oleh

Sekolah Perketat Prokes Antisipasi Munculnya Klaster Baru Penyebaran Covid-19

Pemeriksaan suhu tubuh siswa sebelum mengikuti proses belajar mengajar tatap muka di SMAN 2 Kabupaten Sorong.

PMB OPBJJ-UT Sorong

SORONG – Kejadian munculnya klaster baru penyebaran Covid-19 dari kegiatan belajar tatap muka di beberapa daerah membuat banyak pihak sekolah yang semakin over protektif. Salah satunya seperti diterapkan di SMAN 2 Kabupaten Sorong Provinsi Papua Barat.

Pihak sekolah membentuk tim khusus penanganan Covid-19 (Satgas) yang khusus ditugaskan untuk melakukan pengawasan penerapan prokes terhadap siapapun yang beraktivitas di lingkungan sekolah. Tim tersebut juga bertugas menyiapkan segala perlengkapan dan kelengkapan penerapan prokes di sekolah. Mulai dari masker, hand sanitizer, sabun dan air pencuci tangan hingga alat pendeteksi suhu.

“Kami membentuk tim penanganan COVID-19 di sekolah ini untuk mempermudah kami. Tim itulah yang nantinya akan membantu mendisiplinkan penerapan prokes. Juga menyediakan fasilitas penunjang kegiatan belajar tatap muka seperti masker, dan sebagainya,” kata Kepala SMAN 2 Kabupaten Sorong, Fice Loppies, S.Pd, Rabu (6/10).

Fice menjelaskan, sebagai langkah antisipasi ia juga telah menyarankan para siswa untuk mengikuti vaksinasi. Demikian pula kepada para guru di sana. Namun ia menekankan, kendati siswa maupun guru telah divaksinasi, hal tersebut bukan alasan untuk mengabaikan prokes.

“Jujur saja virus ini menjadi salah satu hal yang saya takuti sekarang. Makanya saya selalu menekankan bahwa prokes jangan sampai ditinggalkan dengan alasan apapun. Karena meski sudah divaksin, risiko paparan virus tersebut masih tetap menjadi ancaman apabila kita lengah untuk menerapkan prokes,” terang Fice.

Sesuai instruksi pemerintah, saat ini kegiatan pembelajaran tatap muka di SMAN 2 Kabupaten Sorong dilakukan dengan sistem 2 shift. Dari total 36 siswa setiap kelas, hanya 50 persen yang boleh mengikuti KBM dalam setiap pertemuan.

“Tanggal 1 September sudah diterapkan kegiatan belajar tatap muka yang dibagi dalam dua sesi. Jadwalnya bergantian, kami atur demikian karena susunan jadwal pelajaran kami buat per satu minggu, sehingga harus diselang-seling supaya seluruh siswa bisa sama-sama mendapatkan pelajaran,” jelasnya.

Pihak sekolah juga meniadakan jam istirahat, dengan tujuan mempersempit keleluasaan siswa untuk saling berinteraksi secara bebas. Durasi belajar yang juga dipersingkat, biasanya satu jam pelajaran sama dengan 45 menit maka di masa pandemi ini satu jam pelajaran hanya 35 menit. Kegiatan belajar tatap muka selama pendemi maksimal hanya sampai jam 11 siang.

Untuk diketahui, berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, hingga Rabu 06 Oktober 2021, di Kabupaten Sorong tercatat sebanyak 1.260 orang yang hasil PCR-nya positif. atau 5,48 persen dari total kasus positif se-Provinsi Papua Barat sebanyak 22.982 kasus positif (Sembuh 22.511).

Dari total 1.260 kasus positif Covid-19 di Kabupaten Sorong, 1.220 diantaranya yang dinyatakan sembuh (96,8 persen), sedangkan yang meninggal sebanyak 34 orang (Se-Papua Barat tercatat sebanyak 386 orang meninggal positif Covid).

Dengan demikian, 6 Oktober 2021, kasus aktif Covid-19 di Kabupaten Sorong ada 6 kasus. Se-Papua Barat kasus aktif sebanyak 119 kasus aktif, terbanyak di Kabupaten Teluk Bintuni 77 kasus aktif dan Kota Sorong 16 kasus aktif. (ian/ayu)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed