oleh

Semangat Pantang Menyerah Meski Berkali-kali Gagal Mendapatkan Beasiswa

-Future-2.061 views

Perjuangan Erpin Said Lulus Cum Laude di Queen’s University of Belfast (1)

MENYERAH hanya untuk orang-orang yang gagal. Beberapa kali mengikuti tes beasiswa non negeri namun tidak berhasil, tak menurunkan semangatnya. Tidak ada kata menyerah, gagal coba lagi!!!

Namirah Hasmir, Sorong

ERPIN Said (26), putra bungsu (Alm) Muhammad Said Husain dan (Almh) Siti Khadijah. Meski telah ditinggalkan oleh kedua orang tua, semangat Erpin untuk meraih mimpinya menempuh pendidikan di universitas di luar negeri tidak surut. Dukungan dari dua kakaknya dan keluarga besar membuatnya bangkit untuk mewujudkan mimpi tersebut. 

Lahir dari keluarga yang sederhana, Erpin tumbuh menjadi sosok yang membanggakan di tengah keluarga. Semangatnya menuntut ilmu sambil bekerja, menunjukkan Erpin sebagai pemuda yang tidak pantang menyerah. 

Ditemui Radar Sorong di rumahnya yang berlokasi di HBM Kota Sorong, Minggu (6/1), alumni Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Sorong (UMS) ini kerap mengambil pekerjaan saat menempuh perkuliaahan dengan mengajar sebagai staff PU dan Guru Bahasa Inggris di SD Negeri 19 Kampung Baru. “Kalau pagi sampai siang saya mengajar di sekolah, sore sampai malam saya lanjutkan dengan kuliah. Saya lakukan itu selama 4 tahun,” cerita Erpin. 

Selain kuliah sambil mengajar, ia juga aktif mengikuti beberapa kegiatan dan perlombaan. Seperti pada tahun 2013, Ia mewakili UMS dalam debat Bahasa Inggris yang lolos ke tingkat nasional di Palembang. Di tahun 2014, ia juga mengikuti lomba yang sama dan lolos di tingkat nasional di Batam. 

Erpin juga terlibat di beberapa organisasi, salah satunya HMI meski hanya dari semester 1 hingga semester 3. Ia juga kerap menjadi relawan mengajar di beberapa tempat, salah satunya di sekolah alam Kokoda. Namun, Medina English Club menjadi salah satu wadah yang membuatnya tetap aktif hingga saat ini. 

Ya, Medina English Club menjadi awal mula perkenalan Erpin dengan beasiswa negeri maupun non negeri. Dari sana pula Erpin mengetahui adanya beasiswa magister dan doktoral dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) milik pemerintah RI. Pengetahuannya tentang beasiswa LPDP dilanjutkan dengan mencari tahu lewat media sosial dan orang-orang yang pernah mengikuti beasiswa LPDP.  “Jangan malu, jangan gengsi untuk tanya sama mereka yang sudah pernah coba lebih dulu. Saya saja, add  mereka di FB sambil tanya-tanya tentang beasiswa LPDP,” ucapnya. 

Berawal dari informasi yang diperolehnya, ia memutuskan untuk lebih dulu melengkapi salah satu persyaratan untuk LPDP, yakni Test of English as a Foreign Language (TOEFL) yang cukup menguras waktu dan biaya.  Mengikuti TOEFL sebanyak 4 kali, ia baru memiliki nilai TOEFL yang memenuhi syarat pada test keempat yang dilaksanakan UMS bekerja sama dengan AMINEF. Sebelumnya, ia menjalani TOEFL di Makassar dengan biaya sendiri dan 2 kali di Universitas Papua Manokwari.  “Alhamdulilah, waktu ikut TOEFL yang diselenggarakan UMS dan AMINEF itu nilai saya mencapai 490, sudah cukup untuk persyaratan beasiswa LPDP yang waktu itu masih 450,” terangnya. 

Dengan nilai TOEFL yang sudah memenuhi syarat, ia mencoba beasiswa non program secara terus menerus hingga 9 kali, namun belum berhasil. Ia juga sempat mencoba tes pertukaran pemuda antar negara yang merupakan program Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) namun tidak juga berhasil selama 2 tahun berturut-turut.  “Belum lolos dari tahun 2013 sampai 2014 untuk pertukaran pemuda di Manokwari. 9 kali ikut tes beasiswa non program tidak berhasil juga, tapi saya tidak berhenti dan saya coba yang beasiswa negeri dari LPDP dan Lolos,” jelasnya penuh semangat. 

Untuk berhasil diterima di salah satu universitas luar negeri melalui beasiswa LPDP, cukup banyak tantangan yang ia lalui. Salah satunya memenuhi International English Language Testing Sistem (IELTS) yang sangat berat baginya, karena nilai yang dicapainya sempat tidak memenuhi persyaratan. 

Setelah dinyatakan lolos administrai beasiswa LPDP, dengan menggunakan biaya sendiri ia menyebrangi lautan dengan kapal menuju Makassar untuk menjalani sesi interview dan seleksi essay on the spot dan beberapa tahapan test lainnya hingga dinyatakan lolos. 

Selanjutnya, melalui biaya LPDP menuju ke UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta untuk mengikuti IELTS selama 3 bulan, untuk mencapai nilai 6.5. Hanya saja, nilai yang raih hanya 5.5. Ia tidak menyerah, Erpin memilih untuk terbang ke Kampung Inggris di Pare Kediri Jawa Timur selama 2 bulan menggunakan biaya sendiri untuk dapat mengikuti kursus IELTS. 

Alhasil, kerja keras memunculkan peluang baginya. Ia kembali diinformasikan untuk mendapatkan perpanjangan pengayaan bahasa di UIN selama 3 bulan dan akhirnya mencapai nilai 6.5 untuk dapat lolos dan mendaftar di universitas luar negeri yang ia impikan. 

Ada 14 universitas luar negeri tempat ia mendaftar secara online, salah satunya Queen;s University of Belfast, Belfast Irlandia Utara, United Kingdom, dengan jurusan Master of Science in Teaching English to Speakers of Other Languages. Setelah dinyatakan tembus masuk universitas tersebut, ia lalu mengajukan ke LPDP dilengkapi dengan persyaratan lainnya.  “Ada 14 universitas yang saya daftar dan alhamduilillah saya diterima di Queen;s University of Belfast, Irlandia Utara,” ucapnya. 

Setelah mengurusi segala keperluan, tepat di tanggal 7 September 2017, Erpin berangkat dan akhirnya pada 9 September 2017 ia mendarat di Bandara Belfast sekaligus untuk pertama kalinya ia menginjakkan kaki di luar negeri. (***/bersambung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

News Feed