oleh

Pertengahan Juni, Periksa Sample Swab Mandiri

-Metro-273 views

SORONG– Pada pertengahan bulan Juni 2020, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Sorong bisa melakukan pemeriksaan sampel swab secara mandiri di Kota Sorong tanpa mengirimkan keluar daerah. Hal ini mengingat Kota Sorong sudah memiliki alat Polymerase Chain Reaction (PCR) yang kini berada di RS Pertamina.

PCR adalah pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi keberadaan material genetik dari sel, bakteri atau virus. Saat ini, PCR juga digunakan untuk mendiagnosis penyakit Covid-19, yaitu dengan mendeteksi material genetik virus Corona.

Wali Kota Sorong, Drs. Ec Lambert Jitmau, MM mengajak warga Kota Sorong untuk bersyukur dan bangga karena alat PCR untuk pemeriksaan sampel penyakit Covid-19 sudah ada di Kota Sorong. Sehingga, sampel tidak perlu lagi dikirimkan ke keluar daerah untuk dilakukan pemeriksaan. Dan, kabar bahagia kedua adalah Sudah ada SK dari pihak terkait untuk menunjuk RS Pertamina Kota Sorong sebagai Rumah Sakit Rujukan dalam menangani pasien Covid-19. 

“Kami sudah bisa periksa sendiri di sini. Bukan hanya Kota Sorong, bila perlu semua Kabupaten di Papua Barat periksa sampel di Kota Sorong saja,” jelasnya kepada wartawan, Senin (11/5).

Direktur RS Pertamina Sorong dr. Otto B. Kawanda mengatakan, atas permintaan wali kota agar RS Pertamina hadir sebagai RS Rujukan telah disetujui oleh kantor pusat bahkan kantor pusat memberikan perintah baru, agar RS Pertamina Sorong segera mendirikan laboratorium PCR dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

“Kami mendapat perintah mendirikan laboratorium tanggal 29 April 2020 dan sekarang kami sudah langsung menindaklanjuti dengan membangun sarana infrastruktur dan sudah 65 persen. Jadi harapan kami kalau sudah bisa selesai pada tanggal 25 Mei 2020 atau akhir bulan ini dan alat-alat PCR bisa diinstal pada akhir bulan, dengan bantuan teman-teman dari Jakarta,”ungkapnya.

Sehingga, sambungnya, pada awal bulan Juni 2020, pihaknya sudah bisa melakukan running sample pertama untuk uji coba dan yang akan diuji cobakan adalah semua pekerja Rumah Sakit Pertamina Sorong. Kemudian, sampel tersebut pun akan dikirim ke Balitbangkes Kemenkes Jakarta untuk diverifikasi. 

“Apabila kami lulus uji kesesuaian, maka setelah mendapat surat dari Balitbangkes Kemenkes Jakarta, baru kami bisa mempublish hasil PCR. Kalau semua berjalan lancar, sekitar pertengahan Juni 2020 masyarakat sudah bisa dilayani untuk pemeriksaan PCR di Kota Sorong,” tuturnya.. 

Untuk pelayanan kemasyarakatan, pihaknya meminta bantuan dari Pemerintah Kota Sorong dalam hal ini Wali Kota Sorong terkait dengan pembiayaannya dan hal tersebut langsung disetujui Wali Kota Sorong sebab biaya yang diajukan oleh pihaknya pun merupakan biaya yang tanpa laba.

“Tapi untuk perusahaan atau pasien swasta lainnya, tentu tidak bisa mendapatkan biaya yang sama. Kami akan mengenakan laba, karena Rumah Sakit Pertamina Sorong adalah RS BUMN, tujuan adanya kami adalah memang untuk mencari laba buat negara. Sehingga untuk pihak swasta, nanti akan tetap dikenakan biaya dengan laba,” ungkapnya.

Untuk masyarakat umum yang ditanggung oleh Pemerintah Kota Sorong, sudah dipastikan bahwa biaya sepenuhnya ditanggung oleh Pemerintah Kota Sorong. “Kalau untuk pihak swasta, biaya sekitar Rp 2.300.000 sekali periksa. Sampelnya hari ini diperiksa, besok sudah bisa diketahui hasilnya,”tuturnya.

Untuk laboratorium PCR, sambung Otto, pihaknya menyiapkan 2 orang tenaga analis dengan 1 spesialis patologi klinik. Untuk satu tenaga analis kurang lebih bisa menyelesaikan sekitar 500 sampel per hari. Namun, pihaknya masih mengharapkan kedatangan satu alat lagi yaitu MagNa Pure. Alat tersebut dalam proses penjemputan dengan menggunakan pesawat Garuda dari Swiss.

“Mudah-mudahan alat tersebut bisa segera sampai pada tanggal 21 Mei di Jakarta dan bisa segera dikirim ke Sorong. Kalau alat ini sudah tiba di sorong, maka kami bisa running perhari 1000 sampel. Sehingga kita harus bisa segera mengoperasikan laboratorium PCR ini, maka dengan segera bisa mengetahui positif tidaknya seseorang dengan gejala atau tanpa gejala, maka bisa langsung mengisolasi orang tersebut sehingga untuk kejadian terjadinya lokal infeksi, bisa kita minimalisir menuju nol,” tambahnya seraya menuturkan, sebenarnya, selama ini yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Sorong, sudah sangat baik yaitu dengan mengisolasi Kota Sorong. Tetapi ternyata masih sulit mencegah penularan antara sesama penduduk yang sudah ada di dalam Kota Sorong. (juh)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed