oleh

Sewa Los-Lapak Jutaan Rupiah

SORONG – Puluhan mama-mama Papua mengantre di depan Kantor Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD) Kota Sorong, untuk mengambil folmulir pendaftaran lapak jualan di Pasar Modern Rufei Kota Sorong, Rabu (8/9). 

Pantauan Radar Sorong, sempat terjadi keributan dan perbedaan pendapat lantaran pedagang menginginkan agar Pasar Ikan juga dipindahkan ke Pasar Modern, untuk sama-sama transaksi jual-beli hanya terpusat di satu tempat. Selain itu, pedagang juga mengeluhkan retribusi yang dinilai mereka tidak sebanding dengan penjualan mereka.

PMB OPBJJ-UT Sorong

Salah satu Mama Papua (Pedagang), Rut, mengakui  ada sedikit keributan dikarenakan para penjual lainnya meminta agar pasar ikan juga dipindahkan ke Pasar Modern. Selain itu kedatangan para pedagang juga untuk mengambil folmulir dan nomor lapak jualan, dimana 1 lapak dihargai Rp 300 ribu. ”Kami terbebani untuk harga itu. Apalagi kami hanya jualan bahan hasil kebun ini. Sebenarnya pemerintah membangun pasar untuk siapa,” ucapnya seraya menambahkan mau dan tidak mau, ia harus tetap membayar untuk mendapatkan lapak di dalam Pasar Modern tersebut,

Sekretaris BPPRD Kota Sorong, Nicko Isir, S.Sos mengatakan BPPRD ditunjuk untuk melakukan pendataan jumlah pedagang yang ada di Pasar Boswezen, yang terdiri dari 2 kategori yakni pedagang yang memiliki los dan pedagang yang memiliki lapak dengan ukuran bervariasi. Pendataan sudah berjalan kurang lebih 3 minggu dan mendapatkan data 696 pedagang.  ”Selanjutnya, dilakukan verifikasi data serta mengundang para pedagang ke kantor BPPRD untuk mengambil folmulir dan membayar retribusi ke kas daerah.Pembayaran retribusi itu bervariasi, berdasarkan Perda Nomor 2 tahun 2020 tentang retribusi pelayanan pasar,” tuturnya.

Dirincikan Nicko, pedagang membayar sesuai ukuran los dan lapak, untuk ukuran los 4 X 10 biaya sewa Rp 8 juta pertahun, los 4 X 5 Rp 5 juta, untuk warung ukuran 2.5 X 4 Rp 3 juta, kemudian khusus bagi mama-mama Papua Rp 300 ribu pertahun dengan ukuran 1 X 20. ”Kami ditunjuk oleh Walikota Sorong karena berdasarkan organsiasi UPTD Pasar ada pada BPPRD, berdasarkan Perda nomor 16 tahun 2018 terkait perantingan kelembagaan dan struktur organsiasi,”paparnya.

Nicko menambakan, terkait perbedaan pendapat pasar Ikan, karena pemerintah menyesuaikan dengan kapasitas daya tampung di Pasar Modern yang hanya dapat menampung 496 pedagang, sementara tersisa 200san pedagang ini, pemerintah masih berpikir untuk bagaimana caranya mereka bisa tertampung. ”Sampai sejauh ini, kami diberi tugas dan petunjuk agar pedagang di Pasar Boswezen untuk di pindahkan, karena mempertimbangkan kapasitas daya tampung,”ungkapnya.

Menanyakan kapan pedagang akan dipindahkan, Nicko menyampaikan berdasarkan rapat antar OPD teknis pada 30 Agustus 2022, Wali Kota Sorong memerintahkan agar mempersiapkan segala sesuatu karena direncanakan Pasar Modern akan diresmikan pada 22 September 2021.” Kalaupun ada perubahan pasti kami akan sampaikan kepada pedagang,” pungkasnya. (juh)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed