oleh

Ruang Isolasi COVID-19 sudah Kosong

Dialih Fungsikan jadi Ruang Rawat Pasien Umum

SORONG– Merupakan hal yang menggembirakan, trend kasus positif COVID-19 di tanah air , khususnya di Kota Sorong tampaknya kian menurun. 

PMB OPBJJ-UT Sorong

  Hal ini terlihat dari ruang isolasi bagi pasien COVID-19 di RSUD Sele Be Solu yang sudah kosong.  Karena tidak lagi merawat pasien terkonfirmasi positif COVID-19 di Kota Sorong semenjak 3 hari lalu, RSUD Sele Be Solu memanfaatkan ruang isolasi pasien COVID-19 untuk merawat pasien umum.

 Hal ini sebagaimana diungkapkan Direktur RSUD Sele Be Solu, dr. Mavkren Kambuaya, Jumat (27/8).

Menurutnya, ruang isolasi pasien COVID-19 kini telah kosong lantaran sudah tidak ada pasien terkonfirmasi positif COVID-19 yang dirawat. Sehingga ruang isolasi tersebut dialih fungsikan untuk merawat pasien umum (non COVID-19).

”Ruang isolasi akan dialih fungsikan, tempat-tempat tidur bekas rawat pasien COVID-19 dibersihkan dan disterilkan kembali untuk dimanfaatkan guna merawat pasien non COVID-19 karena sudah banyak kunjungan pasien umum,”ujar dr Mavkren Kambuaya.

 Direktur RSUD Sele be Solu, menambahkan tidak adanya pasien COVID-19 di RSUD Sele Be Solu dikarenakan jumlah pasien yang sembuh bertambah dan angka positif COVID-19 yang terus menurun di Kota Sorong. Oleh sebab itu, saat ini IGD RSUD Sele Be Solu sudah kembali buka melayani masyarakat 24 jam.

 ”Saat ini, pasien-pasien juga sudah tidak menumpuk di IGD karena adanya pemanfaatan ruangan Isolasi yang sebelumnya merawat pasien COVID-19,”imbuh dr Mavkren.

 Selain itu,  RSUD Sele Be Solu juga telah berkoordinasi dengan para direktur rumah sakit yang menerima pasien COVID-19 seperti RS Pertamina, RSAL dan RSRC agar ketika ada pasien yang hasil swab antigennya positif, maka langsung diarahkan ke rumah sakit tersebut.

”Nanti kita akan manfaatkan dulu RSRC, dimana jika ada pasien yang swab antigennya positif COVID-19, kami koordinasi dan rujuk ke RSRC atau RS Pertamina maupun RSAL. Kami fokuskan ke pasien umum, sebab melihat beberapa bulan lalu, pasien umum karena takut dan menganggap kami hanya  merawat pasien COVID-19 sehingga mereka memilih di rumah, akhirnya banyak yang tidak tertolong,”ujarnya.

dr. Mavkren juga berterima kasih kepada Wali Kota Sorong dan Dinas Kesehatan Kota Sorong karena, intensif tenaga kesehatan yang menangani pasien COVID-19 sudah dibayarkan untuk 3 bulan yakni Bulan Januari, Februari dan Maret 2021.

  Sebenarnya, kendala keterlambatan pembayaran karena adanya kebijakan perubahan di pusat.

Dimana, sambung dr. Mavkren, perencanaan kebijakan baru munculnyadi bulan Maret sedangkan pihaknya sudah melakukan perencanaan duluan, padahal dari Kementerian Kesehatan (pusat) dana alokasi umum sudah dialihkan menjadi beban daerah. 

”Itulah yang kami berkoordinasi dengan Wali Kota, Bagian keuangan dan Dinas Kesehatan untuk menyusun kembali anggaran tersebut, dan akhirnya terealisas,”pungkas Direktur RSUD Sele be Solu dr Mavkren Kambuaya. (juh)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed