oleh

Tingkat Hunian Hotel Berbintang 48,05%

-Ekonomi-41 views

* Rata-rata Lama Tamu Menginap 1-2 Hari

SORONG-Tingkat Penghunian Kamar (TPK) Hotel Berbintang di Kota Sorong pada Februari 2021 mencapai 48,05 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pada bulan Februari ada sebanyak 48,05 persen kamar yang terpakai dari total kamar yang tersedia di Kota Sorong. Pada Januari 2021 mencapai 48,34 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pada bulan Januari ada sebanyak 48,34 persen kamar yang terpakai dari total kamar yang tersedia di Kota Sorong.

  “Kemudian Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang di Kota Sorong mencapai 1,74 hari (1 – 2 hari) selama bulan Februari 2021. Secara keseluruhan, rata-rata lama menginap tamu asing Februari 2021 sebesar 1,11 hari (1 – 2 hari), sedangkan tamu domestik sebesar 1,75 hari (1 – 2 hari),” kata Kepala Badan Pusat Statistik Kota Sorong, Ir. Merry, M.P.

  Dijelaskannya bahwa pariwisata mempunyai peran penting dan strategis dalam pembangunan nasional. Undang-Undang RI No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan menyatakan bahwa kepariwisataan bertujuan antara lain untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan rakyat, menghapuskan kemiskinan, mengatasi pengangguran, memajukan kebudayaan, dan mengangkat citra bangsa.

  “Bagi Indonesia khususnya Papua Barat yang memiliki potensi pariwisata yang potensial, kegiatan kepariwisataan diharapkan mampu menjadi salah satu kekuatan pembangunan yang dapat diandalkan, karena mampu menyumbang devisa yang berasal dari belanja wisatawan mancanegara. Selain itu pendapatan sektor pariwisata juga berasal dari pengeluaran wisatawan nusantara,” jelasnya.

  Menurutnya, semakin meningkatnya jumlah wisatwan di Indonesia khususnya Papua Barat, maka perlu diimbangi dengan peningkatan penyediaan kamar akomodasi pada hotel. Sehingga tidak menimbulkan kesenjangan antara permintaan dan penawaran atas kamar atau akomodasi tersebut. Akomodasi merupakan faktor yang sangat penting karena merupakan ‘rumah sementara’ bagi wisatawan yang mengharapkan kenyamanan, pelayanan yang baik, kebersihan dan lain-lain.

  “Perkembangan industri perhotelan, salah satunya dapat dilihat melalui indikator tingkat penghunian kamar hotel dan rata-rata lamanya tamu menginap. Tingkat Penghunian Kamar Hotel adalah jumlah kamar yang telah disewakan atau dihuni dibandingkan dengan jumlah kamar yang tersedia di hotel tersebut dan rata-rata lamanya tamu menginap adalah banyaknya malam tempat tidur yang dipakai dibagi dengan banyaknya tamu yang datang menginap. Rata-rata lamanya tamu menginap ini dapat dibedakan antara tamu asing dan tamu dalam negeri,” pungkasnya.

  Kemudian dijelaskan Kasubag Umum BPS Kota Sorong, Nurhadianta bahwa mengapa data bulan Februari baru dirilis pada bulan April, bukan sebulan setelah data tersebut seperti ketika melakukan rilis data IHK. Karena data dari hotel-hotel dikumpulkan BPS Kota Sorong dari awal Maret untuk bulan Februari. “Karena  tamu hotel sampai tanggal 28 Februari kan masih ada. Masih diamati. Dari tanggal 1 sampai dengan 20 Maret kami kumpulkan dari hotel-hotel untuk diolah dan pada tanggal 1 April baru dilakukan rilis,” jelasnya kepada Radar Sorong.

  Memang alurnya seperti itu. Menurutnya, bisa dipercepat penghitungan jika responden hotel-hotel segera melaporkan kondisi bulan tersebut. Nah, di tanggal 1 April ini, BPS mengumpulkan data pembentuk TPK untuk bulan Maret. “Kami kirimkan kuesioner lagi. Kalau dulu sebelum Covid-19 banyak juga hotel yang rajin mengisi dan bisa dibawah tanggal 10 BPS sudah mendapatkan data-data dari pihak hotel. Namun tetap pengolahan sampai tanggal 20 dan rilis tetap di awal bulan Mei,” pungkasnya. (zia)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed