oleh

Pemkot Diminta Seriusi Dampak Galian C

-Metro-30 views

Permasalahan banjir di Kota Sorong, khususnya di Kelurahan Matalamagi Distrik Sorong Utara yang tak kunjung terselesaikan, menimbulkan tanda tanya terhadap pemerintah Kota Sorong yang tidak dapat bertindak tegas terhadap pengembang atau pengusaha Galian C di Kampung Bugis, dikarenakan sedimen hasil cucian pasir menjadi salah satu penyebab banjir. 

Pasalnya, hingga saat ini pemerintah Kota Sorong melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU)  hanya menyerahkan 1 unit beko ukuran kecil untuk melakukan pengerukan sedimen di drainase akibat dari pencucian pasir.

Namun, beko yang diserahkan tersebut justru menimbulkan pertanyaan baru dikalangan masyarakat yang terdiri dari 25 RT. Karena menurut Ketua Yayasan Sorong Peduli Lingkungan, Eko Rianto S.Hut, 1 beko tersebut hanya digunakan oleh 2 RT dan RT lainnya mempertanyakan untuk waktu pengerukan. 

“Beko yang ada saat ini hanya digunakan oleh 2 RT, sementara RT lainnya mempertanyakan kapan dilakukan pengerukan diwilayah mereka, untuk itu kami lakukan koordinasi ke Kantor Dinas PU Kota Sorong, namun sayangnya tidak bertemu langsung kepala Dinas,” terang Eko kepada Radar Sorong, kemarin (22/9).

Melalui sambungan telepon, Eko berkoordinasi dengan Kepala Dinas PU terkait hal tersebut, Kepala Dinas PU menjanjikan 1 unit Beko berukuran besar yang rencananya akan diserahkan minggu depan, karena menunggu troton untuk mengangkut beko tersebut.

“Kami akan terus mengejar sampai beko itu ada dilapangan,” ucapnya. 

Dalam kesempatan tersebut, Eko juga mengharapkan Kepala Dinas PU mewakili Wali Kota Sorong untuk dapat berkomunikasi dengan pengembang Galian C agar turut serta melaksanakan kewajibannya dengan menyediakan beko untuk pengerukan drainase.

“Karena drainase ini penuh karena sedimen dari galian C,” kata Eko. 

Namun, Covid -19 dijadikan alasan untuk tidak dilakukannya koordinasi tersebut dengan pihak pengembang. Selain itu, diterangkan Eko, Pemerintah Kota Sorong dalam hal ini Dinas PU tidak dapat memaksa pengusaha untuk memenuhi kewajiban mereka. 

“Katanya Covid-19, jadi tidak bisa kumpul-kumpul, padahal saya sarankan koordinaasi melalui telepon, mereka mengatakan justru pengusaha tidak bisa dipaksa, ini jadi catatan, kok pemerintah tidak bisa paksa?”tanya Eko. 

Tebalnya sedimen yang terjadi, menurut Eko sangat menyusahkan warga, karena meski pengerukan dilakukan 3 hari kemudian sedimen kembali dengan ketebalan yang cukup tinggi. Untuk itu, ia meminta agar Pemerintah Kota Sorong dapat bertindak tegas terhadap pengembang agar dibuatkan 3 penampungan limbah, sehingga limbah galian C dan cucian pasir tersebut dapat tersaring dan tidak memenuhi drainase warga. 

“Pengembang memang cari uang, tapi warga yang ada disekitar juga perlu diperhatikan karena menerima dampak,” pungkasnya. (nam)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed