oleh

Muhammad Adnan Firdaus Kunjungi Tiga Negara

-Metro-317 views
Kejujuran Bagian Penting Nilai Pendidikan Karakter

Era modernisasi kini semakin menciptakan banyak tantangan bagi dunia pendidikan. Termasuk pendidikan karakter yang harus tetap diterapkan dalam lingkup dunia pendidikan. Hal inilah yang membuat Muhammad Adnan Firdaus, S.Ag, M.Pd menjajaki Negara Singapura, Malaysia dan Thailand.

Oleh:Agustina Ayu Wulandari, Sorong.

BERKOMITMEN menerapkan nilai pendidikan karakter dalam dunia pendidikan, akhirnya membuat Muhammad Adnan Firdaus, S.Ag,. M.Pd sampai harus berhijrah ke tiga Negara tetangga. Adnan, pria kelahiran Sorong, 15 Januari 1977 yang baru saja menamatkan magisternya di jurusan Pendidikan Agama Islam STAIN Sorong pada 27 November lalu, kini menjadi salah satu perwakilan dalam kegiatan Mobility Student in Southeast Asia.

Adnan bersama kedua rekannya, Hilman Djafar dan Ruslan Rasid, yang semuanya adalah mahasiswa STAIN Sorong menjadi pembicara di tiga universitas terkemuka di Singapura , Malaysia dan Thailand dalam kegiatan Internasional Mini Colloquium in Conjuntion with UCYP 2nd Student Mobility Program for Southeast Asia Countries 2019. Dalam kegiatan yang diselenggarakan sejak 27 November hingga 6 Desember 2019 ini, Adnan akan mempresentasikan materinya yang masih memiliki keterkaitan dengan judul tesisnya yaitu tentang penerapan nilai kejujuran.

Pentingnya pendidikan karakter tentang nilai kejujuran yang mulai tergerus zaman, sehingga dirasa harus ditegakkan kembali. Sebab menurut Adnan, jujur sama artinya dengan nilai mata uang yang berlaku di semua Negara.

“Kenapa nilai kejujuran, karena buat saya ini adalah soft skill. Jujur ini adalah mata uang yang berlaku dimana saja. Bahkan di semua Negara, sangat berlaku mata uang ini”, terangnya.

Bagi Adnan, siapapun orangnya yang memiliki nilai soft skill jujur, Insya Allah akan terpakai dimana saja dan kapan saja. Entah di era 4.0, atau nanti yang akan datang mungkin ada lagi era 5.0, soft skill nilai kejujuran ini adalah hal yang akan mendasari banyak hal apapun diatasnya.

Dalam kegiatan yang diselenggarakan atas kerjasama berbagai pihak, hal ini juga dijadikan Adnan dan kawan-kawan sebagai batu loncatan untuk memperkenalkan STAIN Sorong kepada dunia. Tak hanya itu, Adnan dan kawannya juga akan berbicara terkait Papua yang dalam tanda kutip berada di zona 3T tidak membuat mereka minder menghadapi era 4.0.

“Saya akan buktikan bahwa kami yang berada di zona 3T ini juga siap menghadapi perkembangan zaman terlebih dalam menghadapi era 4.0. buktinya kami bisa dipercaya untuk bisa berbicara kepada dunia meskipun masih dalam regional Asia, tapi kan sudah cukup lumayan untuk modal kami,” tambahnya.

Dirinya yakin, akan memecahkan mitos yang berkembang di masyarakat luas bahwa Papua yang ‘konon’ masyarakatnya sulit berkembang pasti mampu untuk berdiri sejajar bahkan mampu bersaing dengan mereka yang berada di luar Papua.

“Mereka yang lain bisa, mengapa kami tidak? Salahnya dimana, kurangnya apa? Kami juga harus bisa dong,” tegasnya.

Tema berikutnya yang akan dibahas yaitu terkait lingkungan. Apalagi, Adnan merasa di Papua sendiri tema lingkungan ini termasuk dalam tema populer. Berbicara soal hutan, kondisi sungai dan perairan dan bahaya banjir.

“Saya akan angkat tema-tema itu, sebab notabene Sorong ini kemampuan dalam menghadapi bahaya latin banjir mungkin masih minim. Jadi saya fikir menarik untuk diangkat. Bagaimana nanti kajian ekologinya atau bahkan mungkin akan ada juga kajian akademiknya,” tambah Adnan.

Adnan berharap melalui tema-tema yang akan dibawakan oleh dirinya bersama rekan-rekan, akan mampu mencuri perhatian publik serta bisa mengangkat citra STAIN Sorong. Sehingga akan semakin banyak orang yang tertarik dengan STAIN Sorong, terutama di program pascasarjana. Sebab jumlah magister dan doktor kini turut menjadi indikator kemajuan suatu daerah bahkan Negara. (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed