oleh

Menyusuri Panorama Wisata di Misool

Gua Keramat, Ada Situs Islamnya

Cuaca yang sedikit mendung mengiringi kami meninggalkan Nut Tonton menuju Goa Keramat yang membutuhkan waktu sekitar satu jam dengan speed boat. Tidak jauh dari Nut Tonton, ada pulau dengan pasir putihnya hingga ada yang nyeletuk pantainya indah sekali.

————————————

Rombongan kami sebanyak 12 orang dewasa dan ana-anak ditambah motoris dan pembantu motoris menyusuri laut di pinggiran gunung karst, selain itu juga ada tiga speedboat lagi. Tiga puluh menit kemudian melewati  areal budidaya kerang mutiara. Sebatas memandang hanya terlihat pelampung pelampung dan drum drum sebagai penggaet tali tali kerang mutiara.

Setelah keluar dari areal budidaya kerang, pemandangan indah lainnya muncul berupa segerombolan ikan lumba-lumba yang cukup besar sekitar 5-6 ekor melompat-lompat. Ini membuat rombongan wisatawan langsung memainkan kamera ponselnya. Sayang speedboat dengan mesin 40 PK dua buah terlalu cepat meninggalkan rombongan ikan lumba lumba. Lima belas menit berikutnya juga muncul rombongan lumba-lumba tapi hanya sekitar tiga ekor.

Ibu-ibu saat mengabadikan foto di dalam goa yang terlihat indah.

Setelah memasuki selat yang mirip sungai, lumba-lumba sudah tidak ada lagi, kami disuguhi pemandangan alam berupa batu karang atau kars yang menjulang tinggi dan tipis-tipis seperti disusun . Batu batu ini mirip candi atau disusun oleh manusia, padahal ini tidak ada sentuhan tangan manusia sedikitpun, semua proses alam.

Akhirnya sport pertama dalam tour sehari di Misool tercapai juga. Dari kejauhan terlihat pintu goa yang tinggi dan di atas pintu terlihat seperti lafazd atau huruf Arab, Allah. Huruf yang menyerupai lafazd Allah tersebut berwarna putih sedangkan batunya berwarna hitam. Ketinggian pintu goa keramat ini sekitar 50 meter.

Akhirnya speedboat sandar di dermaga Goa Keramat. Alhamdulilah, Pemda sudah membangun dermaga dari kayu yang tertata rapi, begitu pula makam penyebar agama Islam di Misool juga sudah terpagar dan terawat dengan baik. Menurut tour leadher Arsyad Macap, tempat ini merupakan makamnya penyebar agama Islam di tanah Papua yakni Syech Abdul Rahman Asegaf bin Alawi dan istrinya. 

Menurut Arsyad, Syech Abdul Rahan Assegaf bin Alawi bersama  istrinya ini sebenarnya seperti Wali Songo yang ada di Jawa, hanya saja Syech Abdul Rahman Assegaf ini datang langsung dari Arab ke Misool ini. 

Setelah mendapat penjelasan dan membaca surah Al Fatihah, wisatawan bebas menikmati indahnya panorama Goa Keramat.  Banyak stalaktit maupun stalakmit menambah keindahan goa dipadu dengan air yang jernih bagaikan kaca dan terasa dingin serta sejuk. Tidaklah mengherankan bila penghobi berenang seperti H. Amri, H. Muslim, H. Muklis, Arsyad, Usman dan lainnya langsung lompat dan berenang.

Wisatawan yang lain terutama ibu-ibu dan remaja putri sibuk dengan urusan selfi dan pengambilan gambar. Waktu setengah jam di Goa Keramat ini seperti masih kurang lama, mungkin perlu setengah hari hari untuk bisa mengeksplore keindahan objek wisata yang sangat indah ini. Goa Tengkorak yang ada dibibir pantai pun menjadi destinasi kedua. Wisatawan di Kota dan ­kabupaten Sorong ini hanya foto-foto dari atas speed boat saja. ­(Tupono/bersambung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed