oleh

Menyerah atau Terus Diburu!

Bernard Sagrim : Berani Berbuat harus Berani Bertanggungjawab

SORONG – Bupati Maybrat Dr. Drs. Bernard Sagrim,MM mengatakan, aparat TNI-Polri yang dikirim ke ­Maybrat khususnya wilayah Aifat Selatan dan Aifat Timur, itu khusus untuk memburu para pelaku kriminal bersenjata yang melakukan penyerangan dan pembunuhan 4 prajurit TNI di Posramil Kisor 2 September lalu. ­Karena itu, orang nomor satu di Kabupaten Maybrat ini meminta kepada para pelaku untuk menyerahkan diri secara baik-baik. Sebaliknya, jika para pelaku tidak mau menyerahkan diri dan terus menebar teror, maka aparat keamanan akan terus memburu para pelaku hingga tertangkap hidup atau mati.

PMB OPBJJ-UT Sorong

Penegasan ini disampaikan Bupati Kabupaten Maybrat yang didampingi Sekda Maybrat, Jhonny Way,S.Hut,MSi dan para asisten saat menggelar pertemuaan dengan para kepala distrik, kepala kampung dan para tokoh se-Aifat Raya, Selasa (7/9) lalu. Pertemuan yang berlangsung di aula kantor Distrik Aitinyo Raya, merupakan respon pemerintah dan masyarakat di wilayah Aifat Raya mengatasi dampak yang timbul akibat kejadian penyerangan dan pembunuhan 4 prajurit TNI di Posramil Kisor 2 September.

Dalam arahannya, Bupati Maybrat menyambung arahan Gubernur Papua Barat, penegasan Kapolda Papua Barat dan Pangdam XVIII Kasuari yang menjamin keamanan masyarakat sipil yang ada di 18 kampung di wilayah Aifat Selatan untuk kembali ke kampung halamannya masing-masing beraktifitas seperti biasa. ”Khusus kepada warga masyarakat yang sampai saat ini merasa tidak nyaman di kampung halamannya bisa menyesuaikan diri di kampung atau distrik tetangga,” ucap Sagrim.

Ditegaskannya, aparat TNI-Polri yang dikirim ke Maybrat khususnya wilayah Aifat Selatan dan Aifat Timur, khusus untuk memburu para pelaku kriminal bersenjata, bukan memburu masyarakat sipil. ”Kalau berani berbuat harus berani bertanggung jawab, jangan membuat masyarakat yang jadi korban,” tukas Sagrim.  Ia mengingatkan jajarannya untuk mendata dengan baik masyarakat yang mengungsi termasuk anak-anak sekolah, supaya mendapat perhatian dari pemerintah daerah terutama anak-anak sekolah supaya bisa terlayani dengan baik, ditempatkan di sekolah-sekolah sekitar untuk sementara waktu sampai kondisi keamanan benar-benar stabil untuk kembali ke sekolah asal. 

Bangun Pos di Setiap Kampung Jamin ­Keselamatan Warga

Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XVIII/Kasuari memastikan situasi di Kabupaten Maybrat sudah kondusif dengan ditempatkan sejumlah pos gabungan TNI/Polri di setiap kampung guna menjamin keamanan masyarakat yang saat ini pergi meninggalkan kampung.

Dalam rilisnya, Rabu (8/9) Kapendam XVIII Kasuari, Kolonel Arm. Hendra Pesireron,S.Sos mengatakan, beberapa masyarakat telah melapor ke pos bahwa mereka tidak berani kembali ke kampung karena diancam oleh kelompok KNPB, dimana jika masyarakat kembali ke kampung maka masyarakat akan dibunuh. Selain itu, para pemuda kampung juga melaporkan kuliah mereka terhambat akibat diancam. ”Oleh karenanya tim gabungan TNI/Polri terus menjamin keamanan masyarakat untuk kembali ke kampung, karena kami telah mengantongi nama-nama pelaku yang terlibat saat penyerangan pos lalu,” kata Kapendam melalui rilisnya yang diterima Radar Sorong, kemarin (8/9).

Kapendam mengatakan, masyarakat dapat melihat betapa kejinya KNPB yang sama sekali tidak ingin untuk adanya pembangunan di kampung-kampung atau di tanah Papua sehingga setiap pembangunan akan dihambat oleh kelompok tersebut. ”Mereka juga mengancam masyarakat untuk ikut menghambat pembangunan yang ada di kampung bahkan merusak segala pembangunan yang ada di kampung terbukti kemarin mereka merusak jembatan yang bukan dibangun oleh mereka,”ungkapnya.

Dijelaskannya, pada Minggu (5/9) tim gabungan TNI/Polri melakukan patroli pengejaran terhadap pelaku penyerangan dan pembunuhan anggota TNI AD Posramil Kisor Kabupaten Maybrat. Saat di perjalanan, didapati beberapa jembatan yang sengaja dirusaki oleh kelompok KNPB. ”Kemudian tim gabungan melakukan pengamanan lokasi setempat dan mengarahkan 1 tim untuk melakukan pengejaran, dan didapati ada orang dari kelompok KNPB menenteng senjata akhirnya terjadi pengejaran dan penembakan terhadap kelompok tersebut namun dengan cepat mereka lari masuk ke hutan,” terangnya.

Akhirnya tim gabungan melakukan konsolidasi, namun saat patroli pengejaran didapati 1 pelaku yang terlibat saat penyerangan posramil persiapan. Kapendam menyebutkan, ideologi pelaku penyerangan merupakan ideologi kolonial karena mereka hanya menghasut, mengancam, meneror dan menghambat pembangunan. ”Kami imbau agar orang tua menjaga anak-anak kita atau generasi muda kita dari hasutan kelompok KNPB tersebut, jangan mau menjadi penghancur tanah Papua ini. Biarkan generasi muda kita untuk terus bersekolah dan mengembangkan diri sehingga bisa menjadi anak-anak yang pandai dan takut akan Tuhan,” imbuhnya. (ris/juh)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed