oleh

Punya Ikatan Emosi karena Ayahnya Ikut Bangun Anjungan Sulsel

Berbincang dengan Dirut TMII, Tanribali Lamo ihwal Perkembangan Taman yang Dibangun Ibu Tien (1)

Tempat rekreasi menjadi magnet bagi masyarakat di Jakarta. Selain untuk tempat berkumpul bersama keluarga, serta melonggarkan otot yang tegang dan melepas stress. Salah satu lokasi wisata yang bisa memberikannya adalah Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Bedanya, di sana, selain untuk rekreasi, kita juga bisa mendapatkan ilmu pengetahuan.

NASUHA, Jakarta

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai TMII, awak INDOPOS berkesempatan mewawancarai Direktur Utama TMII, Mayjen TNI (Purn) Tanribali Lamo. Sosoknya memang sudah sangat familier di belantika pelestarian dan pengembangan kebudayaan tradisional di Indonesia.

Saat tim koran ini tiba di kantor pengelola TMII pukul 10.30 WIB, telah disambut dengan hangat. Sebelum dipersilakan masuk, tim menunggu beberapa saat di ruang tunggu. Ruangan itu cukup luas dengan hiasan topeng khas dari Provinsi Jawa Barat.

Sejurus kemudian, dua orang pegawai mempersilahkan tim INDOPOS masuk ke ruang kerja Direktur Utama TMII. Tampak sosok pria tengah duduk. Sembari berdiri, suara lantangnya mempersilahkan tim koran ini duduk. ”Silakan. Silakan masuk,” tutur pria tersebut sembari menyambut salam, lalu memberikan jabatan tangan yang erat, Rabu (31/7/2019).

Gayanya yang supel, serta santun kepada siapa saja, membuat sosok ini mudah dikenal. Loyalitas namun tegas. Tidak sedikit orang-orang di sekelilingnya, sangat menghormatinya.

Saat membuka pembicaraan, pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, 15 November 1952 ini lebih dulu menceritakan tentang perjalanan hidupnya. Setelah mengambil keputusan untuk menyelesaikan karir kemiliteran pada 2008, perwira yang memiliki pangkat bintang dua ini, lalu melanjutkan karir di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sebagai Dirjen Kesatuan Bangsa dan Politik selama tujuh tahun.

Sejumlah gebrakan pun dilakukannya saat menjabat Dirjen Kesatuan Bangsa dan Politik. Salah satunya adalah menerbitkan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Fungsi dan Peran Anjungan Daerah di TMII

Senyum yang ramah terus menghias wajah pria yang pernah didapuk Pejabat Gubernur Sulawesi Selatan, pada 2008 lalu. ”Apa yang kalian ketahui tentang TMII? Bagaimana dulu dan sekarang?” tanya Tanribali Lamo.

Sebagai wahana pelestarian dan pengembangan kebudayaan, TMII ujarnya berbeda dengan tempat rekreasi lain di Indonesia. Namun peran dan fungsi TMII masih banyak belum diketahui luas oleh masyarakat. Terutama para generasi milenial saat ini.

Dengan tempo yang sesingkat-singkatnya, ia kemudian menceritakan sejarah Indonesia sebagai sebuah negara. Luas Indonesia dengan ragam suku, bahasa dan adatnya saat itu menimbulkan keresahan Presiden Soeharto. Sampai muncul ide oleh Ibu Negara, Siti Hartinah, yang lebih dikenal dengan sebutan Ibu Tien Soeharto pada tanggal 13 Maret 1970.

Ide membuat miniatur Indonesia ini bangkit setelah Ibu Tien mendengarkan dan menghayati isi pidato Presiden Soeharto tentang keseimbangan pembangunan umum DPR GR pada 1971.

Selain itu, beliau juga sering menyertai presiden mengunjungi negara-negara sahabat dan melihat objek-objek wisata di luar negeri. Sehingga bangkit gagasan untuk membangun taman rekreasi yang menggambarkan keindahan dan keberagaman Indonesia. Melalui taman rekreasi ini, diharapkan dapat membangkitkan rasa bangga dan rasa cinta tanah air pada seluruh bangsa Indonesia. Maka dimulailah suatu proyek yang disebut Proyek Miniatur ’Indonesia Indah’, yang dilaksanakan oleh Yayasan Harapan Kita. ”Masyarakat yang masuk di TMII bisa melihat 1.001 macam budaya di sini,” ujarnya.

Pembangunan TMII, menurut pria yang pernah didapuk sebagai Pejabat Gubernur pada empat provinsi ini, tidak lepas dari sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sampai sederet peristiwa nasional saat itu yang menyita pengorbanan darah hingga nyawa putra-putri terbaik bangsa. ”Usai Kemerdekaan ada Trikora, Dwikora sampai tragedi 65,” ucapnya.

Di atas lahan kurang lebih luasnya 150 Hektare (Ha) dibuatlah perencanaan pembangunan TMII. Saat itu, bisa dikatakan Tanri media untuk sosialisasi masih sangat sulit. Dengan keterbatasan media televisi hingga media cetak. Sampai akhirnya muncul reaksi penolakan dari masayarakat melalui aksi demontrasi. ”Itu semua tidak menghalangi pembangunan TMII. Bahkan saat itu semua gubernur dilibatkan untuk lebih aktif,” ungkapnya.

TMII sendiri bagi Tanri memiliki ikatan emosional bagi dirinya. Dia menerangkan, almarhum ayahnya juga turut aktif membangun anjungan Sulawesi Selatan di TMII. Karena, saat itu, sang ayah menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Selatan. ”Keong mas itu berasal dari Sulawesi Selatan. Saat itu keong mas dibawa langsung oleh ibu saya,” akunya.

Ia menyadari, TMII, sejak pertama dibangun bukan untuk menjadi tempat rekreasi besar. Hal itu dapat dilihat dari lebar jalan saat ini. Sebab, memang sejak awal TMII dibangun sebagai pusat kebudayaan dan edukasi. ”Dulu kali pertama TMII dibangun lebih banyak tempat budaya dan tempat edukasi. Ini dibuktikan banyak museum di TMII. Dan ini hanya ada satu di dunia, dan itu di Indonesia,” ujarnya.

Terbukti, sejak pertama kali dibuka hingga 1998, banyak sekali tamu dari negara-negara di belahan dunia bertandang ke TMII. Tamu-tamu negara itu dari duta besar (dubes) berbagai negara. Sayangnya, jumlah kunjungan duta besar terus menurun setelah reformasi. ”Alhamdulillah belakangan ini duta besar banyak berkunjung. Seperti Dubes China dan Dubes Nigeria. Menyusul Dubes Vietnam pada waktu dekat,” bebernya.

Karena semangat yang dibangun awalnya adalah untuk tempat melestarikan budaya, TMII menurut Tanri seyogianya merupakan museum besar untuk Indonesia. Ini yang membedakan TMII dengan semua tempat rekreasi lainnya.

Namun, seiring berjalannya waktu, menurut Tanri di sepanjang area TMII dibangun banyak fasilitas permainan. Kemunculan wahana permainan adalah upaya untuk beradaptasi dengan zaman demi mendatangkan pengunjung. Langkah ini baru dilakukan usai 1998 lalu.

Seiring dengan perubahan zaman serta dinamisme pembangunan di Indonesia, membuat TMII juga ikut berkembang. ”Dulu hanya 27 anjungan daerah. Saat itu bangsa ini tidak berpikir akan terjadi pemekaran. Makanya anjungan daerah lama itu lahannya luas,” katanya.

Saat ini, TMII memiliki 34 anjungan daerah. Terbaru di antaranya anjungan Papua Barat, Banten, Sulbar, Babel, Maluku Utara, Maluku Barat dan Kaltara. Kondisi tersebut, menurut Tanri mempengaruhi internal pengelolaan TMII.

Salah satunya pada pengadaan lahan. Sebab, pada 1975 ketika TMII diresmikan, tepatnya pada tanggal 20 April, luas lahan yang awalnya 100 Ha, merupakan hasil sumbangan masyarakat. Dua tahun kemudian, yakni 1977, tanah pada TMII diserahkan kepada negara. ”Dasarnya Akte Persembahan. TMII ini hasil sumbangan masyarakat.

Di Sasono Utomo terdapat penghargaan berupa piagam untuk orang-orang yang sudah berjasa kepada TMII. Ini yang banyak tidak diketahui oleh orang,” ujarnya.

Sembari menunjukkan sebuah buku ”Apa dan Siapa”, ia menuturkan, piagam penghargaan diberikan kepada semua orang yang sudah menyumbang ke TMII. Dari 150 Ha lahan TMII di Sekretariat Negara (Sekneg) memiliki status hak pakai. Dalam Perpres 51 disebutkan lahan diserahkan ke negara, namun pengelolaannya di bawah Yayasan Harapan Kita. ”Kami tidak menerima APBN. Karena TMII untuk masyarakat. Jadi kami tidak menaikkan harga seenaknya. Harga harus tetap terjangkau oleh masyarakat,” ujarnya.

Karena kondisi keuangan tersebut, juga ikut membuat TMII berada dalam situasi sulit dalam dua dekade terakhir. Namun, sejak resmi didapuk menjadi Direktur Utama TMII pada 17 Februari 2018 lalu, Tanribali Lamo langsung tancap gas melakukan pembenahan.

Sejumlah kebijakan baru dibuat. Hingga rencana TMII untuk mempersolek diri. Apa saja dan bagaimana kebijakan tersebut? Ikuti perbincangan INDOPOS dengan Tanri pada edisi selanjutnya. (bersambung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed