oleh

Pekerja Bangunan di Wamena Tewas Ditikam

93 Pengungsi di Jayapura Pulang ke Wamena

WAMENA – Seorang pekerja bangunan, Deri Datu Padang (30) asal Toraja, tewas ditikam saat melintas di dekat Jembatan Woma Kota Wamena, Sabtu (12/10). Seperti dilansir Antara, awalnya, korban bersama lima rekannya berboncengan menggunakan empat unit motor saat kembali dari lokasi kerja.

Ketika sampai di depan Jembatan Woma, korban yang tepat berada pada iring-iringan paling depan, tiba-tiba ditikam oleh OTK yang berjumlah dua orang. Pelaku berciri-ciri pria dewasa memakai baju merah dan satunya masih remaja. Keduanya melarikan diri ke arah kuburan lama. Setelah ditikam, korban yang mengendarai motor terjatuh, kemudian berusaha bangkit kembali mengendarai motor dengan kondisi pisau masih tertancap di perut.

Korban melapor di Pos Brimob, dekat Pasar Woma, kemudian dilarikan ke RSUD Wamena. Sesampainya di rumah sakit, kondisi korban makin kritis karena mengalami pendarahan hebat. Korban sempat menjalani penanganan medis namun nyawanya tak dapat diselamatkan.

Terkait kejadian ini, Kapolda Papua Irjen Polisi Paulus Waterpauw mengatakan, pekerja bangunan yang tewas tertikam orang tak dikenal, Sabtu (12/10), diketahui sedang mengerjakan fasilitas kamar mandi Gereja Katolik di Woma, Wamena. ”Ada saudara-saudara kita yang baru mengerjakan kamar mandi Gereja Katolik di Woma itu yang menjadi korban. Kampung Woma itu terletak di seberang jembatan yang menjadi lokasi utama kerusuhan pada 23 September 2019,” kata Irjen Pol. Paulus di Timika, Minggu.

Kapolda mengatakan bahwa wilayah Woma dan sekitarnya memang cukup rawan. Lokasi itu sebelumnya padat dengan ruko-ruko dan pusat usaha ekonomi lainnya. Namun, kini tinggal menyisakan puing lantaran dibakar habis oleh massa saat kerusuhan melanda Wamena, Senin (23/9) lalu. ”Saya sudah tiba di situ, memang di situ agak sedikit tertutup masyarakatnya dan tampaknya kemarin yang melakukan kekerasan terhadap ruko-ruko yang ada di sekitar Woma itu, ya, kelompoknya mereka (pelaku penikaman pekerja bangunan) itu,” kata Paulus.

Kapolda menduga pelaku pembakaran maupun penikaman terhadap pekerja bangunan di Woma tersebut merupakan anak-anak muda yang tidak memiliki pekerjaan yang jelas. ”Itu anak-anak yang free man yang hidupnya mau enak saja, tidak mau bekerja hanya mau mengganggu yang lain. Mau dapat hasil yang banyak dengan cara-cara yang tidak benar,” katanya.

Kapolda menegaskan bahwa jajarannya akan mengusut tuntas kasus kematian Deri Datu Padang. ”Itu menjadi tugas kami untuk ungkap pelakunya. Hari ini juga saya akan berangkat menuju Wamena.  Bapak Pangdam XVII Cenderawasih (Mayjen TNI Herman Asaribab) sudah lebih dahulu tiba di Wamena pagi ini. Saya juga mengutus Direskrim Umum Polda Papua dengan penyidiknya untuk membantu pengusutan kasus itu,” kata Irjen Paulus.

Kehadiran Kapolda Papua bersama Pangdam XVII Cenderawasih di Wamena pada Minggu siang dalam rangka mengonsolidasi semua kekuatan yang ada di Wamena baik personel Polri maupun TNI agar melakukan patroli, razia senjata tajam, maupun senjata api serta menempatkan anggota pada pos-pos yang akan dibuka di sekitar Wamena.

Kapolda mengingatkan para pekerja agar untuk sementara jangan pergi bekerja di luar kawasan Kota Wamena mengingat situasi kamtibmas di beberapa daerah pinggiran belum benar-benar kondusif. ”Melalui Kapolres Jayawijaya saya sudah mengimbau agar saudara-saudara kita yang mau bekerja agar jangan dulu keluar dari Wamena. Kalau bisa mereka untuk sementara ini bekerja di sekitar Wamena itu saja. Kalau sudah di luar dan lepas dari pengawasan aparat kita di sana maka mungkin agak susah untuk dipantau mengingat wilayah Wamena itu agak luas,” kata di Timika, Minggu. Imbauan itu disampaikan Kapolda Papua menyikapi masih terjadinya aksi kekerasan terhadap warga luar Papua di Wamena hingga saat ini.

Kapolda mengatakan, penikaman di sekitar Jembatan Wouma yang berujung kematian, masih berkaitan dengan kerusuhan 23 September. Kasus penikaman itu akan menjadi bahan evaluasi bagi TNI dan Polri. ”Kejadian itu pasti ada hubungan, dan tentu untuk membuktikan pelaku harus kita tangkap. Mengapa aparat ada di Jayawijaya dan di lokasi itu ada kekosongan. Itu koreksi kami,” ujarnya. 

Kapolda berjanji memperkuat pengawasan, pendirian pos serta patroli skala besar. Oleh sebab itu, diimbau agar tidak ada lagi warga yang membawa senjata tajam masuk ke pusat kota Jayawijaya. ”Kita akan lakukan untuk memastikan persoalan ini (yang berkaitan dengan kejadian 23/9) sudah selesai. Saya harap warga tidak membawa senjata tajam. Stop, daripada saudara kecewa,” ucapnya, menegaskan.

Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Herman Asaribab mengatakan kesepakatan TNI/Polri dan Pemkab Jayawijaya bahwa tidak ada lagi tindakan preventif bagi pengganggu kamtibmas. ”Kalau ada kejadian yang akan kita hadapi, kita akan reprensif supaya situasi ini semakin kondusif ke depan,” tegasnya. Herman mengatakan kasus penikaman yang terjadi di sekitar Wouma merupakan usaha dari beberapa orang untuk mengganggu kamtibmas yang sudah kondusif pascakerusuhan. ”Oleh sebab itu tindakan kita yang pertama, kita sudah komitmen bahwa tegas,” katanya. 

Sementara itu, gelombang pengungsi Wamena kembali pulang ke daerahnya, terus bertambah setelah adanya jaminan keamanan dari Pemerintah Kabupaten Jayawijaya dan TNI-Polri. Buktinya, 93 pengungsi yang berada di Jayapura, menyusul kembali ke Wamena, Sabtu (12/10). Puluhan pengungsi ini diangkut dengan menggunakan pesawat Hercules milik TNI AU C-130 dengan nomor registrasi A-1336. Pesawat yang dipiloti Mayor Penerbang Bandung, juga membawa 21 personel TNI dari Zipur X.

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Ahmad Mustofa Kamal saat dikonfirmasi, Sabtu (12/10) mengatakan, dari 93 pengungsi, 88 orang telah dijemput oleh keluarganya, sementara 5 orang sisanya ditampung di Posko Pengungsi Tongkonan Jayawijaya karena tidak memiliki tempat tinggal. “Pengungsi ini berasal dari berbagai daerah. Mereka sempat mengungsi ke Jayapura pascademo anarkis 23 September lalu. Total 93 pengungsi yang kembali bersama 21 personel TNI,”  kata mantan Wakapolresta Depok ini.

Kamal memastikan situasi keamanan di Wamena berangsur kondusif, aktifitas masyarakat telah kembali bergeliat sejak sepekan lalu. “Situasi sudah aman, kami harap masyarakat dapat kembali ke Wamena untuk membangun daerah itu bersama-sama,” imbuhnya.

Sebelumnya, ratusan warga Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan memutuskan kembali ke Wamena Kabupaten Jayawijaya, setelah sebelumnya mengungsi ke Jayapura. Ratusan warga ini kembali karena merasa aman dengan jaminan keamanan dari pemerintah maupun aparat TNI-Polri. Bahkan, jaminan keamanan warga telah disampaikan langsung Panglima TNI Marsekal  Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian saat mengunjungi Wamena, baru-baru ini.

Sekretaris Ikatan Keluarga Toraja (IKT) Papua, Yulius Palulungan, Sabtu (12/10) mengatakan, setidaknya 200 warga Toraja telah kembali ke Wamena dalam beberapa tahap. Mereka kembali dengan difasilitasi angkutan udara oleh TNI. (***/ant/al)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed