oleh

Otsus Dinilai Gagal Total

Massa menggelar aksi unjuk rasa di ruas jalan di Wirsi, sampingi Swiss-belhotel Manokwari, Rabu (30/9). Aksi juga diwarnai teriakan Papua merdeka. Massa berkumpul di lokasi sejak pagi membawa spanduk bertuliskan ‘’UU Otsus Gagal Total, Referendum Solusi Damai Untuk Bangsa Papua’’. Mereka membawa alat musik suling tambur menyemarakkan aksi.

Massa menilai bahwa Otsus Papua yang akan berakhir tahun 2021 telah gagal total. Rencana pemerintah untuk menggulirkan Otsus Jilid II harus ditolak oleh semua komponen masyarakat asli Papua.  “UU Nomor 21 Tahun 2001 akan berakhir tahun 2021, tinggal beberapa bulan saja. Kita harus katakan dengan jujur, Otsus itu keberhasilannya dimana?. Otsus selama 25 tahun telah gagal,” kata Markus Yenu, salah seorang koordinator aksi.

Hendak Longmarch ke Kantor MRP PB, Dihadang Ratusan Polisi

Aksi unjuk rasa massa di ruas jalan di Wirsi, samping Swiss-belhotel Manokwari, Rabu (30/9). Massa berkumpul di lokasi sejak pagi membawa spanduk bertulis ‘’UU Otsus Gagal Total, Referendum Solusi Damai Untuk Bangsa Papua’’. Di pihak lain, ratusan personel Polda Papua Barat, Satuan Brimob dan Polres Manokwari  juga sudah bersiaga.

Massa yang berencana melakukan longmarch dari Wirsi menuju kantor MRP Provinsi Papua Barat (MRP PB) di Sowi Gunung (Sogun) untuk menyampaikan aspirasi penolakan Otsus Jilid II yang sedang digagas pemerintah pusat, dihalau ratusan personel Polda Papua Barat dan Polres Manokwari. Aksi ini juga diwarnai teriakan Papua merdeka.

Sejumlah pejabat  utama Polda Papua Barat turun langsung mengawal aksi unjuk rasa. Ada Karo Ops Kombes Pol Tri Atmojo Marawasianto, Dansat Brimob Kombes Pol Semmy Ronny Thaba, Dirreskrimum Kombes Pol Ilham Saparona, Dir Pamobvit, Kabid Propam Kombes Pol Bulang Bayu Samudra, Kabid Humas Polda PB AKBP Adam Erwindi, Kapolres Manokwari AKBP Dadang Kurniawan serta beberapa perwira lainnya.

Puluhan Pasukan Anti Huru Hara (PHH) Sabhara membawa tameng berada pada barisan paling depan, siap menghalau massa. Sedangkan di belakang bersiaga ratusan personel Brimob yang siap menghadapi massa bila dibutuhkan.

Massa menilai bahwa Otsus Papua yang akan berakhir tahun 2021 telah gagal total. Rencana pemerintah untuk menggulirkan Otsus Jilid II harus ditolak oleh semua komponen masyarakat asli Papua. “UU Nomor 21 Tahun 2001 akan berakhir tahun 2021, tinggal beberapa bulan saja. Kita harus katakan dengan jujur, Otsus itu keberhasilannya dimana. Otsus selama 25 tahun telah gagal,” ujar Markus Yenu, salah seorang koordinator aksi.

Markus Yenu menyebut ini merupakan aksi damai. Dia mendesak aparat penegak hukum untuk memeriksa pejabat birokrat pemerintah yang telah menyelewengkan dana Otsus. “Kita turun ke jalan ramai-ramai dan sampaikan bahwa Otsus gagal total,” tegasnya.

Dia juga menyampaikan situasi Sidang Umum PBB yang digelar pekan lalu  yang ikut membahas persoalan Papua. Dia menilai apa yang disampaikan utusan Indonesia pada Sidang Umum PBB yang menyebut situasi Papua aman-aman saja sebagai pembohongan. 

Aksi unjuk rasa sempat diwarnai pelemparan gelas dan botol minuman mineral, namun polisi tak terpancing. Koordinator aksi unjuk rasa pun menangkan massa untuk menahan diri, tidak anarkis. “Aksi ini damai. Kalau ada  yang coba membuat keributan kita tangkap dan serahkan ke polisi,” kata Markus Yenu.

Wilson Wader, salah satu  koordinator aksi lainnya mengatakan, masalah Papua sudah ada yang atur. Dia menyampaikan, saat ini situasi Indonesia tidak aman, alami resesi ekonomi dan masing-masing suku bangsa akan mencari jati dirinya. “Otonomi khusus itu tidak berjalan baik. Hari ini hanya dinikmati oleh beberapa orang di tanah Papua dan yang lain mengalami kesulitan,” tuturnya.

Wilson menyatakan bahwa Papua pasti akan merdeka. Kepada masyarakat non Papua, Wilson mengingatkan tak perlu kuatiar bila Papua merdeka, akan menjadi warga. “Cepat atau lambat pasti kita (Papua) akan keluar dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Persoalan Papua merdeka itu pasti, tidak usah alergi bicara Papua merdeka,” kata berapi-api. 

Kapolres Manokwari AKBP Dadang Kurniawan kepada wartawan mengatakan, massa berencana melakukan longmarch ke kantor MRP PB untuk menyampaikan aspirasi penolakan Otsus Jilid II. Sebelum aksi dimulai, sebanyak 300-an personel polisi sudah disiagakan sebagian menghadang massa. “Mereka tidak diizinkan melakukan aksi. Memang sudah mengajukan perizinan, tetapi banyak yang salah. Kita juga sampaikan bahwa di masa pandemi Covid-19 ini segala macam penyampaian aspirasi dilarang apalagi dalam jumlah massa lebih dari 20 orang,” jelas Kapolres. (Laode Mursidin)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed