oleh

Tak Tahan Bau Sampah, Warga Palang Jalan

Kadis PKP : Lurah Harus Tutup Tempat Pembuangan Sampah di Samping Jalan Rumberpon

SORONG – Warga sekitar Jalan Rumberpon, melakukan aksi pemalangan jalan, Jumat (3/7). Pemalangan dilakukan sebab warga merasa sangat kesal karena hampir setiap hari mencium bau busuk sampah dari tempat sampah di ­samping Jalan Rumberpon, khususnya sampah-sampah dari Pasar sentral Remu karena tempat pem­buangan sampah di Pasar Remu sudah ditutup.

Seorang warga yang enggan namanya dikorankan mengungkapkan kekesalannya. Ia mengatakan bahwa tempat sampah Pasar Sentral Remu kan sudah ditutup, ­otomatis semua membuang sampah di samping Jalan Rumberpon ini pas depan rumahnya. Sampah yang dibuang banyak jenis mulai dari sampah biasa, insang ikan dan sayur-sayuran yang sudah hancur. “Namanya pasar itu harus ada tempat sampahnya bukan datang dan buang di area perumahan sini, nanti kita yang setengah mati. ­Selain itu, ini kan jalan yang ken­daraan banyak yang berlalu lalang kenapa sampai-­sampah dibuang di sini itu kan tidak pantas,” tukasnya kepada ­Radar Sorong, ­kemarin.

Dirinya terpaksa melakukan pemalangan, menjaga oknum-­oknum yang tidak bertanggung jawab yang membuang sampah tanpa memperhatikan waktu pembuangan sampah. Sehingga, ia harus menjaga agar tidak ada yang membuang sampah. ”Tidak tahu mereka dari arah mana datang buang sampah atau limbah pasar di sini dengan karung-­karung. Apalagi di sekitar sini ada SD Negeri 2, untung anak-anak libur, kalau tidak kasihan mereka pasti cium bau sampah ini,” ungkapnya.

Jika pemerintah tidak membuatkan tempat sampah di area Pasar Sentral Remu, ­maka oknum-oknum di Pasar Remu akan membuang sampah di sini dan ia harus mencium bau busuk limbah pasar tersebut setiap harinya. Ia berharap, agar pemerintah menyiapkan ­tempat sampah. “Kita mau di pasar ada tempat sampah untuk limbah pasar, jangan buang di sini lagi,” tukasnya.

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman Kota Sorong, Andreas Adii,ST mengapresiasi atas aksi pemalangan yang dilakukan oleh warga, dan Jalan Rumberpon merupakan jalan umum ­sehingga tempat sampah di pinggir jalan harus ditutup. “Apalah artinya ada ­pengalihan kewenangan di lingkungan itu, RT/RW dan termasuk ­Lurah punya tanggung jawab untuk melarang. Jika tempat pembuangan sampah tersebut menganggu warga sekitar maka harus tutup. Dan aksi palang yang dilakukan warga itu merupakan tindakan ­positif karena mereka mau menjaga lingkungan yang bersih dan indah apalagi untuk sampah-­sampah pasar,” ujarnya.

Menanyakan terkait pe­nu­tupan tempat sampah di Pasar Sentral Remu, Kadis PKP mengungkapkan bahwa hal tersebut dilakukan karena pedangan berserta beberapa RT setempat menutup tempat sampah yang terletak di ­samping Koramil tersebut sehingga masyarakat maupun pedagang tidak bisa lagi membuang sampah. “Saat terjadi kebakaran pasar pada tahun 2017 lalu, para pedagang ­keluar dari ­pasar dan menjual di badan jalan sehingga waktu itu kita ambil langkah pindah­kan tempat pembuangan sampah khususnya kontener milik Dinas PKP Kota Sorong ke samping Koramil, Pasar Sentral Remu dan ini sudah berjalan,” ujarnya.

Namun seiring berjalan ­waktu hingga selesai pembangunan pasar, Kepala pasar Sentral Remu mengatur untuk kembalikan para pedagang ke tempat yang semula. “Kami punya sarana kontener dan angkutan sudah kita tarik dari pasar. Semua kembali kepada pengelola pasar, bagai­mana mengatur para pedagang agar kembalikan kontener sampah ke tempat semula dan ini solusi. Karena kalau kita tidak melakukan pelayanan pengangkutan sampah ­seperti sebelumnya, maka sampah akan berhamburan dimana-­mana,” pungkasnya. (juh)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed