oleh

Proses Belajar Mengajar di UMS Fleksibel

**Rektor UMS:Jangan Memaksakan Vaksinasi

SORONG-Proses belajar mengajar di Universitas Muhammadiyah Sorong (UMS) masih mengutamakan pembelajaran online. Hal ini dilakukan selain karena instruksi pemerintah namun juga demi kebaikan mahasiswa agar tidak terpapar Covid-19.

PMB OPBJJ-UT Sorong

Rektor Universitas Muhammadiyah Sorong, Dr. H. Muhammad Ali  menjelaskan UMS tetap memprioritaskan kuliah online, akan tetapi pembelajaran secara langsung pun bisa dilakukan misalnya ada mahasiswa yang di kampung halamannya belum ada signal atau jaringan handphone atau mahassiwa yang belum memiliki fasilitas handphone yang memungkinkan apalagi dalam kondisi seperti ini.

“Ada mahasiswa yang belajar secara online maupun secara langsung. UM-Sorong juga sangat fleksibel tidak menekankan mahasiswa belajar secara online atau juga tidak menekankan pembelajaran tatap muka langsung. Hal ini tergantung pada kondisi mahasiswa,”jelasnya kepada Radar Sorong, kemarin.

Namun saat proses pembelajaran langsung dilakukan, maka mahasiswa harus menjaga jarak dan tetap menggunakan masker. Sebenarnya, model pembelajaran atau perkuliahan tidak bisa menyamai dengan tatap muka langsung, secanggih apapun teknologi yang digunakan.

“Adapun kuliah secara daring maupun online dengan menggunakan teknologi itu hanya sebagai fasilitas bantu, tetapi yang terbaik adalah tatap muka langsung,”ungkapnya.

Yang cukup aneh menurut Rektor UMS ini, tempat ibadah dan tempat pendidikan protokol kesehatannya sangat diperketat bahkan ditutup. Tetapi di tempat keramaian lainnya, seperti mall, pasar dan lain sebagainya justru di biarkan saja. Padahal, masyarakat yang berkunjung ke sana juga sama dengan yang berkunjung ke tempat ibadah maupun tempat pendidikan.

“Walaupun tidak ke tempat ibadah atau tempat pendidikan seperti sekolah dan kampus, namun masyarakat pergi ke tempat keramaian lain, sama saja. Itu tidak konferhensip. Harusnya kita betul-betul menjaga jarak,”ungkapnya.

Ia mengungkapkan sebagian dosen di UM-Sorong sudah mengikuti vaksinasi sedangkan sebagian lainnya masih mempertimbangkan karena banyaknya isu atau informasi bahwa setelah divaksin mempercepat proses kematian.

“Karenakan kalau di vaksin harus dipastikan dulu ada penyakit atau tidak, sedangkan saya ini tidak tahu apakah dalam tubuh saya ini ada penyakit atau tidak. Oleh sebab itu, saya berharap agar vaksinasi ini tidak dipaksakan,” katanya. (juh)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed