oleh

Protes PSSI

-Sport-628 views

JAYAPURA – Semifinal leg kedua Liga 1 Putri antara Persipura Tolikara kontra PS TIRA Persikabo berakhir tanda tanya. Persipura yang harusnya lolos ke final jika mengacu pada regulasi atau aturan FIFA dan AFC, menolak melanjutkan pertandingan yang harus diselesaikan dengan adu penalti di Stadion Cenderawasih Kabupaten Biak, Sabtu (7/12) lalu.

Manajemen Persipura Tolikara pun melayangkan surat protes kepada PSSI terkait rancunya regulasi semifinal leg kedua tersebut. Pasalnya, mereka menilai jika regulasi yang dibuat PSSI sebelum leg kedua, bertentangan dengan regulasi FIFA dan AFC.

Sesuai  regulasi yang diputuskan PSSI melalui surat tertanggal 4 Desember lalu menyebutkan jika tim yang kalah pada pertemuan pertama menang di leg kedua, maka akan dilanjutkan dengan adu penalti tanpa adanya perpanjangan waktu dan tanpa menghitung selisih gol. 

Sekretaris Umum Persipura, Rocky Bebena mengungkapkan perihal tersebut bahkan sudah diprotes oleh pihaknya sebelum laga dimulai, namun match.com tak bisa mengambil keputusan terkait hal tersebut. ”Kami diminta untuk melakukan adu penalti namun kami menolak karena ini sebuah keputusan yang diluar statuta atau regulasi FIFA, AFC maupun PSSI yang hanya menyadur aturan yang dikeluarkan oleh FIFA. Jadi saya pun sepanjang mengurus sepakbola baru menemukan hal ini,” kata Rocky kepada wartawan di Jayapura, Selasa (10/12).

Pihaknya telah  menyurati PSSI  terkait hal tersebut dan mempertanyakan keputusan dalam isi surat PSSI tersebut. Menurut pihaknya, dalam pasal 9 hanya mengatur durasi pertandingan, sedangkan di pasal 10 jika dalam satu pertandingan ada dua tim yang memiliki nilai yang sama, maka untuk menentukan peringkat akan dilihat dari selisih gol.

Rocky melanjutkan, jika berkaca pada regulasi atau aturan FIFA dan AFC, harusnya Persipura Tolikara yang lolos ke final karena unggul produktifitas gol di kandang lawan dengan selisih gol yang sama. Persipura unggul 5-4 di kandang PS TIRA dan kalah 1-2 di markas sendiri. “Dengan demikian sudah sangat jelas bahwa tidak mungkin lagi ada adu penalty. Jika PSSI merasa bahwa ini adalah keputusan mereka yang harus diikuti, menurut kami ini keliru dan ini tidak benar karena ada sesuatu yang merugikan tim lain terutama kami, karena kami ikut kompetisi bukan langsung lolos ke semifinal tapi melewati empat seri,” tandasnya.

Manajer Persipura Tolikara, Usman G Wanimbo menambahkan, isi surat regulasi semifinal leg kedua itu juga berbunyi jika lampu stadion juga menjadi salah satu faktor laga tersebut tidak mengenal perpanjangan waktu. Padahal, jika laga tersebut berjalan justru masih dalam kondisi terang karena kick off digelar jam 3 siang waktu setempat. “Itu sebenarnya masih ada waktu untuk melakukan perpanjangan waktu, tapi itu tidak dilakukan dan langsung mau adu penalti, jadi kita menolak keras itu dan para pemain kita pun keluar dari lapangan. Kalau memang alasannya lampu kan semifinal itu jadwalnya bisa dimajukan lebih cepat,” tukasnya.

Anehnya kata Usman, surat keputusan yang dikirim PSSI ke pihaknya itu justru tertulis Persipura lawan Persib Bandung dan bukan PS Tira Persikabo. Ia pun menolak untuk menandatangani surat tersebut. ”Kami menolak tanda tangan surat itu karena mengacu kepada kesepakatan bahwa regulasi itu dari FIFA dan AFC maupun PSSI. Kami merasa dirugikan, ini kan adalah liga perdana sepak bola putri, jadi jangan ada oknum yang hendak mencederai kompetisi ini,” tandasnya.

Asisten Manajer Persipura Tolikara, Mathius Wally membeberkan jika pihaknya enggan menandatangani surat tersebut bukan karena tak mau melanjutkan pertandingan, tapi menilai regulasi tersebut bertentangan dengan statuta atau regulasi FIFA. “PSSI sebagai induk organisasi sepakbola Indonesia harus memandang semua tim sama dan tidak boleh ada diskriminasi juga terhadap Persipura. Dan saya kira dengan adanya surat ini lebih menekankan kepada diskriminasi terhadap Persipura. Jadi mohon ada keputusan yang lebih bijak dari PSSI untuk Persipura sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ucap Mathius Wally. (al)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed