oleh

Polres Raja Ampat Usut Akun FB ‘Evakontener’

WAISAI – Jajaran Polres Raja Ampat mengusut dugaan kasus ujaran kebencian dan rasisme yang diunggah akun FB Evakontener melalui komentar-komentarnya di grup FB ‘Gempar Emar Raja Ampat Jilid 2”.  Demikian disampaikan Kapolres Raja Ampat AKBP Andre J.W Manuputty,S.IK didampingi Kasat Reskrim Iptu Wawan Kunardi,S.Tr.K dan Kasubag Humas, Ipda Nasurullah dalam press release di ruang data Mapolres Raja Ampat, Jumat (7/5).

Dikatakannya, sejumlah warga Raja Ampat yang tak terima komentar-komentar yang diduga ujaran kebencian dan rasis, melaporkan akun FB Evakontener ke Polres Raja Ampat dan pihaknya sudah membuat laporan polisi dengan No LP/38/V/2021/Papua Barat/Res-Raja Ampat tertanggal 7 Mei 2021. “Kronologisnya, pada kamis 6 Mei 2021 sekitar pukul 19.00 WIT, warga berinisial MS (pelapor) mengakses media sosial, kemudian melihat akun FB Evakontener berkomentar pada salah satu status yang termuat di dalam beranda group FB Gempar Emas Raja Ampat Jilid 2 dengan kata-kata yang diduga rasis,” jelas Kapolres Raja Ampat.

Pelapor yang juga sebagai masyarakat Raja Ampat, tak terima atas komentar tersebut dan meminta pemilik akun tersebut harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, kemudian melaporkannya ke Polres Raja Ampat. “Setelah menerima laporan, kami mencoba menelusuri kepemilikan akun FB Evakontener yang berhasil diketahui milik seseorang berinisial RS (38) dengan alamat di Makassar Sulawesi Selatan,” paparnya.

Dari informasi yang diperoleh pihaknya, RS sebelumnya pernah bekerja di salah satu jasa pencucian mobil di Raja Ampat, dan di salah satu toko bangunan di Kota Waisai.  “Sementara, kami sedang mengumpulkan bukti-bukti, memeriksa saksi-saksi di tempat kerja pelaku terakhir dalam setahun ini, termasuk mencari tahu posisi terakhir serta  mencari nomor HP pelaku. Atas perbuatannya, pelaku disangkakan melanggar Pasal 45 A Junto Pasal 28 ayat 2 UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dengan ancaman hukuman kurungan pidana penjara selama 6 Tahun atau denda Rp 1 miliar,” jelasnya.

Pihaknya menghimbau kepada masyarakat apabila mengetahui keberadaan atau posisi RS tolong segera menginformasikannya kepada Polres Raja Ampat. Kapolres juga menghibau warga menjaga situasi agar tetap kondusif. “Kami akan menangani perkara ini secara professional dan secepat mungkin, serta akan terbuka untuk menyampaikan perkembangan informasi dalam penyelidikan ini. Sebab itu, kami mohon masyarakat untuk tetap tenang serta bersama-sama menjaga situasi menjelang lebaran 1442 Hijriah agar tetap kondusif,” ajaknya.

Kapolres Raja Ampat menambahkan, ia telah memerintahkan anggotanya terus melidik serta memeriksa semua orang yang dianggap diperlukan untuk diambil keterangannya terkait dengan kasus ini, termasuk pemilik usaha tempat pelaku bekerja dulu serta rekan-rekan kerjanya. “Dalam kasus ini, tak menutup kemungkinan Polres Raja Ampat juga secara intens coba bekerjasama bila diperlukan dengan Polda Papua Barat ataupun pihak kepolisian di Makassar bila nanti diperlukan. Kami juga meminta rekan-rekan media untuk membantu mengkondusifkan suasana ini,” pungkasnya. (hjw)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed