oleh

Obat Ranitidine Ditarik

-Metro-1.050 views

SORONG– Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia mengeluarkan edaran surat perintah penarikkan produk dari Ranitidine yang terdeteksi N-Nitrosodimethylamine (NDMA) yakni pada produk Ranitidine cairan injeksi 25 mg/ml dengan nomor bets produk beredar yakni 95489 160 sampai 190, nomor bets 06486  001 sampai 008, kemudian no bets 16486 001 sampai 051, 26486 001 sampai 018 dari Pemegang Izin Edar dari PT Phapros.

Penarikan sukarela produk Ranitidine yang terdeteksi N-Nitrosodimethylamine (NDMA) pada obat Zantac cairan injeksi 25 mg/ml dengan no bets GP4Y, JG9Y dan XF6E dari Pemegang Izin Edar PT Giaxo Wellcome Indonesia, Rinadin Sirup 75 mg/mL dengan no bets 0400518001, 0400718001, 0400818001 dari PT Global Multi Pharmalab dan Indoran cairan injeksi 25 mg/mL  dengan no bets BF171 008 serta Ranitidine cairan injeksi 25 mg/mL no bets BF 171 009 sampai 021 dari pemegang izin edar PT. Indofarma.

Produk Ranitidine yang merupakan obat asam lambung, ditarik dari peredarannya karena disinyalir bisa memicu kanker. Sementara itu, salah satu Apoteker Apotik K 24 Kota Sorong, Ijah menjelaskan bahwa produk Ranitidine yang baru dihimbau untuk ditarik tersebut yakni Ranitidine merek Phapros cairan injeksi 25 mg/ml dari pemegang izin edar PT Phapros.

“Namun belum ada instruksi langsung dari PBF (Pedagang Besar Farmasi) atau sumber dimana kami langsung mengambil obat-obatan yang berasal dari perusahaan-perusahaan obat. Kami belum menerima instruksi langsung dari mereka untuk menarik semua jenis obat produk dari Ranitidine,”jelasnya kepada Radar Sorong, Kamis (10/10).

Dengan begitu, Ijah berfikir bahwa produk Ranitidine yang tablet masih bisa diperjual belikan sebab dalam surat edaran dari Badan POM RI tidak mencantumkan produk Ranitidine tablet melainkan Ranitidine cair, sirup dan lain sebagainya.

“Karena kalau dikategorikan Ranitidin itu ada 2 macam yakni yang injeksi atau langsung disuntikkan dan ada yang tablet. Yang dilarang ini produk Ranitidine merek-merek tertentu dan tidak semua. Di tempat kami, yang dijual itu Ranitidine Hexpharm, dari PT Hexpharm  juga belum ada instruksi langsung untuk ditarik, mengingat jika dilakukan penarikan berarti diganti uangnya ,”terangnya.

Sementara itu, Kepala BPOM Provinsi Papua Barat, Mojaza Sirait, SSi., Apt saat dihubungi oleh Radar Sorong melalui sambungan telephone membenarkan adanya surat edaran terkait perintah penarikan beberapa produk dari Ranitidine yang diedarkan oleh beberapa industri dengan nomor bets.

“Hanya sebagian saja produk Ranitidine yang ditarik, sedangkan sebagiannya masih boleh beredar dan aman untuk digunakan,”tandanya.

Kepala BPOM Papua Barat, menuturkan, pihaknya melalui kantor yang ada di Sorong sudah melakukan monitoring penarikan dan yang ditugaskan untuk melakukan penarikan adalah distributor produk Ranitidine tersebut, sebab direncanakan minggu depan akan dilakukan pengecekkan penarikan produk Ranitidine.

“Jadi masyarakat tidak perlu khawtir dan ini pun merupakan informasi untuk waspada, karena dengan adanya surat edaran untuk penarikan, semata-mata untuk mencegah timbulnya resiko kanker karena produk tersebut diduga tercemar oleh NDMA,” ungkapnya.(juh) 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed