oleh

Ribuan Umat Islam Sholat Idul Adha

-Manokwari-609 views

MANOKWARI-Umat Islam di penjuru dunia merayakan hari besar Idul Adha 10 Zulhijah 1440 Hijiriah, Minggu (11/82019). Di Manokwari,  Papua Barat, lokasi sholat Idul Adha di sejumlah tempat, seperti di Lapangan Borasi, Masjid Ridwanul Bahri Fasharkan TNI-AL Manokwari, Masjid At-Taqwa Kampung Makassa, Masjid Istiqlal Makodam XVIII/Kasuari, Masjid Al-Kaustsar, Masjid Darul Ulum Amban dan beberapa masjid lainnya.

Di Lapangan Borasi, ribuan umat Islam memadati lapangan sepakbola ini, termasuk Wakil Gubernur Papua Barat Mohammad Lakotani, SH, MSi.  Jemaah hingga membludak di badan jalan samping lapangan.

Cuaca cerah mengiringi pelaksanaan sholat Idul Adha. Bertindak sebagai imam sholat Ied M Asrofil Woretma, SPdI dan khotib H Ahmad Nausrau, SPdI, MM (Ketua MUI Prov  Papua Barat). Dengan khusuk jemaah melaksanakan sholat sunat muakat ini.

Khotib H Ahmad Nausrau, SPdI, MM mengupas kisah Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan Siti Hajar sebagai teladan. Ismail merupakan anak sholeh  dan baik bagi bangsa dan agamanya serta membahagiakan kedua orang tuanya. Rela ketika diminta orang tuanya Nabi Ibrahim untuk dikorbankan, namun kemudian diganti dengan  seekor Kibas (kambing Arab).

“Siti Hajar sebagai istri patuh dan taat kepada suaminya. Dia juga wanita yang tawakal dan beriman secara sungguh-sungguh kepada Allah. Memilih istri yang sholeha merupakan prasyarat melahirkan laki-laki yang sholeh. Istri akan menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya,’’ ujar Nausrau.

Nabi Ibrahim  telah membangun sebuah pola pendidikan seperti diabadikan oleh Allah SWT dalam Al-Quran. Pola pendidikan integral yang melahirkan nabi dan rasul Allah. Ditempatkannya Nabi Ismail di lembah yang tandus tanpa fasilitas sebagai bentuk pola pendidikan.

“Penempatan Nabi Ismail di tempat yang tandus memberi makna bahwa anak didik perlu dikondisikan, tidak manja dengan fasilitas. Fasilitas yang serba ada akan menyebabkan potensi kecerdasan anak, spiritual dan fisikal anak tidak berkembang baik. Bahkan dengan ketersediaan fasilitas anak akan menggantungkan diri para materi,’’ ujarnya.

Dikatakan Ahmad Nuasrau, pola pendidikan seperti dijalani Nabi Ismail akan melahirkan anak yang tangguh. Seorang anak harus dikondisikan agar dekat dengan masjid. “Orang tua dan guru  harus membiasakan anak-anak ke masjid. Anak-anak  harus digiring untuk melaksanakan sholat di masjid untuk mendapatkan kultur diibadah yang baik,” jelasnya.

Cuaca cerah yang cenderung panas di pagi hari tak menghalangi para jemaah untuk tetap berada di lapangan mendengarkan khotbah. Khotib menutup ceramahnya dengan doa keselamatan bagi seluruh umat.

Wakil Papua Barat, Mohammad Lakotani kepada wartawan mengatakan, Idul Adha memiliki banyak makna. Pada hari besar ini, umat Islam diajak untuk berkurban seperti apa  yang telah ditunjukan Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail.

“Perjalanan hidup Nabi Ibraham dan Nabi Ismail juga mempunyai makna, bagaimana itu  ditempa, dididik untuk menjadi anak yang taat. Apalagi situasi saat ini pengaruh globalisasi, teknologi yang makin pesat,” kata Wagub.(lm)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed