oleh

Metode Daring Tak Dongkrak Penjualan Komputer

-Ekonomi-197 views

SORONG – Diasumsikan bahwa metode pembelajaran Daring selama masa pandemic Covid-19 mendongkrak penjualan laptop maupun komputer. Namun hal ini ternyata tidak dialami oleh Toko Mahadewa Komputer.
Mahadewa komputer Cabang Sorong sebagai ritel resmi yang menyediakan laptop maupun personal computer (PC) berbagai merk rupanya tak luput dari dampak pandemi yang merebak di Kota Sorong sejak awal tahun lalu. Kepala Cabang Mahadewa Computer Sorong, Arif mengatakan, bahwa penjualan selama pandemi sudah merosot hingga 60 persen.
Dikatakannya, metode daring yang dilakukan di berbagai instansi maupun sekolah atau kampus, tak mempengaruhi peningkatan penjualan.
”Untuk daring yang dilakukan di berbagai instansi biasanya mereka sudah memiliki perangkat laptop sendiri. Sementara untuk mahasiswa maupun siswa yang ­mengikuti proses belajar daring biasanya lebih mengandalkan smartphone. Sehingga kami cenderung turun,” ungkapnya, Kamis lalu (16/7).
Selain itu, sambungnya, pelanggan Mahadewa Computer saat ini hanya user biasa, bukan dari instansi yang melakukan pengadaan. Sebab anggaran yang dimiliki ­instansi banyak yang dialihfungsikan untuk penanganan covid. Hal ini juga mengakibatkan banyak progress Mahadewa ­Computer yang akhirnya di cancel.
”Beberapa ada yang rencana untuk pengadaan, sudah kami siapkan, tapi kemudian cancel karena anggaran tadi,” kata Arif.
Selain itu alasan lain yang juga menjadi kendala bagi Mahadewa Computer yakni pada sistem ekspedisi, baik ekspedisi melalui jalur udara maupun laut.
”Yang paling parah adalah jalur udara. Untuk perlengkapan seperti komputer, laptop dan golongannya tidak bisa melalui jalur udara sehingga semua harus dialirkan melalui ekspedisi laut. Biaya ekspedisi pun ikut melonjak sampai sekitar 40%. Apalagi kita tahu bersama bahwa biaya ekspedisi di wilayah Timur Indonesia cukup mahal, ditambah lagi dengan adanya pandemi yang membuat biaya ekspedisi itu semakin tinggi,” keluhnya.
Pengaruh dari mahalnya biaya ekspedisi juga berdampak pada harga jual produk yang ikut melambung sekitar 10-15 persen.Bahkan beberapa produk sudah mengalami kenaikan harga dari pusatnya. Hal ini dikarenakan suplai dari luar negeri masih kurang sehingga masyarakat hanya mengandalkan produksi dalam negeri saja.
Kendati mu mengalami penurunan omset yang cukup drastis, arif masih tetap bersyukur sempat masih bisa bertahan dalam kondisi seperti ini.
”Alhamdulillah yang penting sekarang kita masih bisa bertahan. Yang diutamakan saat ini adalah bertahan dulu meskipun terseok-seok. Karena masih banyak daerah lain yang mengalami hal yang jauh lebih parah dari kita,” ujarnya.
Di akhir perbincangan arif hanya berharap agar keadaan bisa kembali normal seperti sedia kala. Sehingga roda perekonomian bisa kembali berputar efektif lagi. (ayu)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed