oleh

Polisi Tunggu Hasil Uji Labfor Tembakau Sintetis

-Metro-41 views

Penyidik Sat Resnarkoba Polres Mimika kini masih menunggu hasil uji sampel, barang bukti kasus kepemilikan Narkotika golongan I jenis tembakau sintetis dari laboratorium forensik Polda Papua.

Hal itu diungkapkan Kapolres Mimika, AKBP I Gusti Gde Era Adhinata, SIK melalui Kasat Resnarkoba Polres Mimika, AKP Mansur, SH yang ditemui temui Radar Timika, Rabu (16/9) kemarin di kantor Pelayanan Polres Mimika.

AKP Mansur mengatakan, berkas kasus yang tersangkanya masing-masing berinisial ASM dan MS tersebut sudah rampung, akan tetapi pihaknya masih menunggu hasil uji sampel barang bukti. Untuk nantinya dilampirkan dalam berkas kasus tersebut, guna dikirim ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Mimika.

“Kita masih tunggu hasil uji lab untuk kita lampirkan dalam berkas. Mudah-mudahan secepatnya bisa kita terima hasilnya,”tuturnya.

Untuk diketahui, bahwa kedua tersangka diamankan personel Sat Resnarkoba Polres Mimika, Rabu (19/8) lalu.

Yang mana bermula saat polisi mendapatkan informasi bahwa tersangka ASM saat itu, hendak mengambil narkotika golongan I jenis tembakau sintetis, yang dikirim dari Makassar melalui salah satu jasa pengiriman barang.  

Kemudian berdasarkan informasi itulah polisi langsung mengamankan tersangka ASM, saat hendak mengambil barang har tersebut di salah satu kantor jasa pengiriman barang di Jalan Budi Utomo. Selanjutnya dilakukan lagi pengembangan, dan polisi kemudian mengamankan tersangka MS

Dari tangan kedua tersangka, polisi berhasil mengamankan barang bukti berupa satu paket tembakau sintetis seberat 10,20 gram, yang diselipkan di dalam baju kemeja, yang dikirim melalui jasa pengiriman barang.

Akibat perbuatan kedua tersangka ASM dan MS, dipersangkakan Pasal 114 Ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika yang berbunyi, “Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, atau menyerahkan Narkotika Golongan I. Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 5 tahun, dan paling lama 20 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 1 milyar dan paling banyak Rp 10 miliar”.

Dan Pasal 112 Ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika yang berbunyi, “Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum menanam, memelihara, memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I dalam bentuk tanaman, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 12 tahun, dan pidana denda paling sedikit Rp 800 ribu dan paling banyak Rp 8 miliar. (tns)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed