oleh

Penjual Handak Bom Ikan Dijerat UU Darurat

SORONG – Penjual bahan peledak (Handak) untuk bom ikan berinisial LS (58), dan pembeli berinisial PY (45), yang diamankan aparat Ditpolairud Polda Papua Barat bekerjasama dengan tim Gegana Brimob Sorong, dijerat pasal 1 ayat 1 UU Darurat No 12 tahun 1951.

Pasal 1 ayat 1 UU Darurat No 12 tahun 1951 mengatur barang siapa yang tanpa hak memasukkan ke Indonesia membuat, menerima, mencoba memperoleh, menyerahkan atau mencoba menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai persediaan padanya atau mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan, mempergunakan, atau mengeluarkan dari Indonesia sesuatu senjata api, munisi atau sesuatu bahan peledak, dihukum dengan hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup atau hukuman penjara sementara setinggi-tingginya dua-puluh tahun.

Dirpolairud Polda Papua Barat melalui Kasuddit Gakum, Kompol Syarifurrahman,S.IK membenarkan diamankan dua orang, penjual dan pembeli bahan peledak untuk pembuatan bom ikan. Selain mengamankan LS dan PY, turut diamankan barang bukti berupa 1 botol kaca 620 ml berisikan bahan peledak, 2 botol kaca 330 ml berisikan bahan peledak, 2 botol kaca 150 ml berisikan bahan peledak, 1.5 kg Pupuk Matahari dan 10 buah dopish.

Informasi yang diperoleh Radar Sorong, kronologis pengungkapan transaksi jual beli bahan peledak untuk pembuatan bom ikan pada Selasa (27/4) lalu, berawal saat tim yang dipimpin Kasubdit Gakkum Ditpolairud Polda Papua barat melakukan pemantauan dari TB. Delta yang sedang berlabuh di kolam bandar Sorong, dan didapatkan informasi ada perahu warna kuning bermesin tempel 15 PK baru saja membeli bahan bahan peledak dari rumah LS di Pulau Buaya.

KP Sea Rider Ditpolairud Polda Papua Barat yang sedang berpatroli dikerahkan melakukan pengejaran terhadap kapal yang diduga membawa bahan peledak bom ikan, kemudian melakukan pemeriksaan dan menangkap PY selaku pembeli bahan peledak dari LS. Setelah itu, Kasubdit Gakkum Kompol Syarifurrahman,S.IK memerintahkan personelnya  melakukan penangkapan dan penggeledahan di rumah LS, dan diamankan barang bukti 5 botol bom  ikan rakitan yang siap digunakan. Bahan peledak tersebut telah dibawa oleh personel Ditpolairud ke Makassar untuk dilakukan uji laboratorium dalam rangka penyelidikan  ”Dua pelaku tersebut merupakan nelayan lokal berinisial PY (pembeli) dan L (penjual). Berdasarkan keterangan PY, dirinya sudah beberapa kali membeli bahan peledak di L,” jelas Kompol Syarifurrahman kepada Radar Sorong, kemarin.

Untuk mempertanggungjawab perbuatannya, LS dan PY kini mendekam di sel tahanan Ditpolairud Polda Papua Barat. Keduanya dijerat pasal 1 ayat 1 UU Darurat No 12 tahun 1951, terancam hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup, atau hukuman penjara sementara setinggi-tingginya dua puluh tahun. (juh)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed