oleh

Prostitusi Terselubung Berkedok Panti Pijat

5 Terapis dan 2 Pemilik Usaha Digelandang ke Polda

MANOKWARI – Lima terapis dan 2 pengusaha panti pijat digelandang anggota Direskrimum Polda  Papua Barat. Diduga kuat terjadi praktek prostitusi terselubung di dua tempat pijat yang beralamat di Wosi. Kelima terapis yang mengaku berasal dari Jawa Barat serta 2 pemilik usaha, menjalani pemeriksaan secara maraton oleh penyidik Ditrekrimum. Kelima terapis berusia di atas 25 tahun rencananya akan ditunjukan pada jumpa pers, Selasa (3/12), tetapi urung dilakukan.

Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Papua Barat Kombes Pol Robert Da Costa kepada wartawan menjelaskan, setelah dilakukan pemeriksaan, hanya 2 orang yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus prostitusi di panti pijat. Kedua tersangka berisial  AW dan RU, pemilik panti pijat SB dan PI di Wosi. 

Dirreskrimum mengatakan, penggeledahan terhadap panti pijat dilakukan, Senin (2/12) malam. Dalam penggerebekan, seseorang sedang melayani tamu (memijit). Di lokasi kejadian, polisi menemukan sejumlah barang bukti seperti kondom dan pelumas. “Kedua tempat panti pijat sudah berjalan 1,5 tahun. Yang ditetapkan sebagai tersangka merupakan pengelolanya,” jelas Dirreskrimum. Terapis sebagai karyawan,  dipulangkan setelah menjalani pemeriksaan sebagai saksi. Panti pijat lainnya diingatkan tak melakukan praktek prostitusi terselubung yang melanggar undang-undang.

Dirreskrimum menjelaskan, penggerebekan panti pijat merupakan bagian dari operasi Pekat (Penyakit Masyarakat). Selain prostitusi terselubung, Polda Papua Barat juga menargetkan perjudian online, premanisme, penyalahgunaan narkoba dan miras. Awalnya operasi Pekat ditargetkan 21 dan berhasil diungkap 16 target terbagi dalam beberapa kasus.

Target yang tercapai, premanisme 6 kasus, perjudian 6 kasus, miras 3 kasus, prostitusi 2 kasus dan senjata api 4 kasus. “Premanisme ada 4 tersangka, perjudian 9 tersangka, miras 2 tersangka, prostitusi 2 tersangka, senjata api 4 tersangka,” jelas Da Costa pada jumpa pers dihadiri Kabid Humas Polda Papua Barat AKBP Mathias Krey, kemarin.

Karo Ops Polda Papua Barat Kombes Pol Tri Atmodjo mengatakan, operasi Pekat dilaksanakan selama 8 hari, 26 November hingga 3 Desember 2019. Operasi ini dilaksanakan Polda Papua Barat dan Polres jajaran. “Ada empat Polres yang melaksanakan operasi Pekat, Polres Sorong Kota, Polres Fakfak, dan Polres Sorong Selatan. Banyak bukti yang didapat, terutama minuman keras,” ucap Karo Ops.

Operasi Pekat lanjut Karo Ops, dilaksanakan terkait dengan kalender kamtibmas di wilayah Polda Papua Barat. Ada kegiatan-kegiatan yang bisa berdampak pada gangguan kamtibmas. “Sehingga untuk menciptakan situasi yang kondusif digelar operasi Pekat,” tambah Karo Ops.(lm)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed