oleh

Puasa, Obat Pembersih

Oleh : Agung Sibela, S.Ag.*

Diantara membersihkan jiwa adalah mentaati semua perintah Allah dan menjahui segala larangan-Nya. Orang yang mengerjakan semua perintah dengan ikhlas, berarti orang itu sudah benar-benar pasrah dan tidak ada perasaan dibebani dan dipaksa. Demikian juga halnya jika terjauh dari perbuatan maksiat, tidak ada beban ­mental yang ditanggungnya. Jiwa orang itu menjadi tenang dan tentram, sebab tidak ada yang perlu digelisahkan.

PMB OPBJJ-UT Sorong

Disinilah letak peranan iman supaya orang tahu persisi kepada siapa dia mengabdi dan menyatakan rasa syukurnya. Bila iman tidak kuat, bisa saja orang melakukan sesuatu (makan, minum, bercampur dengan istri) karena merasa tidak ada yang mengawasi dan melihat perbuatannya. Kalau orang hanya menutup diri dari penglihatan dan pengawasan manusia semata, berarti dia telah menidiakan Allah secara langsung atau tidak, begitu juga keberadaan malaikat di kanan dan kirinya.

Agama Islam disyariatkan mengandung hikmah dan hikmah itu oleh orang orang yang berilmu dan tidak terungkap oleh orang-orang yang tidak berilmu. Semua ciptaan yang diciptakan oleh Allah ada hikmahnya, tidak ada yang diciptakan–Nya bathil dan sia-sia tidak berguna. Demikian halnya dengan urusan ibadah dan muamalah yang disuruh dan yang dilarang, yang wajib dan yang haram, ada yang mengandung hikmah walaupun diantara hikmah itu belum terungkap oleh akal manusia. 

Jadi sebenarnya ibadah puasa untuk kepentingan hamba Allah yang menjalankan  ibadah, bukan untuk kepentingan Allah. Perbuatan baik tidak mendatangkan manfaat bagi Allah dan perbuatan maksiat hamba-Nya tidak membawa mudharat bagi-Nya. Ketaatan hamba-hamba-Nya semuanya kembali kepada kemaslahatan hamba-hamba-Nya. Kita sendiri dapat menyimpulkan bagaimana sebenarnya  pribadi orang yang hanya takut dan malu kepada manusia saja, tidak kepada Allah dan malaikat yang selalu mengawasinya. Maka pasti dia hanya akan membesarkan manusia dari pada Allah, hal ini bisa kita lihat apakah kita lebih mendahulukan perintah Allah atau perintah manusia ?

Para ahli di bidang kesehatan menyatakan bahwa diantara pengobatan yang dapat menyembuhkan penyakit adalah puasa, seperti menurunkan berat badan dan bahkan untuk mengobati panyakit magh. Padahal kalau dilihat sepintas orang yang berpenyakit magh tidak dapat berpuasa, nah dalam suasana Cocid 19 saat ini memang kita perkuat imun, akan tetapi dengan puasa sebenarnya tubuh kita sedang menetralisir metabolisme tubuh yang dengan ini akan menjadi penguatan bagi imun seseorang, kecuali bila seseorang itu berada dalam kondisi sakit yang parah. Karena apabila kita terus menerus meladeni kebutuhan jasmani, perut tidak dberi kesempatan beristirahat, sama saja berarti hewan ternak yang hanya memikirkan makan saja. Pada saat seperti itulah harkat dan martabat manusia menurun lebih rendah dari hewan ternak. Sebaliknya, orang yang menjalankan ibadah puasa dia melatih rohaninya supaya berlaku sabar, tekun, disiplin memperhalus perasaan dan memperbanyak ibadah dan sedekah. Pada saat itu derajat dan harkatnya naik seperti para malaikat.  

Orang yang  melakukan ibadah puasa harus sabar dan tekun karena banyak godaannya. Orang harus dapat menahan amarah dan mengendalikan emosi, karena tugas syaitan memancing-mancing supaya kesabaran orang hilang. 

Demikian pula halnya bahwa puasa dapat mendidik orang berkemauan keras. Orang yang tidak mempunyai kemauan keras, dia tidak mampu menahan lapar dan menahan haus, tidak kuat dia membendung pikiran-pikiran jahat dan hawa nafsu yang bergejolak dalam dirinya.   Sebagai manusia yang normal didalam dirinya terdapat nafsu seksual untuk memenuhi kebutuhan biologis . Agama Islam pun tidak menyangkalnya, kalau tidak dibenarkan tentu dunia akan kosang, umat manusia tidak berkembang biak  lagi. Akan tetapi Islam mengatur supaya nafsu seksual dikendalikan dan diatur sedemikian rupa sehingga tidak terjadi penyimpangan.   

Sebagian orang asalkan untuk mendapatkan harta, tidak perduli dia dengan jalan apa yang   ditempuhnya halal atau haram dan untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, dia tidak memperhatikan statusnya. Akan tetapi orang berpuasa dilatih dan diingatkan supaya menempuh jalan yang benar. Orang yang berpuasa  dilarang memakan makanan  walaupun miliknya sendiri dalam batas waktu tertentu dan dilarang bercampur dengan istrinya di siang hari. Orang berpuasa merasa betapa besar nikmat Allah yang diberikan kepada mereka. Nikmat itu baru diketahui tinggi nilainya setelah nikmat itu hilang daripadanya, selagi nikmat itu ada  nilainya dianggap tidak ada.  

Alangkan nikmatnya kenyang dan segar (tidak haus) setelah merasakan lapar dan dahaga. Setelah merasakan besar bagaimana nikmat Allah (kenyang dan segar badan merupakan contoh kecil), maka pada saat lapar dan haus orang akan ingat dan merendah diri kepada Allahm dan pada saat kenyang dan segar badan, orang bersyukur dan memuji-Nya.  

Banyak hikmah yang dapat kita ambil dari perintah berpuasa, akan tetapi karena keterbatasan ruang dan waktu sehingga seharusnya  setiap  pribadi muslim  mesti berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menyelami lautan Ramadan ini, menyiapkan hatinya untuk memahami perintah Allah yang maha Agung, maka Insya Allah akan mendapatkan jalan-jalan kefahaman. Allahu’alam bissawab. (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed