oleh

‘Salat Id di Rumah Saja’

Tidak Ada Salat Id di Alun-Alun Aimas

SORONG – Berdasarkan Surat Edaran Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 16 dan Nomor 17 Tahun 2021, Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kemeterian Agama Kota Sorong, Agung Sibela menyarankan agar pelaksanaan salat Idul Adha dilakukan di rumah bersama dengan keluarga. Demikian dikatakan Agung Sibela kepada Radar Sorong, Sabtu (17/7).

PMB OPBJJ-UT Sorong

Menurut Agung Sibela, guna melanjutkan kebijakan nasional dan mendukung SE Menteri Agama, maka pelaksanaan ibadah salat Idul Adha dilaksanakan di rumah bersama keluarga, sementara pelaksanaan salat Idul Adha di  masjid-masjid dan lapangan agar ditiadakan selama Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

“Kalau merujuk kepada SE 17 dan hasil zoom dengan seluruh Kakanwil, bahwa semua pelaksanaan ibadah salat Idul Adha di rumah saja. Kesimpulan SE 17 itu tidak ada pemaksaan salat di lapangan dan masjid, khususnya Papua Barat itu Kota Sorong dan Manokwari yang menjadi penekanan,” jelas Agung Sibela.

Surat Edaran Menteri Agama Nomor 16 Tahun 2021, sambung Agung, berbunyi pertama malam takbiran bisa dilaksanakan oleh para jamaah  yang berusia 8 -59 tahun dan dalam kondisi sehat khususnya di zona hijau dan kuning dengan protokol kesehatan yang ketat, hanya diikuti oleh maksimal 10 persen dari jumlah jamaah dengan waktu paling lama 1 jam, sementara itu takbir keliling dilarang untuk zona merah dan orange.

Kedua, di zona merah dan orange salat Idul Adha ditiadakan, sementara di zona hijau dan kuning diperbolehkan dengan jumlah jamaah 30 persen dan sudah berkoordinasi dengan pemerintah daerah yakni Satgas penanganan COVID-19 dan aparat keamanan serta menetapkan kesehatan. 

Ketiga, khotbah harus memakai masker dengan durasi maksimal 15 menit, serta dalam khotbah harus mengingatkan jamaah untuk selalu menjaga kesehatan dan mematuhi protes. Keempat,  jamaah salat Idul Adha berusia 8 hingga 15 tahun, sehat dan tidak isolasi mandiri, tidak dari perjalanan luar kota, tidak hamil atau menyusui, berasal dari warga setempat, membawa perlengkapan sendiri, memakai masker, menjaga kebersihan tangan, menghindari kontak fisik, menjaga jarak dan tidak berkerumunan.

Kelima, penyembelihan hewan qurban dilaksanakan sesuai syariat Islam berlangsung dalam waktu 3 hari yakni 11-13 Dzulhijjah, kemudian dilakukan di rumah pemotongan hewan ruminasia RPH-R. Bila terbatas dapat dilakukan di luar dengan ketentuan menerapkan physical distancing prokes dan kebersihan petugas dan pihak yang berkurban serta kebersihan alat.

Kemudian, SE Menag RI Nomor 17 berbunyi, pertama peniadaan peribadatan sementara di tempat ibadah dan kegiatan peribadatan dilakukan di rumah masing-masing selama pemberlakuan PPKM darurat. Kedua, malam takbiran dan salat Idul Adha ditiadakan di seluruh kabupaten/kota dengan level assessment 3 dan 4 yang diterapkan PPKM darurat. Ketiga, penyembelihan hewan qurban dilaksanakan sesuai syariat Islam berlangsung dalam waktu 3 hari 11-13 Dzulhijjah dilakukan di rumah pemotongan hewan.  Namun bila terbatas dapat dilakukan di luar dengan ketentuan penerapan physical distancing, protes dan kebersihan petugas serta pihak yang berkurban maupun kebersihan alat.

Sementara itu, pelaksanaan salat Idul Adha 1442 Hijriah di Alun-Alun Aimas Kabupaten Sorong, Selasa (20/7) besok ditiadakan. Berdasarkan hasil rapat Pemerintah Kabupaten Sorong dengan Panitia Hari-hari Besar Islam (PHBI) Kabupaten Sorong beserta stakeholder terkait, diputuskan tidak ada pelaksanaan salat Idul Adha kali ini di lapangan terbuka.

Ketua PHBI Kabupaten Sorong, Katijo menuturkan, dalam masa Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) ini, umat muslim di Kabupaten Sorong diimbau untuk melaksanakan salat Idul Adha di rumah masing-masing, atau jamaah juga bisa melaksanakan salat di masjid terdekat di lingkungannya.

“Situasi saat ini yang cukup mengkhawatirkan, sehingga kami memutuskan untuk meniadakan salat Idul Adha di lapangan. Solusinya, masyarakat bisa salat bersama keluarga di rumah masing-masing, atau kalau memang sangat perlu salat di luar, boleh dilakukan di masjid terdekat,” jelas Katijo.

Keputusan peniadaan salat Idul Adha di lapangan terbuka diambil dengan pertimbangan keselamatan umat muslim dengan ancaman covid-19 yang semakin meningkat di Kabupaten Sorong. Ia mengatakan, keputusan tersebut juga dimaksudkan agar dapat mencegah adanya klaster baru pasien covid setelah perayaan Idul Adha nanti.

Namun, pelaksanaan ibadah salat Idul Adha di masjid dan musala juga jangan sampai menyebabkan munculnya pasien covid klaster baru. Oleh karenanya, jamaah yang melaksanakan ibadah salat Idul Adha di masjid dan musala juga diminta memperketat prokes selama ibadah berlangsung.

Katijo berharap, pengurus masjid masing-masing menyediakan kelengkapan prokes bagi jamaah, termasuk menyediakan halaman masjid sebagai antisipasi jika jumlah jamaah yang datang melampaui kapasitas di dalam masjid. Ia juga menegaskan agar budaya bersalaman usai ibadah, ditiadakan untuk menghindari kontak langsung antara satu jamaah dengan jamaah lainnya.

“Saran terbaik memang kami sangat menyarankan jamaah salat di rumah masing-masing. Tapi pengurus masing-masing masjid tetap harus antisipasi halaman masjid. Supaya kalau di dalam penuh, bisa disambung di luar. Namun saya imbau jamaah jangan memaksa, jika memang sudah benar-benar tidak bisa. Kemudian yang terakhir, budaya berjabat tangan jangan dilakukan dulu. Begitu selesai salat, jamaah langsung pulang, jangan ciptakan kerumunan,” pesan Katijo. (juh/ayu)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed