oleh

Stop Miras di Maybrat !

SORONG – Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Maybrat yang juga anggota Fraksi Partai ­Nasdem, Agus Tenau,S.Sos,MSi menilai kejadian pembacokan terhadap dua warga di Kampung Sori Aifat Selatan beberapa hari lalu yang mengakibatkan seorang meninggal dunia dan satu kritis, serta kejadian pembacokan di Kampung Irohe Distrik Aitinyo pada Minggu (14/6) ­malam yang mengakibatkan seorang warga ­meninggal di tempat, disebabkan lemahnya peran ­Forkopimda.

“Menurut kami Fraksi Partai Nasdem, kamtibmas di ­Maybrat lemah karena peran Forkopimda, didalamnya Bupati sebagai koordinator, ini lemah, sehingga membuka celah dimasuki pihak-pihak yang tak bertanggungjawab untuk mengganggu warga, mengganggu kamtibmas, mengganggu proses penyelenggaraan pemerintahan. Sebalik­nya, kalau Forkopimda di­perkuat, saya pikir ruang untuk kelompok-kelompok lain ingin masuk mengganggu kamtibmas di Maybrat, itu pasti kecil kemungkinannya,” kata Agus Tenau didampingi Ketua Fraksi Nasdem DPRD Maybrat Yonas Yewen,A.Md,Tek, dan Sekretaris Fraksi Nasdem, Naftali Kambu,SH saat konfrensi pers di Luxio Hotel, Senin (15/6).

Dikatakan, sekian tahun di Maybrat tidak pernah ada kejadian seperti ini sekalipun pilkada sengit, tapi dua tiga hari belakangan ini Maybrat yang saat pandemic Covid-19 ini green area, tapi malah berbalik lagi dengan slogan Maybrat berdarah. “Kami sangat terpukul dengan dua kejadian ini,” ucapnya.

Menurutnya, penyebab dua kejadian berdarah yang ­merenggut nyawa dua warga serta seorang kritis tersebut, karena miras. Karena itu, ­Fraksi Partai Nasdem mendesak agar dibentuk Perda larangan ­miras di Kabupaten Maybrat. “­Larangan miras itu jangan semata-mata untuk warga saja, pejabat dan anak pejabat juga harus menjadi contoh yang baik bagi warga supaya warga tidak ikut hal-hal yang tidak bagus. Kan jadi lucu, di satu sisi kita bikin Perda, semen­tara kita yang sebagai regulator membuat Perda melanggarnya. Warga akan bertanya, kamu sendiri yang bikin Perda kok kamu sendiri yang bawa minuman, kamu juga minum, kamu punya anak-anak pejabat juga ikut minum, terus kami warga mau ikut contoh yang mana sebenar­nya? Akibat dari miras itulah, satu warga kami di  Kampung Irohe Distrik Aitinyo meninggal karena miras,” ­tandasnya.

Karena itu, pihaknya dari Fraksi Partai Nasdem mengharapkan kalau bisa pemerintah daerah Kabupaten Maybrat bersinergi dengan Forkopimda, karena tanggungjawab kamtibmas menjadi tanggungjawab bersama.  “Terapkan Perda, peminum, pengedar, pemabuk, pemasok miras harus ditertibkan, entah itu pejabat, anak pejabat, atau siapapun dia, harus ditertibkan, ditindak tegas, karena ada pasal-pasal dalam Perda yang mengaturnya,” tegasnya.

Ditambahkannya, pintu ­masuk keluar Maybrat harus diperketat. “Kita kerjasama dengan Forkopimda, misalnya Kapolres, Dandim, anggotanya jangan hanya periksa senter suhu relevansinya dengan covid-19, tapi kalau bisa ­mobil juga diperiksa soal minuman, baik itu warga atau pejabat, anak pejabat, harus tegas diperiksa semua. Pemda harus giat, aktif sosialisasi, dari kampung ke kampung, dari distrik ke distrik, miras tidak boleh lagi beredar di Maybrat,” ­tegasnya. (ian)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed