oleh

Metamorfosa Hotel di Tengah Pandemi Virus Corona

Vega Hotel Survive, GM Beberkan Rahasianya

Pandemi Covid-19 menyusahkan perusahaan jasa khususnya perhotelan. Akibatnya, tak sedikit hotel terpaksa tutup, termasuk di Kota Sorong yang beralih fungsi menjadi tempat istirahat paramedis yang menangani Covid-19.

Agustina Ayu Wulandari, Sorong

SEMENJAK pandemi di tanah air Maret lalu, tak sedikit hotel yang beralih fungsi dijadikan tempat isolasi atau tempat isti­rahat bagi paramedis yang menjadi ­garda terdepan penanganan kasus covid-19. Di Kota Sorong sendiri, beberapa hotel tutup sementara. Perhotelan merupakan salah satu sektor pariwisata yang terdampak langsung secara signifikan oleh pandemi global Covid-19.

Berbeda halnya dengan Vega Hotel Sorong yang identik dengan warna kuning. Alih-alih memutuskan tutup, managemen Vega Hotel justru kian gencar mempromosikan produknya di tengah gelombang pandemi. Mulai dari berbagai paket ­promo kamar, makanan dan minuman serta ­paket menarik lainnya. Penjualannya pun ­dilakukan dengan cara yang berbeda. 

Vega Hotel ingin tetap eksis dan tak ingin berjarak dengan customer, akhirnya melirik ­media sosial sebagai sarana mempromosikan produk dan jasanya. 

Cluster General Manager Vega Hotel Sorong, Agus Sunarto mengatakan, pelaku bisnis yang bergerak di bidang jasa harus peka dengan apa yang sedang dihadapi. “Sekarang  ini yang kita hadapi adalah virus pandemi yang sudah mengglobal. Jadi apa kira-kira yang bisa dilakukan untuk menghadapi ini, akan saya bahas disini,” ujar Agus.

Pertama, pelaku bisnis di bidang jasa perhotelan ini ­harus yakin bahwa produk atau jasa bisa dijual pada situasi apapun. “Jadi produk dan pelayanan kita harus ­bisa dijual dalam situasi apapun,” kata Agus.

Kedua, peka terhadap ­situasi sekitar, termasuk kebutuhan customer. Jangan selalu berfikiran secara konvensional. “Jangan berfikir, saya jualan di kondisi seperti ini kalau tidak laku ya sudah. Pekerjaan kita bersentuhan dengan human, artinya secara langsung harus bisa dirasakan oleh customer. Human ini  memerlukan penanganan yang lebih personal, kemampuan mendengarkan dan merefleksikan kebutuhan costumer kedalam layanan jasa kita ketimbang memaksakan sebuah produk baru untuk dijual tanpa memperhatikan manfaatnya bagi customer. Itulah salah satu alasan kenapa kita harus semakin responsive dan ino­vatif dalam menyikapi kebutuhan pasar. kalau kita hanya berpatokan pada gaya konvensional yang belum tentu dapat mencapai target bisnis pada saat situasi normal apalagi ketika dihadapkan dengan pandemic global, kita akan semakin tergerus oleh perkembangan karena ketidakmampuan beradaptasi ­dengan berbagai kondisi. 

Karenanya lanjut Agus, ada beberapa tools yang dibutuhkan, misalnya terkait strategi marketing. “Kita berusaha mencari yang unusual atau tidak seperti biasanya. Contoh­nya kita live di facebook, itu kan tidak dilakukan di kondisi normal. Biasanya kita melakukan soft marketing, nah sekarang kita live streaming. Tidak masalah jika orang menilai ini tidak wajar, ­karena pada kenyataannya ini memang kondisinya sedang tidak normal, makanya kita juga bekerja dengan strategi yang tidak normal,” kata dia.

Yang tidak kalah penting, tetap harus stand by di garda depan, baik dalam kondisi normal maupun tidak, untuk saling membantu menyelesaikan program apa saja yang harus diselesaikan bersama untuk menghadapi situasi ini. Berbagai pihak harus terbuka dalam hal pemikiran, tenaga, strategi dan sebagainya. ­“Tidak bisa berdiam diri dengan berkata ah ya sudahlah. Nanti  kalau sudah waktunya kan kita pasti bakal merasakan juga,” sambungnya.

Karena itulah, Agus selalu mengajak semua lini departemen di Vega Hotel Sorong siap berperang melawan itu (kondisi pandemi,red). Baginya, semua harus bertahan, jualan, kreatif, responsive, dan bisa melakukan banyak hal positif. Tidak boleh ada celah untuk lengah, tidak ada waktu bersantai. “Di kondisi sekarang kita harus terus berpacu ­dengan kecepatan yang lebih tinggi. Kecepatan pekerjaan, kece­patan merespon pasar, dan kecepatan lainnya dengan rumus cepat tepat,” ujarnya.

Jangan sampai di tengah kondisi global yang kritis dan krisis ini hanya berdiam dan menunggu. Lebih dari itu, harus berupaya melepaskan diri dari keterpurukan ­dengan cara-cara yang telah disampai­kannya tersebut. Bila perlu harus siap berada di garda terdepan untuk menangkap peluang dalam kondisi ini. Tentunya dengan tetap menerapkan protokol apa yang yang disarankan oleh pemerintah sebagai parameternya. “Setelah protokolnya dipegang, barulah bisa dibuat produknya seperti apa, yang penting tidak mengabaikan protokol. Kita semua ingin survive, dan itu harus dimulai dari diri kita sendiri. Misalnya batin kita harus survive dulu supaya  men-support pekerjaan untuk survive juga,” kata dia.

Disinggung mengenai antisipasi yang bakal dilakukannya apabila keadaan memburuk, Agus menjawab apapun kondisinya, jika orang sudah terbiasa dengan gelombang krisis dan kritis, ke depannya orang tersebut pasti akan siap untuk melalui gelombang yang lebih besar lagi. Menurutnya, tidak ada masalah lagi karena sudah terbiasa. Sebab setiap orang harus tahu tujuan yang ingin dicapai seperti apa. Sehingga tidak bisa menerapkan prinsip mengikuti air yang mengalir, karena ketika air tidak lagi mengalir orang akan stag dan tidak mampu bergerak.

Jika sejak awal orang sudah bekerja dengan komitmen, berkarya peduli pada kon­disi, maka tidak akan menjadi ­sebuah penghalang jika dihadapkan dengan situasi yang unpredictable. Kita harus menyiapkan banyak opsi A, B dan C. Jadi ada lebih dari satu plan, kalau kondisi ­normal saya harus begini, kalau ­kondisi tidak normal saya harus ­begitu, kalau kondisi jauh dari kata normal saya harus bagai­mana lagi, semuanya harus dipersiapkan. Kita harus tahu ­pasti titik tujuan yang ingin dicapai dimana,” jelasnya lagi.

Bagi Agus yang saat ini memegang kendali sebagai ­Cluster General Manager Vega-Waigo Splash Hotel, semua ini adalah sebuah perjalanan bisnis yang harus membuatnya menyesuaikan diri. Jika dirinya dan seluruh stakeholder tidak mempersiapkan diri dan tidak ada upaya kesana, selalu ­terbiasa dalam kondisi yang enak kita tidak akan cukup tangguh ketika diterpa permasalahan seperti sekarang. 

Hal ini bukan berarti dimak­sudkan harus keluar dari ­zona nyaman, sebab baginya ­tujuan orang bekerja adalah untuk mencapai kenyamanan ­tetapi bukan menyamankan diri. “Sehingga saat berada di kondisi ini kita harus berusaha melakukan sesuatu untuk mencapai status nyaman dan mempertahankan kese­imbangan itu. Jangan sampai keadaan itu membuat kita terlena, bekerja harus tetap fit. Nyaman itu hasil dari pekerjaan kita, bukan sebuah kondisi. Nyaman itu kita yang ciptakan,” pungkasnya. (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed