oleh

Tak Beri Bantuan, Gubernur Panen Umbi Petani

AIMAS – Pencanangan umbi-umbian seluas 10 Hektar (Ha) oleh Gubernur Provinsi Papua Barat, Drs. Dominggus Mandacan di Kelu­rahan Matawolot, Distrik Salawati Kabupaten Sorong, Rabu (8/7) bersama dengan Bupati Sorong, Dr. Johny Kamuru, SH.,M.Si dilakukan tanpa adanya sentuhan bantuan dari pemerintah sama sekali.

  Pencanangan umbi-­umbian yang bertujuan sebagai bahan pangan alternatif guna memperkuat ketahanan pangan di daerah, diungkapkan Ketua Tani Lestari Jaya, Sukijo justru tidak tersentuh bantuan pemerintah. ”Ini murni swadaya petani, tidak ada bantuan dari pemerintah sama sekali,” ungkapnya kepada Media. 

 Meski merasa senang ­dengan kehadiran para pejabat tersebut, namun ia menyayangkan, selama pengerjaan umbi-­umbian tersebut, tak ada sedikitpun bantuan dari peme­rintah baik daerah maupun provinsi. Sementara menurutnya, bantuan yang dibutuhkan oleh petani hanya berupa alat dan pupuk. 

“Kami bersyukur Gubernur, Bupati datang, tapi yang kami harapkan itu bantuan alat, selama ini tidak ada bantuan alat, terutama untuk panen hari ini, terus terang yah, ini hasil dari swadaya petani disini,” terangnya. 

Salah satu alat yang di­butuhkan yakni John Deere guna membuka lahan di ­sekitar area pertanian yang luasnya hampir mencapai 60 Ha. ­Karena diungkapkan Sukijo, di Kelurahan Matawolot cukup banyak lahan tidur. “Kami butuh John Deere untuk membongkar lahan disini, karena disini banyak lahan tidur,” ungkapnya. 

Selain alat, para petani juga mengharapkan agar pemerintah dapat membuatkan jalan bagi para petani sebagai akses jalan saat membawa hasil panen ubi tersebut. ­Karena, untuk sekali panen, 1 Ha bisa menembus 22 Ton, tergantung cuaca. 

“Kalau cuaca sekarang lagi bagus, penjualan juga cukup baik bisa Rp 350 ribu per sak, 1 sak bisa 60 Kg,” ucapnya. 

Sementara itu, Gubernur Papua Barat menyampaikan, alokasi dana untuk mem­bantu usaha pengembangan komoditi pertanian seperti ubi jalar, ubi kayu, keladi, sagu, padi dan sayur-sayuran akan ­disebar di seluruh kampung di Papua Barat. 

“Kalau dikelola secara tepat dan benar akan terjadi peningkatan prduktifitas hasil pertanian, membuka tenaga pekerjaan dan menambah sumber pendapatan bagi masyrakat dalam rangka ketahnan pangan, baik secara nasional maupun daerah,” ucapnya. 

Ketahanan pangan yang dilakukan bertujuan untuk mengantisipasi ketika wabah Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) terjadi dalam ­waktu yang cukup panjang dan kemungkingan dapat menga­kibatkan sulitnya pengiriman beras dari luar daerah ke ­Papua Barat. “Jadi kalau tidak ada lagi beras yang dikirim dari luar, kita sudah siap, antisipasi dengan pangan lokal,” ujar Gubernur Papua Barat. 

Untuk itu, Gubernur ber­harap agar progam tersebut dapat dilanjutkan kedepannya ­hingga ke kampung-kampung. ­Dimana, dana desa ataupun dana yang diberikan dari ­Provinsi ataupun daerah ­dapat digunakan untuk padat karya di kampung-kampung yang dapat dimanfaatkan oleh ­para petani untuk membuka lahan, membeli bibit, menanam dan lainnya sehingga tidak berdampak Covid-19. 

Ia juga menghimbau agar penyuluh petani ataupun ­Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pertanian dapat lebih proaktif dengan memanfaatkan Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pelatihan dan sebagainya. 

Sementara itu, PLT Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sorong, Johny Penda menga­takan, Kelurahan Matawolot sebelumnya telah menerima bantuan di tahun 2013. ­Bantuan yang diberikan ­sendiri diakuinya bergilir, karena banyaknya kelompok tani di Kabupaten Sorong. “Sudah, mereka sudah pernah dapat bantuan 2013, diberikan ­secara bergilir,” ucapnya. 

Sementara untuk bantuan alat sendiri, diterangkan Johny Penda, bantuan alat tersebut hanya diberikan kepada kelompok tani yang memasukkan proposal dan akan diberikan secara bergilir dan sesuai dengan kebutuhan. “Selama ini, Kabupaten Sorong dalam 1 tahun biasanya hanya memperoleh 2 alat bantuan. Itupun diberikan kepada mereka yang sudah mengajukan proposal dan dilihat alatnya, harus ­sesuai dengan kebutuhan,” terangnya. 

Untuk anggaran APBN dan APBD tingkat I dan II menurutnya akan diberikan ditahun ini, untuk itu pemilihan ­lokasi dilakukan di Kelurahan Mata­wolot, agar para petani juga merasa diperhatikan. Karena diakui Johny Penda, anggaran untuk pertanian tidak dilakukan refocusing dari ­Pemerintah Provinsi Papua Barat. 

“Bantuan yang diberikan dalam bentuk paket, bibit, pupuk dan alat, untuk APBN itu mencakup 50 Ha, khusus untuk ubi jalar,” pungkasnya. 

Sebelum melakukan panen ubi jalar, Gubernur Papua Barat juga meninjau secara langsung rumah pengolahan sagu di Kampung Klasan Jalan Pariwisata, Distrik Aimas. Dimana, Kabupaten Sorong memperoleh 5 unit alat pengo­lahan sagu yang telah berproduksi dari tahun lalu yang tersebar di Aimas 3 unit, ­Makbon 1 unit dan Klasari 1 unit. (nam)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed