oleh

Surga Tersembunyi di Teluk Mayalibit Raja Ampat

-Future-674 views

Punya Potensi Alam Melimpah, Warsambin Juga Dijadikan Kawasan Konservasi

Kurang afdhol rasanya jika berlibur ke Kepulauan Raja Ampat, namun belum meluangkan waktu untuk mampir dan bertandang ke Teluk Mayalibit yang lokasinya berada di Distrik Mayalibit Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat. Selain pesona keindahan alamnya yang eksotis, kearifan lokal yang masih dijaga masyarakat Kampung Warsambin, satu-satunya kampung yang dinobatkan sebagai kawasan konservasi ikan kembung (Rastrelliger Kanagurta) atau oleh masyarakat setempat disebut ikan lema juga bakal menjadi daya tarik tersendir.

Agustina Ayu Wulandari, RADAR SORONG

Surga kecil jatuh ke bumi. Mungkin itu jadi ungkapan yang pantas digunakan untuk menggambarkan bagaimana keindahan alam di tanah Papua, Provinsi di bagian timur Indonesia. Berbicara tentang surga kecil dan tentang Papua, hampir seluruh manusia di seantero bumi mungkin familiar dengan nama Raja Ampat. Bagaimana tidak, Kepulauan Raja Ampat bahkan sudah jadi destinasi wisata kelas dunia. Di beberapa titik Kepulauan Raja Ampat bahkan ibarat surga bawah laut yang kerap kali dijadikan spot diving bagi para penyelam kelas dunia. Teluk Mayalibit juga salah satunya.

Bagi mereka yang belum pernah menapakkan kaki ke Kepulauan Raja Ampat, nama Teluk Mayalibit mungkin masih asing didengar. Namun tidak demikian halnya bagi mereka yang sudah pernah bernafas dan menghirup segarnya udara di tempat tersebut (red, Teluk Mayalibit). Kawasan wisata Teluk Mayalibit memang tak setenar obyek wisata Kepulauan Wayag, Piaynemo, Kampung Wisata Arborek, Pasir Timur maupun rentetan nama obyek wisata lainnya wilayah Misool. Tapi jangan dikira Teluk Mayalibit tak punya nilai jual pada dunia pariwisata. Teluk Mayalibit justru punya value tersendiri yang mungkin tak bisa ditemukan di kawasan wisata lain di Kepulaun Raja Ampat ini.

Dengan populasi sekitar 3.190 jiwa, masyarakat di Kawasan Teluk Mayalibit memiliki sumber pendapatan dari sektor pariwisata, perikanan, perkebunan dan hasil hutan. Dari sektor pariwisata, Teluk Mayalibit memiliki beberapa spot yang digandrungi salah satunya adalah Obyek Wisata Kalibiru. Untuk menuju ke beberapa spot wisata tersebut dapat ditempuh melalui jalur laut maupun darat dengan titik start dari Kampung Warsambin. Sebab spot wisata tersebut lokasinya tak jauh dari Warsambin yang merupakan ibukota Teluk Mayalibit.

Bagi daerah yang sebagian masyarakatnya menggantungkan hidup pada sektor pariwisata, masa pandemi yang kini sedang dialami tentu menjadi cambuk bagi mereka. Demikian halnya dengan masyarakat di Kampung Warsambin dan kampung-kampung lainnya di kawasan Kepulauan Raja Ampat ini. Tingkat produktivitas dan ekonomi masyarakat juga pasti mengalami gelombang surut sebagai dampak dari pandemi.

Kampung Warsambin sendiri juga telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi ikan kembung (Ratregiller Kanagurta) atau oleh masyarakat setempat disebut ikan lema.

Salah satu warga Kampung Warsambin, Yohannes Mampioper mengungkapkan, kampungnya ini adalah kampung yang punya potensi penghasil ikan lema yang sangat diandalkan sebagai mata pencaharian oleh masyarakat. Kampung Warsambin jadi satu-satunya daerah penghasil ikan lema terbesar di Raja Ampat. “Potensi ikan lema sangat banyak, bisa diandalkan setiap tahunnya oleh masyarakat untuk dikelola,” ujarnya.

Penangkapan ikan lema hanya dilakukan pada musimnya, yakni pada saat bulan gelap pada setiap bulannya. Menangkap ikan lema dilakukan masyarakat Kampung Warsambin dengan sangat sederhana yakni dengan cara menimba (balobe). Melimpah ruahnya potensi ikan lema disana juga menjadi alasan mengapa sebagian besar masyarakat Kampung Warsambin merupakan nelayan pencari ikan lema. Tak hanya hasil tangkapan ikan lema yang bisa menjadi pundi-pundi rupiah, kegiatan penangkapannya yang masih memegang erat kearifan lokal (local wisdom) juga bisa bernilai wisata edukasi (tourism education).

“Biasanya nelayan hanya perlu melaut pada malam hari, tak butuh waktu lama, hanya sekitar tiga atau empat jam saja nelayan sudah bisa membawa pulanghasil tangkapan ikan lema dengan ribuan ekor. Itu kita pakai teknik balobe saja,” kata Yohannes.

Penangkapan ikan lema sendiri sudah ditemukan sejak tahun 1983. Pada waktu itu, ikan lema dihargai Rp 1.000 untuk 20 ekor atau senilai dengan Rp 50 per ekor. Namun seiring berjalannya waktu yang membuat perekonomian makin berputar, lambat lain harga jual ikan lemaeningkat, hingga saat ini menjadi Rp 1.000 hingga Rp 1.500 per ekor.

Menurut para peneliti dari The Nature Conversation (TNC) Raja Ampat, waktu peneluran ikan lema terjadi antara bulan September-November. Sehingga pada waktu tersebut, masyarakat tidak diperkenankan untuk menjaring ikan lema dengan harapan populasinya bisa tetap terjaga. Sangat banyak lokasi penangkapan ikan lema di Kampung Warsambin.

“Bahkan di ujung Kampung Warsambin sampai masuk ke dalam teluk ada tempat-tempat khusus. Jadi tidak sembarangan masyarakat bisa giring ikan dari laut ke tempat timba. Jadi begitu dekat ikan langsung digiring ke tempat timba yang sudah disiapkan. Menangkap ikan lema sudah jadi kebiasaan bagi kami semua. Bahkan saat bulan gelap, anak kecil pun bisa mencari ikan lema,” bebernya.

Namun demikian, sejak Corona mewabah hingga sampai ke tanah surga kecil ini, geliat perekonomian pun ikut terseok-seok. Meski sektor pariwisata yang paling terdampak, tak berarti sektor perikanan sedang baik-baik saja. Masyarakat nelayan ikan lema di Kampung Warsambin pun mengeluhkan keadaan ini.

“Ya kita lihat sendiri, sejak Corona kan semua kena imbas. Kalau dibilang, pariwisata yang paling parah. Tapi untuk nelayan sendiri kita pendapatan turun karena terkendala saat pemasarannya. Kita tidak tau mau pasarkan dimana. Yang jelas sudah pasti kedaan memburuk,” keluh Yohannes.

Belum lama ini Kampung Warsambin juga dijadikan sebagai lokasi pelaksanaan program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-108 oleh Kodim 1805 Raja Ampat. Tentu saja bukan tanpa alasan, Kampung Warsambin dijadikan lokasi pelaksanaan TMMD ke-108 Kodim 1805 Raja Ampat sebab tempat ini dinilai potensial di sektor pariwisata dan perikanan. Hal ini dapat dilihat dari keseharian masyarakat Kampung Warsambin yang sebagian bekerja sebagai nelayan dan sebagiannya lagi mengelola homestay dan bergerak di sektor pariwisata. Sebagai informasi, sejumlah tempat wisata kondang di Raja Ampat juga lokasinya tak jauh dari tempat ini. Sebab itulah, mengapa pelaksanaan TMMD di tempat tersebut dirasa sangat tepat sasaran.

Komandan Kodim (Dandim) 1805 Raja Ampat Letkol. Inf. Josep Paulus Kaiba mengungkapkan, maksud dari pelaksanaan TMMD merupakan peran TNI-AD bersama pemerintah untuk meningkatkan pembangunan dan kehidupan masyarakat di wilayah kerja.

“Ini merupakan wilayah kerja Kodim 1805 Raja Ampat dan merupakan destinasi wisata internasional. Dimana di tempat ini ada penangkapan ikan lema yang merupakan kegiatan untuk meningkatkan ekonomi. Tak jauh dari Kampung Warsambin juga banyak obyek wisata seperti Kalibiru, air terjun dan lainnya. Sehingga perekonomian bisa digenjot melalui sektor tersebut, baik perikanan atau pariwisatanya. Tepat lah kalau TMMD dilaksanakan disini,” terang Dandim.

Dalam pelaksanaan program TMMD kali ini didirikan empat unit rumah rumah layak huni bagi masyarakat Kampung Warsambin, satu PAUD dan dua fasilitas MCK. Sasaran pembangunan fisik dimaksudkan untuk menunjang ketersediaan fasilitas yang mungkin dibutuhkan wisatawan saat berada di Kampung Warsambin.

Selain menyasar pembangunan fisik, masuknya TMMD juga dihadirkan mampu menggerakkan pembangunan non fisik yang sangat mempengaruhi ekonomi masyarakat. Hal ini dilakukan dengan cara mengelola potensi-potensi yang ada dan menggali potensi-potensi baru yang kiranya dapat mengupayakan perekonomian masyarakat kembali menggeliat.

Yules Ansan selaku Kepala Adat Suku Maya, Kampung Warsambin, Distrik Teluk Mayalibit berterima kasih sebab melalui program TMMD bisa mengangkat derajat warganya. “Terimakasih, saya bersyukur Dandim sebagai putra daerah mau mengangkat derajat kami yang tidak punya, menjadi punya. Saya harap program ini bisa mendorong kemajuan Kampung Warsambin,” ucapnya.

Hosea Daam, salah seorang warga yang turut merasakan kebahagian atas didirikannya rumah baru dari pelaksanaan program TMMD tersebut mengaku sangat bersyukur. “Terima kasih untuk TNI yang sudah mendirikan rumah untuk saya. Karena selama ini saya sudah rindu untuk memiliki rumah sendiri. Sekali lagi terimakasih kepada bapak-bapak TNI dorang,” tutupnya.

Dandim mengakhiri dengan harapan, agar kedepannya Kampung Warsambin bisa nenjadi sentra perekonomian terpadu. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed