oleh

Sekolah Tatap Muka, Jam Belajar masih Dibatasi

-Metro-71 views

SORONG – Dua pekan sudah proses belajar-mengajar tatap muka di wilayah Pemerintah Kota Sorong berlangsung dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat, serta waktu belajar yang berlangsung hanya 4 jam dalam sehari.

Pantauan Radar Sorong, Sekolah Dasar (SD) Inpres 17 Remu Kota Sorong, yang merupakan sekolah dengan jumlah siswa terbanyak urutan kedua yakni 543 siswa, membagi dua sesi proses belajar-mengajar dengan pembelajar yang berlangsung mulai hari Senin hingga Sabtu.

PMB OPBJJ-UT Sorong

Kemudian, setiap kelas hanya dihadiri oleh 11 siswa yang duduk perorangan di masing-masing meja serta wajib menggunakan masker. Kepala Sekolah Dasar (SD) Inpres 17 Kota Sorong Horas Sianturi, S.Pd menjelaskan, setelah dibukanya sekolah tatap muka, proses belajar mengajar di SD Inpres 17 Kota Sorong  terasa menyenangkan bagi orang tua maupun siswa serta guru juga merasa puas memberikan pembelajaran terhadap siswa secara langsung.

“Selama proses pembelajaran tatap muka ini, saya menyarankan kepada guru agar hanya memberikan penjelasan materi kepada siswa, nanti tugas-tugas dikerjakan siswa di rumah. Mengingat waktu proses belajar-mengajar ini sangat singkat,”jelasnya kepada Radar Sorong, Senin (30/8).

Diakui Kepala Sekolah SD Inpres 17, meskipun beberapa sekolah lain menerapkan sekolah 3 kali seminggu. SD Inpres 17 justru melaksanakan sekolah setiap hari, mengingat waktu pembelajaran yang hanya 2 jam.

“Siswa sangat senang, khususnya siswa kelas 1 yang memang saat masuk ajaran baru sudah melaksanakan sekolah online. Sehingga saat belajar tatap muka, mereka senang sekali karena ketemu teman-teman baru dan guru,”ungkapnya.

Sejak keluarnya Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan Kota Sorong tertanggal 12 Agustus 2021 terkait diperbolehkan belajar tatap muka pada 16 Agustus 2021, pihak sekolah melaksanakan rapat dewan guru bersama komite selanjutnya memanggil orang tua siswa guna mempertanyakan persetujuan dilaksanakannya sekolah tatap muka.

“Kalau orang tua setuju, kami buatkan suratnya dengan tanda tangan materai, tapi kalau tidak setuju maka dibuatkan surat tidak setuju berserta alasannya,” ungkapnya.

Ia berharap ketika keadaan Kota Sorong sudah kembali  normal atau PPKM turun hingga level 1 maka proses belajar mengajar juga harus kembali normal seperti hari biasa.

Sementara itu di Kabupaten Sorong (Kabsor), mekanisme pembelajaran tatap muka di SDN 13 Kabupaten Sorong dilaksanakan menyesuaikan prokes. Pihak sekolah membagi 2 kelompok belajar di setiap kelas, yang setiap lelompoknya terdiri dari 12 sampai 15 siswa.

“Untuk sekolah tatap muka tidak bisa semua hadir, kami bagi kelompok A dan B. Jadwalnya selang seling, sehari kelompok A, hari berikutnya kelompok B. Jadi masing-masing anak punya jatah 3 kali belajar tatap muka tiap minggunya,” jelas Kepala SDN 13 Kabupaten Sorong, Karolina Jitmau, S.Pd.

Meski pembelajaran tatap muka sudah dilaksanakan, namun pihak sekolah juga masih menerapkan sistem belajar daring. Sehingga saat ini ada 2 metode belajar yang diterapkan, yakni metode daring dan luring.

“Jadwal sekolah tetap normal, artinya setiap hari siswa tetap belajar. Kalau hari ini kelompok A belajar tatap muka, berarti kelompok B mengikuti pembelajaran secara daring dari rumah. Begitu pun sebaliknya. Bukan berarti ketika siswa tidak datang ke sekolah, artinya mereka libur,” terangnya.

Selain jumlah siswa yang harus dikurangi, durasi belajar tatap muka di sekolah juga di pangkas hanya sekitar 3 jam saja. Seluruh tenaga pengajar di Sekolah tersebut juga telah divaksinasi untuk mencegah lahirnya cluster baru penyebaran Covid-19.

Pantauan Radar Sorong pada hari pertama pelaksanaan belajar tatap muka di SDN 13 Kabupaten Sorong, memang belum begitu banyak siswa yang hadir. Sebab pihak sekolah juga baru sempat menginformasikan kepada orang tua. Pembelajaran tatap muka di SDN 13 Kabupaten Sorong baru efektif per tanggal 31 Agustus.

Setelah pembelajaran tatap muka kembali diizinkan, Karolina juga tidak berharap banyak pada siswanya untuk mengejar prestasi. Sebab pada masa ini memang dibutuhkan adaptasi, sehingga memang ada standar kompetensi yang diturunkan.

“Kami tidak berharap banyak kepada siswa, karena semua butuh adaptasi. Memang ada standar kompetensi yang diturunkan, kita harus sesuaikan dengan kondisi. Jadi semampu mereka, kelas 1-3 yang penting bisa baca tulis, sementara kelas 4-6 harus bisa baca tulis dan hitung,”pungkasnya. (juh/ayu)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed