oleh

Mengunjungi Kontrakan di Belakang Asrama Kodim yang Terdampak Longsor

Cegah Air Masuk Rumah, Faris Tertimbun Longsor

HUJAN ekstrem disertai dengan angin kencang terjadi pada hari Kamis (16/7) sore hingga malam hari, mengakibatkan banjir di sebagian besar wilayah Kota Sorong. Juga menyebabkan longsor di beberapa titik, salah satunya di belakang Asrama Kodim 1802/Sorong.

Juhra Nasir, Sorong

RUMAH kontrakan di Jalan Jambu Mete RT 03/RW 06 belakang Asrama Kodim 1802 Klademak III Kota Sorong,  termasuk salah satu bangunan yang terdampak longsor imbas hujan lebat yang mengguyur Kota Sorong, Kamis (16/7) sore hingga malam hari.

Tak hanya kerugian material akibat tembok bangunan rusak tertimbun tanah, kejadian longsornya bukit setinggi lebih kurang 10 meter di belakang rumah kontrakan ini menyebabkan nyawa salah seorang penghuni kost, Faris (34) tak tertolong lagi. Ia tewas tertimbun longsor saat sedang membuat drainase di belakang rumahnya. Ia berupaya mencegah air hujan masuk ke dalam rumah kontrakan, namun takdir berkata lain. Faris merupakan salah satu diantara 3 warga yang tewas akibat longsor di beberapa titik di Kota Sorong.

Rumah kontrakan ini terbagi 3 petak yang di belakangnya terdapat bukit. Antara dinding bagian belakang dengan bukit, hanya berjarak sekitar 1 meter. Faris tinggal di petak rumah urutan pertama. Ia sehari-harinya bekerja sebagai pendamping PKH di Kelurahan Klaligi. Di rumah kontrakannya ini, ia dan tinggal bersama istri dan dua anaknya kurang lebih 3 tahun lamanya. Ia ramah dan baik kepada semua orang.

Koran ini pun mendatangi rumah kontrakan yang ditinggali Faris.  Terlihat lubang besar akibat timbunan tanah longsor di dapur milik korban. Jenazah korban sudah di terbangkan ke Ambon bersama dengan keluarganya sehingga dirumah korban nampak kosong.

Koran ini menemui tetangga korban, Marlen, yang saat kejadian longsor juga sedang berada di kontrakan. Marlen menceritakan, sebelum kejadian longsor, ia sedang berada di belakang rumah bersama dengan korban yang akan membuat saluran air agar air tidak masuk ke dalam rumah. Tak berselang lama terdengar suara seperti ada yang jatuh, sehingga ia lari masuk ke dalam rumah. Saat itulah, ia mendengar Faris berteriak, sehingga ia kembali untuk mengecek kondisi tetangganya tersebut.

“Waktu itu mati lampu, saya saat itu lagi senter Faris untuk membuat saluran air. Pas saya balik belakang saya dengar ada yang jatuh kemudian saya lari ke dalam rumah, tapi saya mendengar Faris berteriak tolong. Akhirnya saya kembali dan senter beliau ternyata beliau sudah tertimbun tanah, saya pun lari dan meminta tolong,” jelasnya kepada Radar Sorong, Jumat (17/7).

Saat kejadian tersebut, listrik padam mulai pukul 19.00 WIT disertai dengan hujan lebat sehingga ia bersama dengan korban berada di dapur belakang, sambil memegang senter handphone untuk menerangi korban yang sedang membuat saluran air.  “Ada dua orang yang tertimbun, 1 orangnya itu saudaranya hanya luka-luka saja, sedangkan pak Faris langsung tertimbun tanah sehingga meninggal dunia,” ungkapnya.

Ditambahkan Marlen, tanah itu tiba-tiba turun dan posisi korban saat itu berada di atas dekat dengan bukit sementara ia agak jauh. “Korban ini sudah tinggal sekitar 3 tahunan di sini dan memang dia sangat baik dengan tetangga juga. Korban juga sudah di bawa ke Ambon dan kejadian itu mungkin sekitar pukul 19.00 WIT, kami tidak terlalu perhatikan jam karena sudah panik,” ungkapnya.

Salah satu tetangganya, Mike mengatakan Faris merupakan orang yang ramah dan saling membantu sesama di acara apapun. Saat kejadian tersebut, anak dan istrinya ada bersama dengannya di dalam rumah. Dan saat kejadian,  Mike tidak terlalu mengetahuinya sebab selang 30 menit istrinya berteriak, kemungkinan istri korban sudah berteriak akan tetapi tidak ada yang mendengar karena saat itu hujan deras dan mati lampu. 

Tetangga korban akhirnya berdatangan setelah mendengar teriakan Marlen dan istri korban, kemudian berupaya mengevakuasi korban. Sayangnya, nyawa korban tak tertolong lagi.  “Kami juga tidak mendengar dengan baik, saat hujan mulai reda baru kami dengar suara teriakan istrinya, karena kami masing-masing ada di dalam rumah. Longsor ini sudah yang kedua kalinya terjadi, namun yang pertama memang tidak ada korban hanya rusak bangunan saja,” tutupnya. (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed