oleh

Modal Habis Terbakar, Entah Kapan Bisa Bangkit Lagi

Melihat Kondisi Korban Aksi Demo yang Berujung Ricuh

Aksi demo yang berujung kericuhan menyisakan gambaran Kota Sorong yang memilukan. Banyak fasilitas umum, perkantoran, tempat usaha dan rumah warga yang menjadi korban luapan emosi massa.

Namirah Hasmir, Sorong

TINDAKAN rasisme di Surabaya dan Malang terhadap mahasiswa Papua mengakibatkan gejolak amarah dari masyarakat Papua dan Papua Barat. Ungkapan yang dianggap melukai hati masyarakat Papua, ditanggapi dengan aksi demo warga di Papua dan Papua Barat, salah satunya di Kota Sorong, yang berujung kericuhan. Aksi ini membuat suasana Kota Sorong mencekam sejak Senin (19/8) saat pertama kali warga turun ke jalan.


Bagian dalam Kantor DPRD Kota Sorong yang hangus terlalap api sewaktu aksi pada Senin (19/8) lalu.

Akses jalan utama terputus akibat pembakaran ban yang dilakukan dibeberapa titik. Masyarakat Kota Sorong terpaksa menahan diri untuk tidak beraktifitas di luar rumah. Aparat gabungan TNI/Polri turun berusaha mengamankan. 

Namun aksi kericuhan terjadi, pendemo merusak beberapa fasilitas umum seperti Terminal Bandar Udara Domine Eduard Osok (DEO), Traffic Light, Pertokoan, Hotel, Rumah Warga, Warung hingga Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Sorong. 

Jumat (23/8), suasana Kota Sorong berangsur normal, namun imbas aksi massa yang terjadi beberapa hari sebelumnya, menyisakan gambaran Kota Sorong yang memilukan. Aktivitas masyarakat sudah kembali normal, jalanan mulai ramai, namun bekas dari aksi yang berujung ricuh tersebut masih terlihat.  Di beberapa titik, bekas pembakaran ban masih ditemukan, beberapa toko dan rumah warga terlihat rusak akibat lemparan batu ke beberapa kaca rumah ataupun toko. Sebagian toko di jalan utama memilih untuk tutup, sebagian lainnya membuka pintu toko seadanya. 

Pangkalan ojek di Jln Sungai Maruni Km 10 Masuk, tepatnya di mata jalan masuk KPR PDAM yang sebelumnya dirubuhkan, sudah mulai didirikan kembali. Sebagian pedagang kaki lima dan warung di Km 10 masuk, mulai membenahi tempat jualan mereka masing-masing. Salah satunya Warung Bakso Mas Min yang sebelumnya terbakar akibat dari tindakan anarkis para pendemo. Puing-puing bangunan sisa kebakaran terlihat jelas di pinggir Jalan Sungai Maruni, seng-seng bekas mulai dikumpulkan dan bangunan tersisa mulai diratakan. 

Aksi massa diakui pemilik Warung Bakso Mas Min, Ramin sangat cepat. Massa dengan jumlah yang begitu banyak, berjalan dari arah Gunung Jupri dan terbagi menjadi dua kelompok. “Sebagian masuk ke dalam, ke arah Kantor DPRD, sebagian di sini (pinggir jalan,red),” terangnya. Melihat massa yang begitu banyak, Mas Min ~sapaan akrabnya~ lalu keluar dari warungnya bersama dengan 7 orang lainnya ke seberang jalan untuk berlindung. Ketika Kantor DPRD Kota Sorong telah dirusak dan dibakar, massa dengan cepat langsung membakar warung miliknya.  “Setahu saya bakarnya itu bersamaan, saat Kantor DPRD dibakar, warung saya juga ikut dibakar,” jelasnya. 

Pembakaran diawali dengan pelemparan batu. Mas Min tidak mengetahui pasti namun ia menduga ada beberapa orang yang tergabung dalam massa tersebut yang membawa bensin untuk disiram dan dibakar pada warungnya. 

Saat kejadian tersebut, menurut Mas Min, tidak ada satupun aparat yang terlihat. Mas Min dan karyawan berupaya memadamkan api menggunakan air got, namun upaya tersebut tidak berhasil. Akhirnya, ia hanya bisa pasrah melihat kondisi warungnya habis terbakar. 

Akibat insiden tersebut, seluruh barang-barang untuk berjualan dan barang pribadi, baik BPKB, Dompet hingga identitas diri, habis terbakar. “Tidak ada yang tersisa, semuanya habis terbakar,” ucapnya pilu.

Untuk saat ini, ia hanya mengharapkan kebijakan dari pemerintah daerah untuk dapat kembali berjualan. Menurutnya, modal yang ia punya sudah tidak ada sama sekali. Sejak hari pertama kejadian, ia sudah tidak berjualan. “Masih belum tahu bisa kembali berjualan apa tidak, sudah tidak ada modal sama sekali,” ucapnya. 

Selain Warung Mas Min, kondisi Gedung DPRD Kota Sorong juga sangat memprihatinkan. Sebagian warna gedung berubah menjadi hitam. Gedung yang didominasi kaca, hampir seluruhnya retak menjadi pecahan di lantai gedung yang kini telah diberi garis polisi.  Ruangan Ketua DPRD Kota Sorong bersama Wakil Ketua 1 dan 2, serta seluruh ruangan di sisi kanan lantai 1, hangus terbakar menyisakan debu dan puing-puing bangunan. Sementara ruangan di sisi sebelah kiri terlihat berantakan dengan kondisi ruangan yang tidak beraturan dan dipenuhi pecahan kaca.  

Beberapa lampu taman dan tanaman juga terlihat rusak, 1 unit mobil dinas dan 3 unit sepeda motor yang terparkir di area parkiran, tidak luput dari amuk massa yang membakar seluruhnya hingga menyisakan rangka kendaraan yang terbakar.  Saat mendatangi kantor DPRD Kota Sorong, Jumat (23/8) terlihat beberapa aparat TNI dan Brimob serta security sedang berjaga di luar gedung. Sekitar pukul 09.00 WIT, belum terlihat anggota DPRD Kota Sorong di lokasi.  

Gambaran pilu insiden yang berlangsung ricuh ini juga dirasakan oleh Yahya dan rekan-rekannya. Pasalnya, bengkel yang menjadi tempat mencari nafkah ikut menjadi sasaran amuk massa. Tidak hanya bengkel, Kios dan Depot Air Galon yang terjejer di barak yang terletak di Jalan TPU di bawah Gunung Jupri, ludes terbakar. “Disini ada 4 barak, 3-nya terisi, Kios, Depot Galon, dan Bengkel,” terang Yahya. 

Aksi pembakaran terjadi di hari ke 2, massa tiba-tiba berkumpul dan melakukan aksi  di sekitar Gunung Jupri. Aparat kepolisian yang berjaga memukul mundur massa, namun massa kembali maju dan melakukan pelemparan hingga akhirnya aparat mengeluarkan gas air mata.  Massa yang semakin memanas lalu melakukan pelemparan hingga masuk ke dalam kios, barak paling ujung sebelah kanan. Di kios, menurut keterangan Yahya, hanya ada 1 perempuan yang berjaga. Karena panik, perempuan tersebut diduga pingsan dan diamankan oleh anggota. 

Sementara Yahya dan salah seorang rekannya, saat itu sedang berada di luar bengkel, sehingga hanya ada Widi dan 2 orang lainnya didalam bengkel. Melihat massa yang sudah tidak terkontrol, Widi dan kedua orang lainnya melarikan diri dari pintu belakang ke rumah yang berada tepat di samping bengkel.  “Massa sudah mengamuk, kami bertiga langsung lari ke sini (rumah samping bengkel,red) untuk berlindung,” terang Widi.  Di Depot Air Galon, terdapat seorang ibu dan 2 anaknya, beruntung ketiganya berhasil kabur lebih dulu meninggalkan depot. Sehingga saat kejadian, tidak terdapat korban jiwa, namun seluruh barak habis terbakar.

Pembakaran dilakukan saat massa menemukan bensin di kios pada barak paling ujung. Api lalu menjalar dengan cepat, aparat kepolisian yang datang dengan mobil tangki air berupaya untuk memadamkan api, namun seluruhnya telah terbakar habis. “Kebakaran dimulai dari kios dan menjalar sampai ke Bengkel,” jelasnya. 

Kebakaran menyebabkan kerugian yang cukup besar. Bengkel tempat Yahya dan yang lain bekerja, terdapat 25 unit sepeda motor dan barang-barang lainnya. Namun, hanya ada 2 motor yang berhasil diselamatkan. “Motor yang berhasil selamat cuma 2, selebihnya habis terbakar. Kebanyakan motor anggota TNI, karena memang langganan perbaiki motor disini,” jelasnya.  Sama halnya dengan Warung Mas Min, Yahya dan yang lain belum mengetahui kapan pastinya memulai usaha, karena modal yang dimiliki sudah habis terbakar. (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed