oleh

Peresmian Pasar Modern Rufei Molor

Wali Kota : Saya Mohon Maaf, Hargai Saudara Kita yang Menjalankan Ibadah Puasa

SORONG – Peresmian Pasar Modern Rufei yang sebelumnya dijadwalkan 19 April 2021, molor lagi. Wali Kota Sorong, Drs.Ec Lambert Jitmau,MM memi­nta maaf kepada masyarakat karena penundaan ­tersebut. Menurutnya, penundaan dilakukan untuk menghargai umat muslim yang sedang ­melaksanakan ibadah puasa, sehingga peresmian dijadwalkan kembali dilakukan minggu kedua usai hari raya Idul Fitri 1442 Hijriah.

“Di Pasar Modern Rufei, saya sampaikan kepada pejabat, masyarakat dan semua wartawan- wartawati, saya mohon maaf karena yang saya niat pemindahan di tanggal 19 itu saya harus tunda. Tunda setelah lebaran, karena saya tidak mau mengganggu, kasian masyarakat di situ , saudara-saudara kita sedang menjalani ibadah puasa. Saya tidak mau melakukan gerakan-gerakan yang berlebihan,” kata Lambert Jitmau kepada wartawan, kemarin. 

Dikatakannya, minggu pertama atau minggu kedua setelah lebaran, atau di pertengahan bulan Mei, pihaknya akan menggelar rapat untuk membuat kesepakatan waktu peresmiannya. “Baru saya lakukan pemindahan pedagang ke Pasar Modern,” katanya.

Menurut Wali Kota, ada beberapa pedagang pakaian yang keberatan dengan sewa lapak atau los di Pasar Modern Rufei. Lambert menegaskan harga sewa telah diatur dalam peraturan daerah sehingga harga-harga tersebut merupakan kesepakatan bersama. Jika ke depan tidak sesuai, maka bisa dirubah jika masyarakat keberatan. 

 “Ada penjual pakaian mereka keberatan menyangkut  harga-harga los. Saya sampaikan kepada pedagang pakaian semuanya masuk saja dulu ke dalam pasar, nanti ada keberatan dituangkan dalam satu surat ditujukan kepada wali kota menyangkut hal-hal entah biaya itu nanti saya tinjau kembali. Ini kan semuanya sudah dituangkan di dalam perda. Kalau misalnya perda banyak yang mendukung silahkan, tetapi kalau banyak lagi yang keberatan yach silahkan ajukan, saya tinjau kembali dan bisa rubah dengan Perwali. Nanti melalui Perwali itu kita usulkan ke dewan untuk melakukan revisi yang telah kita tetapkan. Aturan kan begitu, jadi bukan langsung ‘tak-tak’, itu gak boleh,” tegasnya.

Dia mengatakan bahwa ada juga pedagang yang mengeluh jika ada retribusi yang ditarik selama ini hingga jutaan sebulannya. Dia menegaskan bahwa pedagang harus pindah ke Pasar Modern agar tidak ada pungli retribusi dan pungli parkir. Menurutnya, di Pasar Modern, retribusi sewa los dan parkir diakomodir Pemkot dan itu dijamin resmi, sehingga tidak ada kelompok atau oknum-oknum yang datang menarik retribusi atau tagih uang parkir tanpa karcis.

“Mereka bilang setiap bulan ditarik Rp1.500.000, terus apalagi-apalagi, apakah ada perda, ataukah pungli. Daripada pungli-pungli, masuk di Pasar Modern, karena Pasar Modern itu tidak ada asosiasi-asosiasi, tidak ada siapa yang koordinator yang tidak jelas. Koordinator adalah kepala daerah yang ditugaskan kepada staf teknis untuk melakukan pungutan berdasarkan perda. Semua yang dipungut resmi, yang dipungut tidak resmi itu tidak boleh. Retrisbusi parkir dipungut berdasarkan kendaraan yang di parkir, tarif sudah ada,” tandasnya.

Salah satu pedagang, Nan mengaku bahwa memang selama ini ada yang menagih retribusi setiap bulannya namun dia tidak tahu itu dari pemerintah atau siapa. “Kita hanya kasih-kasih saja, tidak tahu itu pemerintah atau siap gitu,” katanya. (zia)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed