oleh

Penggelapan Uang PT PDKA Tahap II

-Metro-272 views

BS Akui  Gunakan Rp 2 Miliar dari Total Kerugian Rp 11 Miliar

SORONG – Kasus penggelapan uang dengan total mencapai Rp 11 milliar milik PT PDKA yang melibatkan AM dan BS telah memasuki tahap penyerahan tersangka berserta alat bukti (Tahap II) ke Kejaksaan Negeri Sorong oleh Tim Penyidik Polres Sorong Kota, Kamis (29/7).

PMB OPBJJ-UT Sorong

Pantauan Radar Sorong, BS bersama dengan AM didampingi penasehat hukum masing-masing dan dikawal oleh penyidik Polres Sorong Kota mendatangi Kantor Kejaksaan Negeri Sorong. Selanjutnya, BS bersama dengan AM dicerca beberapa pertanyaan oleh Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Sorong yang juga merupakan Jaksa Penutut Umum (JPU).

Setelah melalui rangkaian pertanyaan dan pemeriksaan alat-alat bukti berupa transferan sejumlah uang serta emas dan barang bukti mobil, AM dan BS akhirnya meninggalkan Kejaksaan Negeri Sorong. Kepada awak media, Kasi Pidana Umum (Pidum) Kejaksaan Negeri Sorong, Eko Nuryanto, SH, MH menjelaskan, pihaknya telah melaksanakan tahap II atas perkara yang melibatkan AM dan BS.

“Perkara ini memilki barang buktinya atau hasil yang dilakukan AM dan BS itu luar biasa karena sampai Rp 11 miliaran. Jadi, hari ini berupa penyerahan tersangka dan barang bukti dari penyidik Polres Sorong Kota ke Kejaksaan Negeri Sorong dengan pasal yang disangkakan yaitu pasal penggelapan dalam jabatan junto penyertaannya pasal 55 selain itu juga ada pasal 378 junto pasal 55,”jelasnya, kemarin.

Menanyakan peran dari BS, Eko mengatakan BS sebagai orang yang turut serta melakukan penggelapan dimana yang melakukan penggelapan dalam jabatan adalah AM. Sedangkan, BS yang sudah mengetahui bahwa uang tersebut berasal dari perusahaan tetapi turut menikmati hasil dari kejahatan tersebut.

“Proses penggelapannya sendiri itu terjadi mulai dari tahun 2019 sampai dengan Mei 2021, jadi memang cukup lama dengan modus BS awalnya menyarankan kepada AM untuk mengambil uang perusahaan. Berdasarkan berkas, penyerahan uangnya ada sejak November 2019, tetapi secara aktualisasi logo stempusnya memang rentan waktu antara 2020 hingga Mei 2021,”terangnya,

Menanyakan dari Rp 11 milliaran tersebut, berapa banyak yang BS nikmati? Eko mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan yang ia lakukan, BS mengaku hanya menggunakan Rp 2 miliar. Tetapi, hal tersebut tidak masalah karena terdakwa memiliki hak inkar, namun faktanya akan dibuktikan di Persidangan tentunya dengan alat bukti dan saksi-saksi yang dimiliki dan sesuai dengan berkas perkara.

Eko menuturkan, barang bukti yang telah disita dari BS berupa 3 unit mobil diantaranya mobil Honda BRV, Toyota Camry dan 1 Unit Toyota Yaris serta perhiasan emas dengan berat 40 gram tetapi terhadap barang bukti tersebut akan dibuktikan di persidangan apakah barang bukti itu hasil dari tindak pidana penggelapan uang atau tidak.

“Karena sudah dilimpahkan, kami mempunyai waktu penahanan 20 hari untuk penuntut umum sambil kami siapkan dakwaannya sebelum kami limpahkan ke Pengadilan. Intinya kalau dakwaan sudah  siap, segera kami limpahkan. Mereka di berkas yang terpisah agar lebih mudah pembuktian,”paparnya.

Sementara itu, Penasehat Hukum AM, Haris Nurlette, SH menambahkan, tahapan cepat lebih baik, namun ia berharap agar penyidik lebih menggali kasus tersebut dimana perlu dipertanyakan uang sebesar Rp 11 miliar tersebut dikemanakan dan digunakan untuk apa.

“Karena kami tidak tahu kemana uang itu. Kami berharap keseriusan penegak hukum melihat hal ini. Terkait pengakuan BS yang hanya menggunakan Rp 2 miliar, akan dibuktikan di fakta persidangan, kami juga tidak bisa banyak bicara,”pungkasnya.(juh)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed