oleh

Mengunjungi Cyntia, Gadis Malang yang Kondisinya Memprihatinkan

Lumpuh Sejak Kecil, Ditinggalkan Ortu Pula

Selama 9 tahun hidup dalam kelumpuhan, selama 9 tahun pula ditinggal kedua orang tuanya yang kini entah dimana. Sempat dirawat sang nenek dari usia 1 hingga 7 tahun,  kini neneknya tak lagi bersama, sudah mendahului dipanggil Yang Maha Kuasa.  

Norma Fauzia Muhammad, Sorong

SORE itu, Senin (5/4) pukul 15.16 WIT, saya dan seorang rekan seprofesi mengunjungi Cyntia (10), bocah berusia 10 tahun yang mengalami kelumpuhan di kediamannya di Jalan Ampi Kelurahan Puncak Cendrawasi, Distrik Sorong Barat Kota Sorong. Sebelumnya, mendengar keadaan anak malang tersebut, saya dan teman membeli camilan dan sembako, buah tangan seadanya untuk membantu bocah malang tersebut dan keluarganya.

Untuk mencapai rumahnya yang berada di lorong sempit, kita harus jalan kaki di jalanan setapak yang cukup menguras tenaga, menuruni maupun menaiki gunung demi gunung setapak, hingga tiba di depan rumahnya. Suasananya hening, nampak rumah yang dibangun kontruksi batu bata belum tersentuh plesteran semen.  Kami diminta tunggu beberapa menit, karena anak malang tersebut lagi dimandikan. Tak berapa lama menunggu, saya dan teman pun disilahkan masuk rumah. 

Saat masuk, saya terkejut melihat anak malang tersebut. Ia digendong seorang remaja laki-laki, kemudian diletakkannya di tempat tidur yang berada di ruang tamu. Anak malang tersebut dengan kaki bagian sebelah kanan di taruh di atas kaki kirinya seolah memangku kakinya, tangan kiri yang terangkat menutupi hadapan wajahnya seolah malu, namun saya salah. Ketika saya melontarkan pertanyaan “Kakinya diluruskan saja, baru ade dia malu kah tutup muka,” ucapku dengan nada canda.

Betapa malu dan sedihnya saya ketika mendengar lelaki remaja yang menggendongnya sontak menjawab “Ah tidak, dia memang dari lumpuh begitu, tidak bisa di kasih lurus kaki dan tangannya seperti orang normal,” katanya. Anak malang berjenis kelamin perempuan itu, kondisinya sangat memprihatinkan. Badannya kurus seperti kulit bungkus tulang.  Bertahun-tahun, ia hanya bisa terbaring kaku di tempat tidurnya. Ketika ia melihat saya dan teman datang, sorot matanya tampak semangat, lantas melempar senyuman. 

Menurut remaja tersebut yang merupakan kakak sepupunya dari keluarga ayahnya, Cyntia sakit hingga lumpuh dialaminya sejak 9 tahun lalu.  Saat itu ia mengalami panas tinggi namun tidak dibawa ke dokter untuk mendapatkan penanganan medis. Akibatnya fatal, Cyntia mengalami kelumpuhan hingga saat ini. Kondisi tersebut berpengaruh pada pertumbuhan fisiknya yang melambat usai musibah tersebut, apalagi di tengah kondisi keterbatasan ekonomi keluarga.

Cyntia pernah diobati saat berumur 5 tahun, namun hanya sekali itu saja, tak diteruskan untuk mendapatkan kesembuhan total, karena kondisi ekonomi keluarganya. Kondisinya sangat memprihatinkan, ia terlihat seperti anak yang kekurangan asupan gizi. Cyntia memiliki saudara kembar bernama Sinta, serta ada juga kakak perempuan. Mereka 3 bersaudara. Namun malangnya, Cyntia dan saudaranya harus terpisah karena mereka ditinggalkan kedua orang tuanya sejak ia berusia 1 tahun. Kini, Cyntia bahkan tak tahu rupa wajah kedua orang tuanya. Sungguh kasihan nasib Cyntia yang malang.

Menurut kakak sepupunya bernama Lucas, selama ini dirinya tidak memberikan informasi kepada pemerintah tentang kondisi adiknya karena tidak mengerti akan prosesnya. Kemudian tidak ada pengobatan medis baik di puskesmas maupun rumah sakit. Tampaknya faktor ekonomi yang membuat mereka tidak berani mengantarkan ke puskesmas dan rumah sakit.

Lucas mengatakan, saat ayah dan ibunya Cyntia meninggalkan anak-anaknya, Cyntia keadaannya baik-baik saja. Namun pada usai 1 tahun, ia mendapatkan panas tinggi. Yang merawat Cyntia adalah neneknya, sementara saudara kembarnya dan kakak perempuannya bersama tantenya. Bertahun-tahun neneknya merawat Cyntia, sampai pada saat neneknya jatuh sakit hingga tak bisa berjalan. Neneknya yang berusia 60 tahun lebih itu, kendati sakit terus mengurus Cyntia. Sayangnya, Tuhan berkendak lain, neneknya meninggalkan Cyntia cantik nan malang untuk selama-lamanya. Saat neneknya meninggal, Cyntia berusia 7 tahun, membuat Cyntia sangat bersedih. Ia kemudian dirawat tantenya dan kakak-kakak sepupunya.

Sekitar setengah jam kemudian, saudara kembar Cyntia dan kakaknya, datang bersamaan. Saya meminta saudara kembarnya dan kakaknya duduk di samping Cyntia, namun kakaknya enggan, lalu berlalu pergi. Kembarannya, kemudian duduk dan mengecup kening Cyntia. Seketika itu, Cyntia tertawa gembira, suaranya meninggi karena senang. Ia tidak dapat berbicara dengan jelas, hanya bisa memanggil “mama,,mama,,” kata itu kerap keluar dari mulut manisnya. Tapi ketika adik kembarnya mengecup keningnya, ia lalu memanggi “adik,,adik,,” walau tidak begitu jelas kedengarannya tapi maksudnya bisa dipahami.

Saya dan rekan serta kakak sepupunya mencoba menghibur Cyntia, gadis belia nan cantik tersebut dengan menyanyi lagu “tepuk tangan” dan memberikannya makanan roti dan meminumkannya, ia nampak senang dan bahagia sekali.   “Yaa Allah terima kasih atas anugerah-Mu kepada yang kami yang kerap kali lupa mengucap syukur pada-Mu. Dan berikanlah kesembuhan kepada adik Cyntia dan ketuklah pintu hati kedua orang tuanya agar merawat Cyntia dengan baik. Dan semoga pemerintah bisa memberikan fasilitas kesehatan bagi Cyntia, Aamiin,” ucap saya dalam ­hati.

Lucas, kakak sepepunya Cyntia berharap ada perhatian dari pemerintah dan ada bantuan pengobatan gratis dari pemerintah, ada uluran tangan kasih dari siapapun untuk kesembuhan adik Cyntia. “Dari semenjak nenek meninggal, saya dan mama yang rawat karena orang tuanya sudah pergi dan tidak mau bertanggung jawab lagi. Pernah dibawa ke puskesmas tapi cuma satu kali saja. Kami harap pemerintah bisa lihat dan bisa membantu adik kami,” ucap Lucas.

Sekitar satu jam lamanya kami menemani Cyntia, tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Kami pun pamit dengan dengan hati yang pilu, tak kuasa melihat kondisi Cyntia yang begitu bersemangat untuk sembuh demi seperti anak-anak lainnya.  Sungguh miris, di tengah Kota Sorong yang digadang-gadang sebagai kota termaju di tanah Papua ini, kita masih menyaksikan kondisi yang memprihatikan seperti ini. (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed