oleh

Tidur Berhari-hari di Perpustakaan Demi Selesaikan Tugas

-Future-680 views

Perjuangan Erpin Said Lulus Cum Laude di Queen’s University of Belfast (2)

Tugas kampus memang menjadi salah satu hal yang terkadang menakutkan dan kerap kali membuat mahasiswa putus asa. Hal yang sama juga dirasakan Erpin, sempat stress karena dikejar deadline tugas kampus, namun perjuangannya berakhir sangat memuaskan.
Namirah Hasmir, Sorong

MENGGUNAKAN pesawat, Erpin meninggalkan Kota Sorong pada 7 September 2017 menuju Jakarta. Di Jakarta, ia bertemu seorang teman dari Kupang, Nusa Tenggara Timur yang juga akan melanjutkan S2 di Queen’s University of Belfast melalui beasiswa LPDP.  Berdua, mereka menempuh perjalanan kurang lebih 23 jam hingga akhirnya tiba di Bandara Belfast Irlandia Utara untuk pertama kalinya pada tanggal 9 September 2017. “Saya ingat sekali, tiba di Bandara Belfast itu tanggal 9 Septermber 2017. Itu pertama kalinya saya menginjakkan kaki di luar negeri,”  kata Erpin dengan begitu antusias. 

Sebelumnya, ia sudah mencari tahu kondisi cuaca di Belfast dan sudah mempersiapkan diri dengan pakaian tebal agar melindungi dirinya dari cuaca yang saat itu sekitar 18˚ celcius. “Waktu pertama kali tiba disana itu cuacanya 18˚celcius. Itu masih lumayan, karena waktu disana pernah cuacanya sampai minus begitu,” cerita Erpin.

Tiba di Bandara Internasional Belfast Irlandia Utara, Erpin dan temannya dijemput dua orang senior di kampus. Ia kemudian dibawa bertemu dengan mahasiswa lainnya asal Indonesia yang menempuh pendidikan di Queen’s University of Belfast. Setidaknya ada 15 mahasiswa dari seluruh Indonesia saat itu, namun yang melalui beasiswa LPDP hanya 9 orang. 

Bersama yang lainnya, Erpin diperkenalkan dengan ketua dan seluruh anggota Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Belfast. Erpin sendiri sempat terpilih sebagai Wakil Ketua PPI di Belfast tahun 2017 lalu. “Waktu disana sempat mencalonkan diri di PPI dan terpilih sebagai Wakil Ketua PPI,” katanya. 

Dua minggu pertama di Queen’s University of Belfast, Erpin menjalani perkenalan dan penyambutan selamat datang mahasiswa baru yang disebut sebagai welcoming week. Usai perkenalan, seluruh mahasiswa baru mulai menjalani perkuliahan, termasuk Erpin yang memilih tinggal di rumah kontrakan dengan salah seorang temannya yang jaraknya cukup dekat dengan kampus, agar mempermudah perkuliahannya.  Selama kuliah di Belfast, biaya hidup, biaya kampus, biaya buku dan lainnya ditanggung LPDP. Tentunya ini membuatnya sangat terbantu dan focus untuk menjalani seluruh perkuliahan. 

Sembari menjalani tugas selaku mahasiswa, Erpin juga mulai menyesuaikan diri dengan kondisi kampus dan menjalin pertemanan dengan mahasiswa lainnya dari negara lain. Sebagai Wakil Ketua PPI, Erpin juga sangat aktif. Salah satunya, bergabung dalam pertunjukkan seni yang digelar untuk memperkenalkan budaya Indonesia di Belfast. Dukungan tidak hanya diperoleh dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) tetapi juga kampus tempat ia berkuliah.  “Selain memperkenalkan budaya Indonesia, kita juga bisa mengenal langsung budaya dari berbagai negara yang dibawa oleh mahasiswa dari berbagai negara,” ucapnya. 

Selama di Belfast, Erpin menjalani perkuliahan selama 1 tahun yang terbagi menjadi 4 semester. Setiap semesternya terdapat 3 mata kuliah yang seiap minggunya dilakukan 3 kali pertemuan dalam waktu 3 jam tiap mata kuliah. Proses perkuliahan dilakukan setiap sore, terkadang disesuaikan dengan waktu lowong dosen yang mengajar. 

Sebagai mahasiswa di Belfast, tugas menjadi poin utama. Dosen tidak begitu mempersoalkan absensi maupun keaktifan mahasiswa di dalam kelas. Untuk itu, setiap tugas wajib dikerjakan demi memperoleh nilai maksimal. Dalam satu kelas, ada 35 mahasiswa yang mengikuti perkuliahan. 

Sebelum memulai perkuliahan, mahasiswa lebih dulu diminta untuk mendownload materi perkuliahan melalui aplikasi Quee’s Online. Setiap dosen yang akan mengajar memasukkan materi ajar dalam aplikasi tersebut untuk dapat didownload oleh setiap mahasiswa. Sehingga saat pertemuan mata kuliah, dosen tidak lagi menerangkan materi apa yang akan disampaikan.  “Sebelumnya, 1 atau 2 hari, kita sudah harus download dulu, materi apa yang akan dipelajari untuk kita baca-baca. Kalau tidak didownload, nanti kita tidak akan mengerti pembahasan dari dosen,” ceritanya kepada Radar Sorong. 

Di akhir semester, seluruh mahasiswa diberikan tugas essay di setiap mata kuliah untuk penilaian. Akhir pengumpulan essay sendiri di bulan Desember, dengan syarat essay mencapai 3.000-4.000 kata. Hal tersebut yang membuat Erpin sempat putus asa, merasa tidak mampu akan dirinya sendiri, karena jadwal deadline yang menurutnya sangat dekat dengan tugas essay untuk seluruh mata kuliah. 

Namun, fasilitas di Kampus Belfast lengkap dan sangat membantunya. Bahkan, perpustakaan kampus buka hingga 24 jam setiap musim ujian. Ditambah pula fasilitas lainnya untuk makan dan minum di sekitar perpustakaan bagi mahasiswa yang kerap tidur di perpustakaan, termasuk Erpin. “Karena kejar deadline, jadi berhari-hari tidak pulang, bermalam di kampus. Makan pun harus yang instan, karena waktu itu berharga sekali,” terangnya. 

Beruntung, Erpin mendapatkan perpanjangan deadline essay dan memiliki senior-senior yang tidak pelit ilmu, sehingga ia lebih mudah memperoleh ide-ide baru dari beberapa seniornya yang telah lulus dengan jurusan yang sama. 

Seluruh perjuangan Erpin untuk memperoleh nilai yang maksimal berbuah manis, ia lulus dengan kategori Distinction, nilai yang diperoleh diatas 70 atau sama dengan predikat cum laude. “Beruntung saya lulus dengan nilai di atas 70, ada beberapa nilai yang hanya 68, tapi dapat ditutupi dengan nilai lainnya,” ucapnya. 

Usai mewujudkan mimpinya kuliah di universitas luar negeri, Erpin mulai menikmati salah satu keuntungan menjadi mahasiswa luar negeri. Ia dapat menjelajahi tempat wisata di United Kingdom alias Britania Raya, setelah berhasil menyelesaikan tugas-tugas kampus. “Salah satu yang menarik itu bisa mengunjungi tempat wisata setelah penat dengan tugas-tugas kampus,” ucapnya. 

Selama satu tahun di Belfast, Erpin sempat merasakan puasa kurang lebih 20 jam lamanya yang tentunya sangat berbeda dengan di Indonesia. Meski demikian, ia dimudahkan dengan adanya Belfast Islamic Center yang menjadi wadah untuk umat islam di Belfast. Beberapa toko halal juga sangat. “Kalau toko halal itu, beberapa dari mahasiswa muslim yang buat toko, ada yang dari Indonesia, Malaysia juga ada,” katanya. 

Setelah lulus dengan predikat yang membanggakan, Erpin memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Tepatnya, pulang kampung ke Sorong untuk mengabdikan diri setelah menimba ilmu di negeri orang. Tepat 26 Desember 2018, Erpin tiba di Sorong dan ingin melakukan pengabdian di Sorong. (***/bersambung) 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed