oleh

Tersangka Makar Terancam Pasal Berlapis

SORONG – Kapolres Sorong Kota AKBP Ary Nyoto Setiawan,S.IK,MH mengatakan, enam tersangka dugaan tindak pidana makar dalam aksi demo ricuh pada Jumat (27/11) berinisial JB (39), FS (51), HN (56), BF (66), DP (30) dan CD (18), dijerat pasal pasal 106 KUHP Jo Pasal 87 dan Jo Pasal 53 KUHP. Namun tidak menutup kemungkinan keenam tersangka dikenakan pasal berlapis bila dalam gelar lanjutan ditemukan pasal persangkaan baru.  

Saat merilis kasus dugaan tindak pidana makar yang ditangani pihaknya, Kapolres Sorong Kota didampingi Wakapolres Sorong Kota Kompol Hengky K. Abadi,S.IK mengatakan, keenam tersangka bisa saja dikenakan pasal 170 (pengeroyokan terhadap anggota), persangkaan pasal dalam KUHP mulai dari pasal 212 hingga 218 (melawan petugas saat berdinas).

Dijelaskannya, keenam tersangka tersebut tergabung dalam Republik West Papua New Guine dengan Presiden bernama Maikel F. Kareth, dimana Negara Republik WPNW tersebut dideklarasikan di Negara Belgia sementara yang bersangkutan (Presiden) menulis dirinya berada di Netherland (Belanda).

Kapolres Sorong Kota mengatakan, keenam tersangka diamankan saat ingin melakukan long march, pihaknya mencoba menghimbau agar aksi tersebut tidak diteruskan namun karena adanya perlawanan sehingga keenam orang tersebut diamankan. “Kami amankan JB pemengang toa, CD, HN, dan FS yang membawa spanduk, sedangkan DP dan BF yang membawa selembaran. Barang bukti yang kami amankan yakni dua bendera bercorak Bintang Kejora dan tiga buah spanduk dengan motif Bintang Kejora serta selembaran himbauan,” jelas Kapolres.

Ditambahaknya, aksi demo yang berujung ricuh tersebut memakan enam korban, 3 personel Brimob, dua personel Polres Sorong Kota dan seorang wartawati. Ia mengingatkan masyarakat Kota Sorong tidak mudah terhasut dengan ajakan-ajakan yang tidak bertanggung jawab. “Kami juga memberikan sedikit bantuan terhadap korban aksi demo kemarin, semoga ini dapat bermanfaat bagi mereka,” terangnya.

Senada dengan Kapolres, Wakapolres Sorong Kota Kompol Hengky K. Abadi,S.IK mengatakan para pelaku ini dinilai memenuhi unsur makar, dimana perumusan di dalam pasal makar, pihak berwajib tidak perlu membuktikan selesainya eilik tetapi melalui kegiatan percobaan seperti persiapan maupun awal pelaksanaan kegiatan aksi pun bisa menjadi unsur bukti.

“Maksud dari kelompok ini melaksanakan long march tentunya untuk menghimpun massa dalam perjalanan sehingga semakin banyak dan ini sudah pernah terjadi di Kota Sorong. Bila massa semakin banyak maka psikologi massa berbeda dengan perorangan. Massa akan susah dikendalikan, hal tersebut pun sudah pernah terjadi di Kota Sorong pada tahun 2019 lalu yang berakibat selama 3 hari Kota Sorong lumpuh,” jelas Wakapolres Sorong Kota.

Oleh sebab itu, dalam penyelidikan yang dilakukan pihak Polres Sorong kota dapat menentukan peran keenam orang tersangka sebagai pelaksanaan menerima undangan agar kumpul di satu tempat untuk long march ke kantor Walikota Sorong. “Kami mengembangkan perkara ini untuk mengejar aktor intelektualnya, jadi tidak menutup kemungkinan kedepannya akan ada tersangka lain karena ini masih berkembang,” katanya seraya menambahkan bahwa pimpinan mereka tidak berada di Indonesia namun berada di Nedherland (Belanda). Pihaknya pun akan melakukan tindakan untuk menulusuri pimpinannya. (juh)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed