oleh

Seleksi Akhir JPT Pratama Maybrat, Peserta Paparkan Makalah

SORONG – Tahapan akhir proses penyeleksian Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama Kabupaten Maybrat, pemaparan makalah kepada lima Panitia Seleksi yang berlangsung di Kantor UPT BKN Kabupaten Sorong, Senin (7/12). Pemaparan makalah berlangsung dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Peserta seleksi JPT Pratama Kabupaten Maybrat membaca makalah sebelum pemaparan.

Pantauan Radar Sorong, masing-masing anggota pansel berada di ruangan berbeda, para peserta pun tidak dapat mengetahui interaksi antar peserta lain dengan para pansel. Tahap pemaparan makalah berlangsung selama dua hari, dimana hari pertama sebanyak 34 peserta yang hadir dan hari kedua  direncanakan 14 peserta.

Ketua Pansel, Jhoni Way,S.Hut,MSi menjelaskan, tahapan ini merupakan tahap terakhir dalam seleksi JPT Pratama Maybrat, sehingga diharapkan apapun yang tertulis dalam majalah para peserta dan disampaikan kepada pansel benar-benar hasil karya peserta. Peserta juga harus menguasai bidang yang diminati khususnya yang berhubungan dengan  visi-misi Kepala Daerah.

”Agar ketika mereka menyusun program nanti bisa tercapai visi dan misi Bupati. Sehingga, peserta diharapkan memiliki kemampuan dan konsisten saat lolos menjadi kepala OPD nanti,” jelas Jhoni Way kepada wartawan seraya menambahkan bahwa kelima Panitia Seleksi ini masing-masing memiliki fungsi dan tupoksi dalam melaksanakan seleksi.

Kapuslatbang KMP LAN Makassar, Dr. Andi Taufik,MSi mengatakan Pemerintah Kabupaten Maybrat telah menjalankan apa yang menjadi amanah UU Nomor 5 Tahun 2014, kemudian PP Nomor 11 Tahun 2017 dan PP Nomor 17 Tahun 2020, dimana ditunjukkan untuk membangun Sistem Merit dalam menajemen kepegawaian (ASN). Seleksi terbuka ini menjadi point penting dalam membangun sistem merit, berbeda dengan dahulu yang mengangkat eselon II tidak memerlukan mekanisme saat ini.

”Ini tahapan dimana peserta diminta untuk menjelaskan isi makalahnya. Karena, kami tugasnya melihat lebih dekat terkait apa yang diangkat oleh peserta, tentunya sesuai bidang tugasnya karena nantinya ketika mereka diberi tanggung jawab dalam memimpin organisasi, sudah tahu arahnya,” terangnya.

Intinya, sambung Andi, tema dalam seleksi adalah mengangkat kearifan lokal. Oleh sebab itu, pihaknya ingin menggali apa yang menjadi potensi para peserta serta pansel juga akan melihat kompetensi peserta berdasarkan hasil assessment dari asesor Polda Papua Barat. ”Itu yang kami fokuskan sekarang, tinggal bagaimana mereka pendalaman konsep karena pemimpin harus bisa berbicara juga dan menjual ide serta gagasannya,” ungkapnya.

Menurut Andi, para peserta ini bukan baru saja bekerja di birokrasi tetapi sudah bertahun-tahun sehingga peserta pasti memahami lingkungan pekerjaannya. Oleh sebab itu, saat diterpa dengan pertanyaan terkait pemerintahan Kabupaten Maybrat, peserta dengan mudahnya menjawab.”Pengalaman membuat mereka dapat beradaptasi, dan rata-rata dari mereka sudah lama di pemerintahan, tinggal mereka kembangkan saja,”ungkapnya.

Tokoh masyarakat, Drs. J.E. Hosio,M.Th,MSi mengungkapkan, berdasarkan Moto Kabupaten Maybrat Nehaf Sau Bonout Sau yang bermakna Satu Hati Satu Tujuan, dan Anu Beta Tubat yang bermakna Mari Beramai-ramai Saling Bergotong Royong, motto tersebut jangan hanya menjadi slogan saja namun filosofi tersebut dapat menopang kecintaan terhadap pekerjaan maupun masyarakat. ”Dunia sekarang ini penuh dengan teknologi, sehingga pegawai diharapkan bisa mendalami, sebab hal tersebut menjadi bekal untuk mereka guna memperkaya mereka dalam melaksanakan tugas,” ujarnya.

Etos kerja masyarakat Maybrat lanjut Hosio, adalah pekerja keras dan tidak ingin kalah dengan orang lain. Kabupaten Maybrat dibentuk untuk mensejahterakan masyarakat.  ”Karena yang terpenting adalah filosofi hidup mereka itu yang harus dikembangkan selain pengalaman dan sistem teknologi, tema-tema makalah ini harus dihayati dan dilakukan, karena Sosial Kultural harus mereka pahami dan menjadi landasan untuk melaksanakan tugas mereka,” tandasnya.

Seirama dengan Kepala LAN, Kepala BKD Provinsi Papua Barat, Drs. Yustus Meidodga kembali menegaskan para peserta ini merupakan orang birokrasi yang sudah lama mengabdi di dinas-dinas terkait sehingga ketika berbagai pertanyaan muncul berdasarkan makalah yang dibuat maka peserta sudah memiliki referensi untuk menjawab.

Salah satu peserta, Engelbertus Turot,SP,MSi mengatakan terkait topik yang disampaikan panitia yakni mengenai Kearifan Lokal dan Pemberdayaan Orang Asli Papua di Kabupaten Maybrat, sehingga ia melihat hal-hal mendasar dalam pembuatan makalahnya yakni dalam pembagian jabatan di Kabupaten Maybrat yang tidak dimonopoli oleh satu suku tertentu. Misalnya, Bupati dari Ayamaru, Wakil Bupati dari Aifat dan Sekertaris Daerah dari Aitinyo.

”Dalam pembagian jabatan, bupati tidak melihat masalah politik tapi berdasarkan pada kasih, kehormatan yang dikedepankan. Dulu ada perbedaan politik masa lalu, tapi beliau tidak permasalahkan sebab Maybrat milik bersama,” ungkapnya.

Kebijakan tersebut menjadi dasar pelaksanaan pembangunan di Kabupaten Maybrat, serta Maybrat menjadi proyek percontohon bagi wilayah lain karena Kabupaten Maybrat hampir 98 persen OAP sehingga dalam kebijakan pembangunan harus mengedepankan kearifan lokal. ”Disana juga ada kebijakan pembangunan yang merata  di 24 distrik dengan harapan bahwa kehadiran kegiatan tersebut secara langsung masyarakat dapat menjadi subjek dan objek pembangunan dan harapan terakhir adalah bagaimana mewujudkan masyarakat yang sejahtera sehingga masyarakat Papua betul-betul diberdayakan. Hal ini menjadi landasan dalam penulisan makalah saya,” jelasnya. (juh)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed