oleh

Menumbuhkan Kreativitas Perempuan Papua di Masa Pandemi Covid-19

-Future-397 views

Berlatih Tenun Kain Adat Demi Membantu Perekonomian Keluarga

Mengingat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level III Kota Sorong masih diperpanjang, warga terus berinovasi dan berkreativitas untuk meningkatkan perekonomian di tengah masa pandemi saat ini. Kreativitas juga dilakukan Dinas Pemberdayaan Perempuan Kota Sorong yang melibatkan 30 perempuan asli Papua dari Sanggar Maitemorai mengikuti pelatihan Tenun tradisional kain adat asal Kabupaten Maybrat.

Juhra Nasir, Sorong

PMB OPBJJ-UT Sorong

PELATIHAN Tenun Tradisional angkatan ke-XVI dilaksanakan Dinas Pemberdayaan Perempuan Kota Sorong selama seminggu, diikuti 30 perempuan asli Papua, baik dewasa, mahasiswa hingga pelajar. Kabid Kesetaraan Gender, Yakomina Isir yang juga merupakan Pengelola Sanggar Maitemorai mengatakan, meskipun saat ini masa pandemi, namun Covid-19 hendaknya tidak mempengaruhi kreativitas perempuan Papua untuk meningkatkan perekonomian.

Salah satunya, perempuan Papua dilatih menenun kain adat asal Kabupaten Maybrat. Pelatihan menggunakan alat tenun tradisional untuk mengasah kemampuan perempuan Papua agar terus berinovasi. ”Di sini 30 peserta yang ikut latihan, jumlah peserta sengaja dibatasi guna meminimalisir resiko terpapar Covid-19,” ucap Yakomina Isir.

Pelatihan tenun tradisional  sebagai bentuk peningkatan ekonomi masyarakat asli Papua di tengah pandemi Covid-19 dan penerapan PPKM Level III di Kota Sorong. Dengan mengambil salah satu contoh kain asal Kabupaten Maybrat, para pelajar dan mahasiswa mulai dilatih membuat kain tenun secara perlahan. ”Model kain yang kami gunakan adalah kain adat Maybrat jaman dulu, contoh kainnya sudah lama saya simpan sebagai peninggalan warisan orang tua. Karena kalau punah, maka bisa hilang sudah wariaan itu. Kain ini bisa untuk pakai saat membayar mas kawin ataupun denda adat,” ujarnya

Yakomina menjelaskan, kain adat di tanah Papua memiliki urutan dan kelasnya, ada adat Maybrat, Moi, Arfak dan masih banyak lagi adat di Papua. Khususnya Kain Adat Maybrat ini, pengerjaannya bisa seminggu untuk 1 kain yang diproduksi oleh Sanggar Maitemorai. Melalui pelatihan ini, para peserta diharapkan ke depannya bisa membantu perekonomian keluarga melalui kreativitas dan aktivitas tenun kain adat Maybrat. ”Kain ini kami jual hanya di Sanggar, harganya tergantung ukuran kain dan nilaj adat. Meskipun sedang pandemi, banyak pejabat yang datang membeli kain ataupun barang lainnya,” ungkapnya. 

Bahan dasar pembuatan kain adat Maybrat yakni benang bisa didapatkan di area Sorong. Sebenarnya, latihan Tenun ini sudah diusulkan sejak tahun 2020, namun karena terbatasnya dana, personel dan adanya pandemi Covid-19, sehingga baru tereaslisasi tahun 2021. ”Kami pernah memiliki alat tenun modern, hanya saja sudah tidak berfungsi selama 5 tahun terakhir, dan siapa yang mau pergi urus perbaiki di Kota Surabaya. Saya harap dengan adanya pelatihan ini dapat menambahkan semangat kerja perempuan Papua,”tuturnya.

Majelis Rakyat Papua melalui Pokja Perempuan, Agnes Isir,S.Sos,M.Si menyambut baik pelatihan manual tenun kain adat Maybrat ini. Latihan tenun yang digelar oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan Kota Sorong merupakan hal yang positif. Pemerintah Kota Sorong sedang memilah dan membagi dana Otonomi khusus yang langsung menyentuh akar rumput khususnya perempuan Asli Papua. ”Kehadiran mahasiswi dan pelajar ini untuk diajar dan dibina melalui kegiatan pelatihan tersebut. Sehingga diharapkan pelatihan ini, bisa menjadi bekal untuk perempuan Papua,” kata Agnes Isir seraya menambahkan bahwa penyerapan dana otonomi khusus di wilayah Pemerintah Kota Sorong khususnya bagi perempuan Papua sangat optimal. (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed