oleh

Tolak Ketum Terpilih, Legalitas 14 Tungku Dipertanyakan

-Metro-261 views

SORONG- 14 Tungku NTT yang menolak terpilihnya Safruddin Sabonnama sebagai Ketua Umum (Ketum) Ikatan Keluarga Flobamora NTT Kota Sorong dipertanyakan legalitasnya.

Ketua Umum Terpilih Ikatan Keluarga Flobamora NTT Kota Sorong, Safruddin Sabonnama mengatakan, selama periode kepengurusan selama 5 tahun, pihaknya hanya mengeluarkan 15 SK tentang kepengurusan organisasi karena hanya 15 Tungku yang kemudian mendaftarkan diri untuk memohon diterbitkan SK atau dilantik dan dikukuhkan berarti menunjukan bahwa mereka mengakui Ikatan Keluarga Flobamora NTT Kota Sorong sebagai rumah besar tempat mereka bernaung. 

Lanjutnya, Kemudian 2 Tungku yang menyatakan diri menjadi bagian yang terpisahkan dengan melakukan pengukuhan sendiri itu adadalah Flobamora Dum dan Flobamora Solor sehingga total ada 17 Paguyuban dibawah payung besar Flobamora NTT. Dari 17 Tungku yang berdiri dengan legal karena AD/ART. 

“Sedangkan saat ini ada 10 Tungku dan 1 Badan Otonom kemudian menyatakan bahwa mereka mengakui hasil musyawarah besar IKF NTT Kota Sorong, bersama-sama dengan kami dan itu dinyatakan dengan bukti tertulis dan tanda tangan sehingga ada yang klaim bahwa 14 Tungku yang menolak itu dari Tungku mana,” tegasnya ketika melakukan jumpa pers, Rabu (3/3).

Dikatakannya lagi, Karena yang diakui hanya 17 Tungku dan yang mendukung Ketua Terpilih ada 11 Tungku. 14 Tungku yang menolak, mereka dianggap Keluarga Ikatan Keluarga Flobamora (IKF) ketika mereka menaati Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga pasal 17 dan pasal 18 dimana dinyatakan bahwa Badan Pengurus Tungku-tungku, Pemuda Ikatan Mahasiswa dan Ikatan Pelajar dikukuhkan atau dilantik secara resmi oleh pengurus IKF NTT periode berjalan.

Menurutnya, IKF sudah sama-sama sepakat bahwa kami taat pada aturan yang menajdi pedoman dasar kami adalah menaati Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga dimana telaahan yang telah disampaikan kepada ketua-ketua Tungku dan juga kepada Sesepuh-sesepuh bahwa proses penyelenggaraan besar itu tidak melakukan sebuah kejahatan organisasi atau tidak melakukan upaya-upaya yang membuat aturan-aturan itu diabaikan, sehingga kami tetap bersama dalam sebuah kesepakatan bahwa pengurus yang terpilih melalui musyawarah besar akan bersama-sama dengan pengurus yang akan dilantik menjalankan roda organisasi ini untuk  5 tahun kedepan.

“Terkait dengan penolakan-penolakan yang saat ini kami dengarkan, saya ingin mengajarkan kepada generasi NTT yang akan datang bahwa kehormatan itu tidak didapatkan dengan cara mengemis. Tetapi kehormatan didapatkan dengan cara-cara bermartabat. Itu menjadi prinsip bahwa semua orang NTT yang merantau di tanah perantauan, mereka hanya menjaga satu saja yang menjadi nilai moral daripada orang NTT yaitu kehormatan yang bermartabat,” tegasnya.

Kemudian, Sabonnama mengatakan dalam waktu dekat akan dilantik karena ini hanyalah organisasi paguyuban dan di dalam AD/ART sudah mengatur mekanisme pengukuhan dan pelantikan sehingga akan dijalankan dengan 2 metode, yakni pertama secara kultur dan kedua secara organisasi.(zia) 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed