel Arm Hendra Pesireron menegaskan, bahwa Komite Nasional Papua Barat (KNPB) diduga kuat sebagai pelaku penyerangan Pos Koramil Persiapan Kisar Kabupaten Maybrat, Kamis 2 September lalu yang menewaskan 4 prajurit TNI. 

PMB OPBJJ-UT Sorong

Dugaan ini berdasarkan pengakuan 3 tersangka penyerangan  yang saat ini telah ditahan Polres Sorong Selatan. “Pelaku penyerangan itu KNPB karena tersangka yang sudah diamankan mengakui mereka KNPB. Pengakuan 3 tersangka, sebelum pergi menyerang Posramil, mereka itu terlebih dahulu rapat di sekretariat KNPB yang letaknya sekitar 500 meter dari Posramil,’’ ujar Kapendam kepada Radar Sorong, di kantornya, Kamis (9/9).

Mengenai kelompok yang mengaku diri sebagai pihak yang bertanggungjawab atas penyerangan Posramil Persiapan Kisor ini, Kapendam menyatakan kelompok TPN-OPM mengklaim diri sebagai pelaku penyerangan sebagai bentuk pernyataan eksistensi atau mencari panggung. “KNPB ya di balik penyerangan Posramil Kisor ini, bukan TPN-OPM yang mencoba mencari panggung. Tiga tersangka yang sudah diamankan mengakui KNPB, sehingga  kalau ada yang mengklaim pelaku penyerangan itu mau cari panggung,” tegasnya.

Ia meminta  kepada masyarakat di Aifat tak perlu kuatir dengan langkah personel TNI dan Polri yang melakukan pengejaran terhadap para pelaku. Aparat keamanan telah mengantongi identitas para pelaku, sehingga tak mungkin salah sasaran. “Masyarakat yang tidak terlibat kami imbau kembali ke kampung masing-masing, tidak perlu tinggalkan rumah. Kami TNI dan Polri siap memberikan rasa aman. Kami TNI-Polri tetap berpihak pada masyarakat,” tandasnya.

Mantan Dandim Sarmi ini menyatakan, masyarakat yang mengungsi tak berani kembali ke kampung karena terancam. Bila kembali ke rumah masing-masing diancam akan dibunuh KNPB. “Mereka tidak berani turun (pulang ke rumah) karena terancam. Kalau berani turun mereka akan dibunuh kelompok KNPB itu,” jelasnya.

Untuk menjamin keamanan masyarakat, TNI dan  Polri menempatkan sejumlah pos gabungan di kampung-kampung. Hasilnya, sudah ada beberapa masyarakat yang kembali ke rumah. “Masyarakat yang sudah turun mengaku mereka diancam akan dibunuh kalau pulang ke kampung, akhirnya mereka memilih ke kerabat mereka, ada yang ke Sorong, ke Ayamaru dan Aitinyo,” ucapnya. Ada juga pemuda Aifat yang datang mengadu ke aparat TNI dan Polri, bahwa mereka tidak bisa kuliah karena diancam dan dipaksa agar tidak usah kuliah. Setelah diberi jaminan keamanan, mahasiswa tersebut sudah kembali ke Sorong untuk melanjutkan kuliah.

Kapendam  menegaskan, tak ada  operasi militer di Maybrat, sehingga masyarakat tak perlu takut. Justru yang ditakutkan masyarakat adalah ancaman dari KNPB. Pesireron mengisahkan penyerangan Posramil Kisor, bahwa usai membunuh 4 prajurit TNI, KNPB kabur sambil melempari rumah warga. “KNPB mengancam masyarakat dengan melempari rumah, supaya cepat pergi meninggalkan kampung. Ya, itu sudah pola-polanya KNPB, mengancam dan menghasut,” ucapnya. 

Sementara itu, Direktur Eksekutif Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari, Yan Charistian Warinussy, SH dalam keterangan tertulisnya, mengingatkan aparat keamanan TNI dan Polri di Papua Barat agar benar-benar memastikan bahwa orang yang saat ini ditetapkan sebagai tersangka terlibat  penyerangan terhadap Posramil Kisor.

Sebab lanjut dia, indikasi yang dikemukakan bahwa kedua tersangka MY dan MS atau P adalah sama-sama sebagai ”pengintai” Posramil Kisor tersebut sebelum terjadi penyerangan dan pembunuhan sadis yang menyebabkan 4 prajurit TNI AD gugur LP3BH Manokwari sedang melakukan investigasi di Kabupaten Maybrat untuk memastikan kebenaran keterlibatan MY dan MS tersebut. 

Sebagai Advokat dan Pembela Hak Asasi Manusia (HAM), Warinussy mengingatkan Kapolda Papua Barat dan Pangdam XVIII/Kasuari bahwa contoh ”ceritera” peristiwa Kisor hampir mirip peristiwa ”dihabisinya” anggota Brimob Mesak Viktor Pulung di Camp PT.Wana Galang Utama (WGU) April 2019 lalu.  “Yang menurut skenario berita acaranya diduga tewas dibunuh oleh Kelompok Sipil Bersenjata, namun dalam fakta persidangan tak ada satupun saksi yang melihat langsung kejadian pembunuhan kala itu. Dua orang tersangka saat itu, Frans Aisnak dan Pontius Wakom sama sekali tidak ada bukti hukum yang menunjukkan jelas keterlibatan mereka dalam peristiwa tewasnya anggota Brimob tersebut. Tapi mereka divonis hakim Sonny Alfian Blegoer Laoemoery di Pengadilan Negeri Manokwari dengan pidana 10 dan 8 tahun penjara,” jelasnya.

LP3BH kuatir pelaku sebenarnya yang membunuh keempat korban anggota TNI dan melukai anggota lainnya di Posramil Kisor kelak bak hilang ditelan bumi. “Sementara dua pemuda nahas yang kini dijadikan tersangka hanya bakal divonis untuk membuktikan bahwa peristiwa Kisor telah selesai secara hukum, karena ada yang dihukum dengan alasan turut serta dalam peristiwa sadis 2 September 2021 tersebut,” imbuhnya.

Kodam Kasuari Bantu Amankan Pengungsi Aifat

Pasca  penyerangan Posramil Kisor Kabupaten Maybrat yang mengakibatkan tewasnya 4 prajurit TNI-AD, Kamis (2/9) lalu, beberapa masyarakat di sekitar wilayah Distrik Aifat memilih mengungsi. 100-an warga masyarakat yang di antaranya terdiri dari anak-anak dan lansia, mengungsi dengan tujuan mengamankan diri dan tinggal dengan keluarga atau sanak famili di Distrik Aitinyo, Kampung Tehak Kecil. Dandim 1809/Maybrat, Letkol Inf Harry Ismail bersama Bupati Maybrat Bernard Sagrim mendatangi lokasi tempat warga mengungsi dan memberikan himbauan agar kembali ke rumah masing-masing, Kamis (9/9).

Bupati Maybrat juga memerintahkan langsung kepada Dinas Kesehatan dan puskesmas setempat untuk mendukung pemberian pelayanan kesehatan bagi pengungsi. Pelayanan kesehatan ini juga dibantu oleh Babinsa. Dandim dan Bupati menghimbau bahwa kondisi wilayah Distrik Aifat Raya saat ini aman dan terus dijaga oleh pihak TNI dan Kepolisian, sehingga tidak perlu khawatir untuk kembali ke rumah masing-masing.

Pada kesempatan tersebut, anggota Koramil Aitinyo juga ikut membantu kelancarkan kegiatan pelayanan di Kampung Tehak Kecil dan menyiapkan pengamanan lokasi. Untuk logistik para pengungsi,  didukung oleh Pemda Kabupaten Maybrat yang disiapkan di Kantor Kampung Tehak Kecil. 

Sedangkan Kompi Yonif RK 762/VYS terus menyebarkan himbauan melalui selebaran yangg ditempelkan di fasilitas umum, rumah dan juga meminta bantuan maskapai penerbangan untuk menyebarkan via udara mengenai informasi kondisi di wilayah Maybrat. Rencananya, Bupati Maybrat dalam waktu dekat akan melaksanakan pengembalian para pengungsi ke rumah masing-masing, setelah melakukan kordinasi dengan semua unsur baik dari keamanan dan Pemda sendiri. (lm)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed