oleh

Tingkatkan Toleransi Antar Umat Beragama

**Ratusan Pemuda-Pemudi Gereja GKI se-Kota Sorong Peneguhan Sidi

SORONG – Berkaca pada kejadian tragis berupa bom bunuh diri yang terjadi di Gereja Katerdral Makassar, Sulawesi Selatan pada Minggu pagi (28/3), Ketua Klasis GKI Sorong, Pdt Isak Samuel Kwaktolo,S.Th mengimbau agar meningkatkan toleransi antara umat beragama di Kota Sorong.

Pdt Isak Samuel Kwaktolo mengharapkan agar umat Kristen dapat menjaga ketertiban dan kenyamanan, meskipun di hari Minggu ini terjadi tragedi yang sangat miris yakni bom bunuh diri di halaman Gereja Katedral Makassar.  “Hal ini tidak menyulutkan iman kita. Tetapi kita perlu juga waspada untuk menjaga kestabilan, kenyamanan dan harus memperhatikan hidup bertoleransi antar umat beragama,” kata Pdt Isak Samuel Kwaktolo,S.Th kepada Radar Sorong usai melakukan pelayanan Sidi terhadap pemuda-pemudi GKI Kota Sorong, kemarin.

Sebelumnya, ratusan umat Kristen yang berasal dari sekitar 38 Gereja Kristen Indonesia (GKI) se-Kota Sorong, melaksanakan peneguhan Sidi pada Minggu (28/3). Peneguhan anggota Sidi baru dilaksanakan dengan tetap memperhatian protocol kesehatan, menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan guna memutuskan penyebaran Covid-19 di Kota Sorong. Bahkan, bagi gereja yang memiliki banyak jemaat, peneguhan Sidi dilakukan dua kali yakni di waktu subuh dan pagi hari.

Ketua Klasis GKI Sorong, Pdt Isak Samuel Kwaktolo,S.Th mengatakan bahwa sekitar 38 GKI se-Kota Sorong menyelenggarakan peneguhan Sidi bagi para jemaatnya. Pelaksaan Sidi sudah ditetapkan dalam kalender gerejawi untuk mempersiapkan anggota Sidi dalam menyambut Jumat Agung atau Perjamuan Kudus pada 2 April 2021. “Kami juga sudah arahkan mereka untuk memperhatikan protokol kesehatan dengan ketat. Saya bahkan juga melakukan pelayanan dan menyaksikan sendiri jemaat yang taat akan protocol kesehatan,” jelasnya kepada Radar Sorong, kemarin.

Diakuinya, sekitar 500-an anggota Sidi baru yang berasal dari 38 gereja GKI se-Kota Sorong, tetapi ratusan anggota Sidi tersebut tidak diteguhkan bersamaan melainkan dibagi dalam dua tahapan. Bagi gereja yang memiliki banyak jemaat, melaksanakan peneguhan Sidi sebanyak dua kali.  “Ini demi menjaga protocol kesehatan.  Kalau ada jemaat yang hanya berjumlah 10 atau 15, maka dilakukan sekali dengan tempat duduk diatur,” ucapnya.

Pdt Isak menjelaskan, tujuan pelaksanaan Sidi adalah sebuah pengakuan iman, tanggung  jawab untuk mandiri secara pribadi oleh umat Kristen Protestan maupun jemaat GKI. Dimana, mereka pun harus bertanggungjawab secara langsung dengan iman pada Tuhan. “Jadi dilakukan Sidi jemaat sebagai suatu ungkapan pernyataan pribadi akan siap menerima tanggung jawab sebagai anggota jemaat Kristen yang percaya kepada Tuhan,” paparnya.

Peneguhan Sidi lanjut Pdt. Isak, diambil berdasarkan kelas Al Kitab dan diwajibkan mengikuti Katekisasi dengan batas usia mulai dari 16 hingga 20 tahun untuk kategori anak atau remaja, usia dewasa mulai dari 25 hingga 45 tahun namun dilakukan pada waktu berbeda atau tepatnya pada bulan Oktober 2021 nanti. “Saya mengimbau atas nama Badan Klasis maupun pribadi, diharapkan seluruh warga jemaat dalam melaksanakan Sidi jemaat tidak lupa pada protokol kesehatan dan juga siap pada Jumat Agung nanti pada 2 April 2021,” pesannya.

Ditambahkannya, dengan perayaan Jumat Agung hingga Paskah, umat Kristen boleh menghayati pengorbanan dan penderitaan Yesus Kristus yang telah memberikan keselamatan. “Kami juga himbau kepada jemaat agar dalam melaksanakan Jumat Agung dilakukan di gereja masing-masing,”pungkasnya. (juh)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed