oleh

Sejumlah Distrik Berpotensi Banjir dan Longsor

-Metro-121 views

SORONG–Bersama tim khusus Gugus Siaga Tanggap Banjir, Badan Penanggulangan Bencana  Daerah (BPBD) Kabupaten Sorong telah melakukan pemetaan wilayah yang berpotensi terjadi bencana saat dilanda cuaca ekstrem seperti hujan lebat. Hal ini merupakan langkah awal dari upaya mitigasi yang dilakukan untuk siaga tanggap bencana.

Kepala BPBD Kabupaten Sorong, Aminadab Lobat, S.A.N.,M.Si menuturkan, beberapa distrik di Kabupaten Sorong memiliki potensi yang sama terjadinya bencana banjir dan tanah longsor. Daerah pertama dengan potensi banjir cukup tinggi yakni berada di wilayah Ibukota Kabupaten, yakni Distrik Aimas. Selain Distrik Aimas, Distrik Mariat, Distrik Mayamuk, dan Distrik Salawati juga memiliki potensi yang sama.

PMB OPBJJ-UT Sorong

“Kalau distrik lain, potensi banjir memang ada. Namun berdasarkan pemantauan kami kondisinya tidak terlalu parah. Selama ini yang terjadi belum pernah sampai memakan korban seperti di empat distrik lain yang sudah saya sebutkan,” ungkapnya.

Kemudian untuk daerah dengan potensi bencana tanah longsor yang paling tinggi di Kabupaten Sorong adalah di Distrik Makbon. Hal tersebut, kata Aminadab, tentu dipengaruhi oleh kontur alam Distrik Makbon sendiri yang berupa perbukitan dengan jurang yang dalam sehingga menyebabkaan daerah ini berisiko besar terhadap tanah longsor. Selain Makbon, beberapa titik di Distrik Klamono dan Distrik Salawati juga tercatat pernah mengalami longsor.

“Bahkan kami dari BPBD juga telah memfokuskan satu kegiatan disana akibat bencana longsor yang sempat terjadi. Kami amankan satu tempat ibadah yang sudah hampir jatuh. Karena hujan dengan intensitas yang tinggi maka daerah pada kemiringan tertentu inilah yang dikhawatirkan terjadi longsor,” bebernya.

Dari pemantauan intensif BPBD, selain dikarenakan curah hujan yang tinggi, faktor lain yang juga mempengaruhi terjadinya banjir di Kabupaten Sorong yakni karena semakin berkurangnya daerah resapan air dan pendangkalan dasar sungai akibat adanya aktivitas pencucian pasir.

“Daerah resapan air makin berkurang karena masyarakat sudah banyak yang membangun. Terus saya lihat aktivitas pencucian pasir juga masih ada di Aimas dan di Mariat, padahal materialnya tidak ada disini. Jadi pernah saya investigasi ternyata mereka bawa pasir kotor dari kota lalu dicuci disini. Akhirnya dari cucian pasir itulah sungai jadi dangkal dan banyak saluran pembuangan tersumbat,” terangnya.

Aminadab berharap, masyarakat harus bijak berperilaku sebelum terjadi bencana dan tidak boleh saling menyalahkan. Sebab bencana merupakan tanggung jawab bersama, sehingga masyarakat juga punya peran penting dalam melakukan upaya pencegahan. (ayu)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed